[CERPEN] Cerita Tiga Pertanyaan

imagesCerpen: Safik Yahida

“Mama, sebenarnya aku ini anak siapa?” tanya Lukita sambil berteriak.

Kau tahu, pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan paling menyedihkan yang dilontarkan oleh seorang anak manapun. Tapi bagi dirinya, dari dulu pertanyaan itu adalah pertanyaan paling menakutkan yang tak ingin pernah didengarnya. Ia akhirnya mendengar juga pertanyaan yang ditakutinya itu setelah anaknya kini sudah berusia dua puluh tahun. Ia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Lalu air matanya tumpah, mengalir membasahi kedua lesung pipi. Tapi Lukita terus mendesaknya untuk mengucapkan sepatah kata jawaban.

“Kau tak perlu tahu, Nak.” ia berkata sambil terisak.

***

Apakah ia tak akan mendapatkan keturunan? Ya, semenjak dirinya menikah dengan Beni Pavlovich Gurov, seorang lelaki berhidung lancip keturunan Sumatera-Rusia, namun sampai di usia pernikahannya telah menginjak sepuluh tahun, mereka belum dikarunai seorang anak. Ia sudah melakukan berbagai macam cara apapun untuk bisa mendapatkan keturunan, meminum berbagai ramuan penyubur kehamilan, dan memeriksakan diri ke dokter secara medis dan teknis laboratorium, termasuk melalui proses in-vitro. Tapi tetap tidak berhasil.

Kau tahu, ah kau harus mengetahui semua ini, ternyata permasalahan bukan terletak pada dirinya, melainkan pada suaminya yang memiliki kelainan genetis dan tidak memungkinkan mempunyai keturunan. Dengan rasa tak percaya, ia mencoba tetap bersikap tegar. Tapi di dalam perasaan hatinya ada luka lebam bagai disengat ribuan lebah. Ia berpikir pada saat itu rumah tangga bersama suaminya akan berujung pada nasib pahit, sebab tak mungkin ada kebahagiaan semanis madu yang akan mengisi rumah tangganya nanti dengan kehadiran seorang anak.

“Tidak, Ben, kita tak perlu mengadopsi seorang anak!” katanya tegas.

“Kenapa? Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.”

“Tapi aku menginginkan keturunan yang keluar dari rahimku sendiri!” lalu ia pun menitikan air mata. Waktu itu ia berusia 35 tahun. Usia suaminya pun sama―hanya terpaut empat bulan lebih tua darinya.

Sepuluh tahun lalu, ia dipertemukan dengan lelaki itu di sebuah air port. Beni Pavlovich Gurov baru pulang kembali ke Indonesia setelah mengunjungi keluarga ayahnya yang berada di Rusia. Sementara ia, seorang pramugari yang bertugas pada sebuah pesawat yang ditumpangi lelaki itu. Karena kecantikannya melebihi wajah pramugari lain, lelaki itu memberanikan diri menyapanya tatkala berpapasan di bandara.

“Aku menyukai perempuan Indonesia, seperti aku menyukai ibuku.” kata lelaki itu di sebuah pertemuan tak lama setelah pertemuannya di bandara.

“Aku pun sangat kagum padamu karena kau lebih memilih menjadi warga negara Indonesia ketimbang menjadi warga Rusia.” katanya memuji.

“Sebelumnya ayahku pun pernah melakukan hal yang sama denganku.” balas lelaki itu.

Hanya berjarak dua bulan setelah itu, mereka pun menikah.

***

Suatu hari anak gadisnya itu kembali bertanya, “Mama, katakan dengan jujur, sebenarnya aku ini anak siapa?”

Lalu untuk yang kedua kalinya, ia pun kembali menggelengkan kepala. Menghembuskan napas berat sambil memejamkan mata selama beberapa saat. Namun kali ini ia berusaha untuk tidak menitikan air mata seperti halnya minggu kemarin. Ia malah merasa muak mendengar rasa penasaran anak gadisnya itu. Bagaimana tidak, meski ia sudah membayangkan kejadian ini akan terjadi, tapi tidak untuk sekarang. Tidak di saat tiga hari sebelum anaknya akan menikah.

Ah, bayangkanlah olehmu betapa kalutnya perasaan Lukita. Setiap hari selama seminggu terus memikirkan siapa ayah kandungnya. Sebenarnya gadis itu hanya ingin mendengar suatu jawaban pasti. Tak lebih dan tak kurang. Setelah itu Lukita akan berusaha menerima kenyataan dengan perasaan paling sulit mengenai masa lalu ibunya; entah itu seorang perempuan malam, perempuan murahan, bahkan bisa saja ia seorang anak perempuan yang diadopsi oleh ibu dan ayahnya sekarang. Lukita tak peduli pada itu semua dan akan berusaha menerimanya.

“Mama, tiga hari lagi aku akan menikah. Kalau memang benar Papa bukan ayah kandungku, lalu siapa yang akan menjadi wali pernikahanku nanti?” desak Lukita.

