[REVIEW] Hasil Bacaan Atas Buku “The Realist Novel” Dennis Walder

Oleh: Safik Yahida

Ada kesan tersendiri ketika saya berhadapan dengan buku Dennis Walder yang berjudul The Realist Novel. Sesuai dengan judulnya, sang penulis memaparkan beberapa kumpulan tulisan ihwal genre novel-novel realis dunia. Jika ditelaah kembali nyatanya jenis buku ini memang semacam kumpulan kritik terhadap karya-karya besar dunia. Pada kata pengantarnya, Walder menekankan bahwa buku ini merupakan jenis buku kritik sastra yang tidak hanya berkutat dengan teori-teori canggih yang berkembang dari zaman ke zaman. Tapi lebih kepada tataran praktis kritik sastra itu sendiri yang langsung menohok pada keutuhan teks sebagai sebuah objek yang hendak dibedah oleh para apresiator atau para pembacanya.

Pendekatan yang digunakan dalam buku ini terdiri dari pendekatan yang klasik dan yang familiar pada zaman mutakhir ini. Pendekatan tersebut meliputi masalah-masalah elementer ihwal jenis-jenis karya sastra, atau dengan kata lain melingkupi pengklasifikasian genre-genre karya sastra. Genre bisa dilihat dari karakteristik formal dan konteks historis yang menjadi latar belakang terlahirnya suatu karya sastra. Menurut Walder, kritik sastra dalam buku ini lebih menekankan pada dimensi atau unsur historis suatu karya sastra. Pendekatan ini tentu saja merupakan pendekatan yang paling logis untuk dipakai dalam menelaah karya-karya atau novel yang bergenre realis. Pada awal abad ke-19, genre-genre novel realis menjadi begitu booming, terutama pada jenis sastra-sastra inggris.

Dalam buku ini terdapat dua bagian yang di mana bagian pertama berisi tujuh bab: the genre approach, reading Pride and Prejudice, reading Frankenstein, the novel and the society, reading Great Expectation, reading Father and Son, dan can realist novel survive? Sedangkan untuk bagian kedua terdiri dari : realism and romanticism, realism and the novel form, Jean Austin and the war of ideas, the English novel, the realistic imagination, on Great Expectation, the reality effect, toward the methodology for the study of the novel.

Pada bab pertama, the genre approach, Walder memaparkan ihwal perkembangan kritik sastra di Eropa semenjak zaman Yunani yang digawangi oleh filsuf besar Aristoteles dengan Poetica-nya pada abad ke empat sebelum masehi. Menurut Walder Aristoteles-lah yang menjadi tonggak pertama yang menjadi awal perkembangan kritik sastra termasuk pendekatakan terhadap sebuah karya sastra. Pendekatan sastra yang dilakukan pada masa itu adalah dengan menganalisa sebuah tragedi. Sebuah tragedi dalam cerita merupakan representasi dari drama kehidupan dari manusia sendiri. Di dalamnya terdapat sebuah ketakutan dan rasa iba yang menimbulkan efek emosi tertentu pada manusia. Dalam tragedi terdapat struktur yang wajib ada. Struktur tersebut terdiri dari permulaan (beginning), pertengahan (middle) dan akhir (end). Ketiga struktur baku tersebut akan ditambah dengan sebuah plot serta karakter-karakter yang menerjemahkan cerita tersebut.

Bab kedua, reading Pride and Prejudice, yang ditulis oleh Pam Morris. Ia mengidentifikasi cirri-ciri sebuah novel dari bagaimana penggambaran karakter tiap individunya dalam dunia sejarah dan geografisnya. Menurut Morris, seorang novelis haruslah mampu membangun perasaan karakternya sebagai suatu identitas kesadaran melalui durasi dalam waktu. Lalu, kemudian seorang novelis pun harus mampu menunjukkan adanya perubahan identitas karakter tersebut yang dipengaruhi oleh dunia moral dan sosialnya. Tiap-tiap perubahan identitas dari tiap karakter inilah yang merupakan komponen penting dalam novel-novel realis. Jika aspek-aspek sejarah perubahan dalam diri karakter itu tak nampak, maka tentu saja hal itu akan terasa aneh bagi novel realis yang mengacu pada realitas yang logis. Dalam novel realis setiap karakter yang dihadirkan pengarangnya merupakan refresentasi dari manusia faktual. Interaksi yang terjalin di dalamnya akan sangat terasa nyata seperti halnya hubungan sosial dalam dunia sebenarnya. Namun dalam roman dan cerita-cerita peri, adanya perubahan direpresentasikan ke dalam suatu transformasi magis dan serta-merta, semisal seorang perempuan miskin yang tiba-tiba menjadi putri, atau seekor kodok yang menjadi seorang pengeran.