Ia masih tetap tak menjawab pertanyaan anaknya itu. Pikirannya tertuju pada suaminya yang kini sedang berada jauh di Yalta, Rusia sana.

***

“Papa, kapan pulang ke Indonesia?” tanya Lukita. “Sepuluh hari lagi aku akan menikah.”

“Lupakan!” bentak lelaki itu lewat telepon, “aku bukan papamu!”

Ada semacam petir yang berdenyar menyambar ujung telinga gadis itu. Ada semacam benda tajam yang merobek melukai hati. “Apa maksud dari perkataan yang barusan kudengar? Kenapa lelaki yang tak pernah kutemui secara langsung tega mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu?” Lukita membatin. “Tak tahukah ia bahwa aku selalu merindukannya melalui foto album kenangan lama yang masih disimpan Mama di laci lemari?” Lukita terus bertanya-tanya dalam hati.

Sudah seminggu gadis itu pernah menelepon ayahnya, dan sudah seminggu pula pertanyaan gadis itu dilontarkan pada ibunya, tapi sampai saat ini ia masih tetap tak memberi jawaban. Ia bingung. Entah jawaban seperti apa yang tepat untuk menjelaskan pada anaknya. Kata macam apa yang pantas untuk memulainya. Ia hanya sanggup menggelengkan kepala beberapa kali. Di dalam kepalanya kembali terngiang pertanyaan paling menyedihkan yang pernah dilontarkan oleh suaminya dua puluh satu tahun lalu.

“Kenapa kau bisa hamil?” suaminya, terkejut seolah tak percaya.

Seandainya kau berada di posisi istri dari lelaki itu, perasaan apa yang akan kau rasakan? Sakit hati? Ya… ketika perempuan lain akan disambut bahagia apabila suaminya mengetahui istrinya sedang mengandung, tapi khusus bagi dirinya, yang ia dapatkan hanyalah perlakuan tak menyenangkan dan rasa curiga sebab ia dituduh telah bergumul dengan lelaki lain. Ah, bukankah lelaki itu telah divonis memiliki kelainan genetis yang tak akan bisa membuahi rahim istrinya?

Kecurigaan suaminya pun berlanjut pada pemecatan mendadak seorang sopir pribadi yang biasa mengantar-jemput apabila ia berangkat kerja ke bandara sebagai pramugari. Kecurigaan suaminya memang bukan tanpa alasan, sebab ia adalah seorang perempuan yang tak mempunyai kedekatan apapun dengan lelaki lain. Hanya dengan sopir itulah ia mempunyai banyak waktu berdua tanpa sepengetahuan suaminya.

“Pasti bayi dalam perutmu hasil sopir itu, iya ‘kan?!” tebak suaminya sambil membentak. Lalu sebuah tangan mendarat dengan kasar tepat di pipi kanannya.

“Kau jangan menuduhku sembarangan. Mana mungkin aku mau dengan sopir itu!” katanya membela diri

Kepalanya tertunduk sambil memainkan lentik jemari tangan. Kebiasaan yang kerap ia lakukan tatkala perasaan gugup melanda. Waktu itu ia hanya berpikir, betapa bodohnya apabila dirinya hamil, sebab dengan kehamilannya bisa membuat suaminya mengetahui bila semua itu melalui hasil pembuahan lelaki lain. Bukan oleh suaminya. Lelaki itu tak akan mungkin merasa bisa membuahi rahimnya.

Bahkan sebelum bayi dalam kandungannya itu lahir, suaminya telah menceraikannya dan memilih tinggal di Yalta, Rusia sana. Dan sampai saat ini tak pernah kembali.

***

“Mama, aku ini anak siapa? Apa benar Papa bukan ayah kandungku?” tanya Lukita, dua hari sebelum akan melangsungkan resepsi pernikahan.

Lalu untuk yang ketiga kalinya, ia kembali menggelengkan kepala. Mau tak mau, cepat atau lambat, ia harus menjelaskan semuanya kepada anak gadisnya itu. Tapi apa kau tahu, sebenarnya itulah jawaban yang bisa ia berikan atas pertanyaan yang paling ditakutinya itu. Gelengan kepala pertanda ia telah menjawab dengan menyedihkan: Ya, lelaki itu bukan ayah kandungmu, Nak!

Tapi apa kau pun tahu, setelah dua puluh satu tahun tak pernah bertemu kembali, akhirnya kemarin sore ia datang ke rumahku menceritakan tentang semua pertanyaan anak gadisnya itu yang sangat sulit ia jawab. Ia memintaku untuk bersedia menghadiri acara pernikahan anaknya nanti. Bahkan bila perlu, aku yang menjadi wali pernikahan. Ah, sampai detik ini, aku tak pernah sekalipun merasa bila gadis itu adalah anakku, sama seperti suaminya yang tak pernah mengakui gadis itu adalah anaknya sendiri.

Bandung, Februari 2014

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 22 July 2014, in CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s