Dalam novel Pride and Prejudice-nya Jane Austin, realis itu ditujukkan dengan interaksi otentik dunia sosial karakternya. Pada bab pertama pembaca akan diberikan kesan yang baik mengenai kecerdikan gaya narasi Austin. Gaya ironis pengarang yang satu ini dibuka dengan kalimat-kalimat brilian. Semisal dalam kutipan berikut ini: ‘it is a truth universally acknowledge, that a single man in possession of a good fortune, must be in wife’ (1990, hal1). dalam novel ini, penceritaan dituturkan oleh orang ketiga atau sudut pandang orang ketiga. Konstruksi artistic novel ini menjadi suatu bagian integral dalam narasi penceritaan tersebut. meskipun narratornya bukan karakter yang terdapat dalam novel tersebut, namun narasi yang diutarakan oleh narrator seolah menjadi tak terlihat karena porsi penceritaan atau dialog antar karakter lebih mendominasi penceritaan dalam karya Austin yang satu ini.

Sedangkan dalam novel Frankenstein karya Shelley, dunia realis itu dikombinasikan dengan hal-hal yang berbau horror atau gothic. Frankenstein merupakan judul sekaligus nama mahluk yang diciptakan oleh tokoh utama di dalamnya. Di dalam novel tersebut, digambarkan sebuah hubungan sosial yang tadinya begitu normal sebagaimana cerita-cerita realis lainnya. Namun, pembaca akan dibuat agak sedikit terkejut dengan hadirnya sosok mahluk cipataan yang menakutkan yang tak biasa hadir dalam karya-karya realis lainnya. Hal serba memungkinkan dihadirkan dalam cerita yang tadinya begitu dianggap sederhana. Namun gaya Shelley dalam menggambarkan imajinasinya yang liar, cukup sukses membelokkan kesan pembaca tersebut. Walhasil, sosok Frankenstein menjadi tokoh yang begitu melegenda hingga menembus zamannya.

Dalam bab novel and the society dibahas mengenai pandangan-pandangan kritikus besar semisal F.R Leavis dan Raymon Williams. Kedua kritikus tersebut menekankan ihwal pentingnya hubungan antara novel–novel realis dengan kehidupan atau masyarakat, dan bagaimana cara memahami hubungan kedua hal tersebut. kritikus lainnya, George Levine, menganggap bahwa hubungan novel realis dengan kehidupan faktual, yakni novel tersebut memberikan sebuah gambaran pada masyarakat nyata dengan memberikan wujud perspektif realitas yang begitu liberal atau bebas. Dikatakan liberal, karena kehidupan faktual yang menjadi titik tolak cerita akan dikombinasikan dengan imajinasi pengarangnya yang sangat bebas dan liar.

Novel selanjutnya yang menjadi pembahasan dalam novel ini adalah karya Charles Dickens yang berjudul Great Expectation. Dalam buku Realist Novel karya Dickens yang satu ini dikategorisasikan sebagai novel yang bergenre realis. Novel ini dianggap contoh novel klasik yang bergenre realis. Di dalamnya termuat sebuah kritik sosial Dickens terhadap suatu keadaan yang semakin terdegradasinya nilai-nilai luhur dalam kehidupan tradisional. Dickens sesolah ingin menguatkan istilah yang sangat terkenal yakni: homo homini lupus (manusia yang memangsa manusia).

Dalam bab keenam, dibahas mengenai karya Ivan Turgenev berjudul Fathers and Sons. Novel ini merupakan salah satu novel terbaik yang dilahirkan dari imanjinasi novelis Rusia. Hal ini menujukkan bahwa realism merupakan fenomena yang terjadi di seluruh Eropa tidak hanya di negara berlambang tiga singa: Inggris. Salah satu cirri yang paling mengesankan dari novel Father and Sons ini adalah bagaimana cara Turgenev mempertautkan pertanyaan-pertanyaan ihwal kepentingan sosial yang susah dijawab dengan penggambaran personalitas seorang individu. Batasan isu-isu dalam cerita tersebut ditutupi secara baik. Dalam cerita tersebut terdapat indikasi yang mengarah pada ketertutupan kejadian-kejadian historis yang timbul pada tingkat perhatian manusia secara universal. Novel ini berbeda dengan kebanyakan novel-novel kontemporer Rusia lainnya karena adanya keterbatasan skala. Novel ini menunjukkan seberapa jauh estetika realis atau pendekatan artistik yang menjadi begitu dominan di luar kebanyakan novel-novel konvensional berbahasa Inggris.

Dalam bab terakhir pada bagian pertama, dibahas ihwal eksistensi novel–novel realis, atau lebih spesifiknya, apakah novel realis bisa bertahan. Pada bab ini Richard Allen dan Denis Walder, membahas mengenai penerbitan novel Afrika, semisal karangan Chinua Achebe yang berjudul Things Fall Apart. Novel Achebe yang satu ini menjadi best seller karena jumlah penjualannya yang melebihi dua juta copy di seluruh negara. Mungkin yang menjadi cerita Achebe ini menarik, karena adanya sebuah campuran antara tradisi lokal Nigeria sendiri dengan tradisi modern yang dibawa oleh penjajahnya. Maka cerita-cerita yang berlatar penjajahan yang notabene realis menjadi menarik untuk dibaca oleh negara-negara lain yang memiliki pengalaman penjajahan di masa lalu. Selain Achebe, ada juga penulis-penulis dunia yang memilih tulisannya dengan genre realis, semisal, V.S Naipaul, R.K Narayan, Nadine Gordimer, dll.

Pada bagian kedua, dibahas mengenai hubungan antara realism and romance. Kettle memaparkan sejarah hubungan antara novel realis dengan zaman romantic pada abad pertengahan. Dia mengatakan bahwa kemunculan novel realistik adalah sebuah reaksi terhadap aliran romantic. Sehingga dampak dari reaksi tersebut, pada abad ke-17 dan 18 novel-novel banyak yang beralih ke aliran yang realis dan cenderung menentang aliran romantic. Menjamurnya novel-novel beraliran realis merupakan sebuah kritik terhadap gaya hidup yang cenderung Feodal, yang di mana status sosial menjadi masalah yang mengakar kuat dan mengakibatkan berbagai masalah-masalah yang menimpa kelas yang lebih rendah.

Sementara itu, pada bab ketiga Ian Watt membahas ihwal hubungan realisme dan bentuk novel. Menurutnya aliran realisme yang berkembang pada abad ke-17 dan18, berdampak pada bagaiman gagasan realistik yang terjadi di masyarakat kembali diungkapkan dengan gaya yang cenderung dekat dengan logika orang kebanyakan. Yang berbeda dengan aliran romantik, yang cenderung melangit dalam mengungkapkan setiap gejala sosial. Novel menjadi semacam representasi yang terjadi di dalam masyarakat. Hal tersebut tentu saja tidak terlepas dari aliran realisme yang berkembang di Prancis pada saat itu. novel-novel yang berkembang di Prancis cenderung memakai kesusastraan sebagai media korespondensi atas realitas yang terjadi. Walaupun tentu saja, gambarannya tidak akan faktual seperti halnya sebuah koran atau media massa lainnya. Hal ini tidak terlepas dari konsep yang diutarakan oleh Plato yakni mimetik.

Pada bab empat, Marilyn Butler membahasa tentang Jane Austin and the War of Idea. Menurut Butler dalam menulis karyanya, Austin, tidak mengikuti mainstream yang sedang berkembang saat itu, terutama yang sedang berkembang di Prancis, yang disebut dengan Revolusi Prancis. Austin lebih mendasarkan seluruh ide-idenya dalam menulis novel pada ajaran-ajaran moral Kristen.

Di bab kelima, memaparkan telaah mengenai English Novel. Menurutnya perkembangan novel-novel di Inggris tidak terlepas dari perubahan sosial masyarakat pada masa Revolusi Industri, perjuangan demokrasi dan perkembangan pesat kota-kota besar. Salah satunya seperti yang digambarkan oleh Charles Dickens dalam novelnya yang berjudul Dombey and Son. Novel yang sangat inovatif ini muncul beberapa tahun setelah krisis Chartism. Peradaban industri yang berkembang pesat, selain memberikan dampak positif, tapi juga memunculkan beberapa kritik tajam terhadapnya. tatanan masyarkat menjadi tergoyahkan dengan cara berpikir masyarkat yang cenderung menjadi begitu kapitalistik. Dan mengikis norma-norma sosial yang telah ada sejak awal, ketika Revolusi Industri belum terlahir di Inggris. Dalam dunia kesusatran muncul genre-genre novel yang dinggap popular dan ringan. Banyaknya buruh yang bekerja di pabrik menjadikan waktu mereka tersita. Sehingga hal tersebut berpengaruh pada selera baca mereka. maka untuk mengantisifasi perubahan tersebut, maka muncullah novel-novel yang diperuntukkan untuk para buruh; yang secara konten tidak terlalu memberatkan cara menafsirkannya.

George Levine pada bab keenam, membahasa mengenai Realistic Imagination. Menurutnya realisme di Inggris itu merupakan modifikasi dari tradisi moderat yang lebih ramah. Tradisi ini tidak berfokus pada kekacauan masyarkat atau juga pada masalah degradasi dan kemunduran manusia dalam hubungannya dengan determinisme sosial. Namun lebih kepada suatu kondisi yang biasa-biasa saja dan juga lebih merentangkan ide-idenya pada stilistika dan nratifnya, berbagai jenis karya sastra berbau romantic, sensasional dan eksotik.

Di dalam bab ketujuh, Dorothy van Ghent menelaah Great Expectation karya Dickens. Menurutnya lingkungan hidup dari Dickens sangat berpengaruh pada bagaiman ia melukiskan ide-idenya dalam novel. Gejala-gejala terkikisnya nilai tradisional, dehumanisasi manusia, industrialisasi, imperialisme colonial dan eksploitasi manusia menjadi tema yang selalu Dicken sajikan dalam karya-karyanya. Ada dimensi sadism dalam karya yang satu ini. seperti ketika symbol sosial yang secara ekonomi ditentukan oleh keadaan dari jiwa manusia yang seutuhnya diberikan pada sebuah kepuasaan belaka. Sehingga norma-norma kearifan sosial menjadi selalu tersisihkan hingga cenderung terlupakan.

Di bab selanjtunya Edward Said menjelaskan ihwal, culture and imperialism. Menurutnya pengaruh Imperialisme sangat besar terhadap eksistensi kebudayaan sebuah bangsa. Percampuran antar budaya antara budaya yang terjajah (inferior) dan yang menjajah (superior) menjadi kawin silang budaya yang memberikan pengaruhnya masing-masing. Tidak hanya pengaruh pada budaya yang terjajah, tapi yang menjajah pun akan terpengaruh budaya yang dijajah baik secara disadari atau pun tidak.

Pada bab kedelapan, Rolland Barthes membahas ihwal the effect of reality. Menurutnya seorang novelis sama halnya dengan seorang pelukis. Dia membutuhkan objek yang nyata ketika hendak melukiskan kembali objek tersebut. Maka dari itu realitas menjadi benih yang paling inti bagi seorang pengarang untuk menarasikan apa yang dirasakannya, sehingga pengalaman yang dirasakannya itu akan terasa kuat di benak pembacanya.

Pada bab terakhir buku The Realist Novel ini, diuraikan ihwal Toward a methodology for the study of the novel oleh M.M.Bakhtin. menurut Bakhtin, studi mengenai novel sebagai sebuah genre dibedakan oleh kesulitan-kesulitan yang khas. Hal ini disebakan oleh keunikan alamiah dari novel sendiri. Kerangka umum novel itu sangatlah pleksibel. Kita bisa menelaahnya dari berbagai perspektif ilmu budaya dan sosial lainnya. Hal tersebut tidak terlepas dari kompleksitas cerita novel yang menggambarkan kehidupan manusia yang serba kompleks pula.

Dari hasil baca atas buku The Realist Novel ini, saya paling tidak mendapat pencerahan baru ihwal apa dan bagaimana novel-novel realis itu. terlepas dari mungkin ketidakcermatan saya dalam membaca buku ini, tapi paling tidak ada kesan tersendiri memang. Sebagaimana diungkapkan oleh Walder sendiri pada kata pengantarnya, memang buku kritik sastra ini tidak terlalu menekankan pada aspek teoritis yang cenderung memberatkan penafsiran pembacanya. Tapi lebih digiring pada bagaimana sebuah praktik kritik sastra ditinjau dari genealogi perkembangan sejarah aliran realisme sendiri. Memang nyatanya, aliran realisme atau novel realis itu sendiri menjadikan realitas sosial sebagai titik tolaknya. Namun tentu saja, peran imajinasi pengarang yang liar memiliki pengaruh yang cukup kuat, sehingga kesan yang timbul dari pandangan umum tentang sastra sebagai potret kehidupan, menjadi kadang kabur ketika ada hal-hal yang sedikit di luar nalar kebanyakan.

Nampaknya genre novel-novel realis sendiri akan terus eksis seiring berjalannya zaman. Perkembangan pemikiran-pemikiran tidak akan sekaligus membumihanguskan aliran realisme sendiri. Contoh yang lazim mungkin, pada sastra Indonesia sendiri, melalui karya-karya Pramoedya Ananta Toer, di mana nilai-nilai kemanusiaan dipadupadankan dengan nilai-nilai kesejarahan yang kuat. Walhasil, pembaca akan dibawa pada pengalaman kesejarahan dan potret masa lalu yang terasa nyata. Oleh karena itu, novel atau sastra realis tidak akan bisa dilepaskan dari sejarah. Dan nampaknya sastra realis akan tetap eksis untuk mencatat tragedi-tragedi kemanusiaan dari zaman ke zaman.

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 25 July 2014, in REVIEW & RESENSI. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s