[ANALISIS] Telaah Sederhana Atas Cerpen ‘Sayap-sayap Nephilim’ Karya Ridwan Firdaus

Oleh: Safik Yahida

Ketika pertama kali membaca cerpen ‘Sayap-sayap Nephilim’ karya Ridwan Firdaus, entah kenapa judul itu seolah-olah membawa pikiran saya melayang dan tertuju pada sebuah cerita berbau fantasi; atau pada sebuah nama-nama seperti Harry Potter karangan J.K. Rowling, atau pada hobit Bilbo Baggins, atau pada seorang nenek tukang tenung yang terbang menggunakan sapu, atau pada Tinker Bell seorang peri cantik baik hati, atau para manusia-manusia kerdil atau kurcaci dari negeri dongeng yang berbau khayalan hasil rekaan manusia. Namun dugaan saya itu keliru. Ternyata, Nephilim itu adalah makhluk raksasa yang hidup di zaman purbakala hasil percampuran/perkawinan antara manusia dengan malaikat (Fallan Angel), yang termaktub dalam kitab Henokh: judul kitab yang ditulis oleh Henokh/Nabi Idris, yang juga kakek buyut dari Nabi Nuh.

Di dalam kitab itu telah diceritakan mengenai awal mula terciptanya bangsa Nephilim. Yaitu ketika Tuhan telah menciptakan bangsa manusia, ternyata ada sekelompok malaikat yang bertugas mengawasi manusia yang tinggal di bumi—atau lebih dikenal dengan sebutan The Watcher: malaikat yang membangkang kepada Tuhan dan menurut kitab injil disebut-sebut sebagai setan—yang jatuh cinta kepada perempuan cantik dari golongan manusia. Dan mereka menjadikan perempuan-perempuan itu sebagai istri mereka sampai akhirnya beranak-pinak. Lalu setelah itu mereka menghasilkan sebuah keturunan yang bernama Nephilim.

Maka, setelah mengetahui hal itu, sangat murkalah Tuhan. Akhirnya, para malaikat pembangkang yang menikah dengan perempuan dari golongan manusia itu pun dibuang ke bumi dan tidak diperkenankan lagi kembali mengunjungi surga. Namun jauh dari dugaan, ternyata pertumbuhan bangsa Nephilim di muka bumi malah semakin bertambah banyak dan berperilaku buruk dengan gemar memerangi umat manusia. Kemudian Tuhan memerintahkan Nabi Nuh, dari golongan manusia, untuk membuat sebuah perahu dan setelah itu Tuhan memusnahkan dan menenggelamkan bangsa Nephilim dengan cara mendatangkan air bah besar yang bisa menenggelamkan pucuk gunung.

Bahkan dalam kitab perjanjian lama pun telah dijelaskan bahwa Nephilim bukanlah makhluk-makhluk luar angkasa. Mereka adalah makhluk yang nyata, secara fisik berasal dari hasil persetubuhan antara anak-anak Allah (malaikat) dan anak-anak perempuan manusia (Kejadian 6:1-4).

Membaca cerpen berjudul ‘Sayap-sayap Nephilim’ ini, saya kembali mengingat-ngingat pada salah satu cerpen Koran kompas beberapa waktu lalu yang sempat menimbulkan berbagai polemik di media jejaring sosial karena gaya bertuturnya yang ‘njelimet’ alias membingungkan. Begitu pula dengan cerpen karya Ridwan Firdaus ini: narasinya yang kurang fokus pada sebuah peristiwa, ditambah lagi dengan diperparahnya jalan cerita dan pendeskripsian segala sesuatu seolah terkesan terburu-buru.

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki raksasa dari bangsa Nephilim—tinggi tubuhnya melebihi tingginya atap rumah manusia, bernama Kian. Ia adalah keturunan dari percampuran antara manusia (ibunya) dan malaikat (ayahnya). Selama seumur hidupnya, Kian tidak pernah mengenal sosok ayah kandungnya sendiri. Yang ia ketahui dari cerita ibunya, konon ayahnya adalah seorang malaikat berpangkat jenderal perang gagah berani yang membunuh musuh-musuhnya dengan busur panah.

Karena Kian adalah seorang dari bangsa Nephilim, sebenarnya sudah lama para pemburu dari golongan manusia yang berlomba ingin membunuhnya. Sebab mereka menginginkan bulu sayap bercahaya yang dimiliki Kian pemberian dari ibunya. Dan keinginan mereka untuk merebut bulu sayap bercahaya itu pun bisa terpenuhi apabila ibunya Kian sudah mati. Sebab selama ibunya masih hidup, maka mereka yang berniat akan membunuh Kian-lah yang akan celaka sebab ibunya dilindungi oleh para malaikat setiap waktu.

Klimaks cerita pun berawal ketika ibunya telah mati karena jatuh sakit. Akhirnya, mereka—para pemburu pun berencana akan membunuh Kian si Nephilim itu. Kemudian Kian melarikan diri dan masuk ke dalam hutan. Di akhir perburuan, ketika Kian sudah terpojok dan semua senjata para pemburu itu: anak panah, tombak serta pedang siap diayunkan kearah tubuhnya, tiba-tiba petir menyambar dari arah langit, dan langsung menurunkan hujan yang begitu deras. Hingga akhirnya, terciptalah sebuah banjir besar, dan orang-orang yang memburunya itu berhambur melarikan diri.

Di akhir cerita, tubuh Kian semakin tenggelam dan hanyut akbiat banjir besar itu. Tiba-tiba ia melihat ada sebuah perahu besar yang dinahkodai oleh seorang lelaki suci; Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia-manusia baik hati dan semua makhluk hidup yang tersisa di dunia. Akan tetapi, sampai di penghujung hayatnya, perahu besar itu tidak menyelamatkan nyawanya. Ia malah dituntun oleh ayahnya terbang menuju surga.

Dari sinopsis cerita di atas, Aristoteles mengemukakan bahwa sebuah plot terdiri dari tahap awal (beginning), tahap tengah (middle), dan tahap akhir (end).

Tahap Awal biasanya mengacu kepada tahap perkenalan yang biasanya berisi berbagai hal penting yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya. Misalnya, menunjukan pengenalan latar tempat, suasana, dan waktu terjadinya atau secara garis besar berupa deskripsi setting. Atau bisa juga berupa pengenalan deskripsi si tokoh secara fisik dan perwatakannya. Seperti dalam contoh kalimat pembuka cerpen ini:

“Aku berdiri di depan cermin besar yang teronggok tak terurus di kamar ibu. Memandang jauh ke kedalaman prasangka tentang diriku dan yang berada di sekelilingku. Aku melihat cahaya kecil pernah berpijar menyalak-nyalak di mataku, tapi seakan redup sekarang. Tubuhku yang tinggi besar tak pernah terlihat lebih kerdil seperti ini, seakan cermin ini memiliki kuasa rahasia yang dengannya bisa mengubah tinggi badan seseorang, sesukanya.”

Sebelum seorang pengarang membuat kalimat pembuka sebuah ceritanya, secara otomatis ia telah memilih sudut pandang seperti apa yang akan ia gunakan dalam cerpennya. Apakah akan menggunakan sudut pandang orang pertama, atau sudut pandang orang ketiga. Pemilihan sudut pandang menjadi penting karena akan berhubungan dengan gaya bahasa dan teknik penyajian cerita. Aristoteles menyebutkan, untuk sudut pandang orang pertama (Aku) seperti dalam cerpen ‘Sayap-sayap Nephilim’ ini, pengarang tak mungkin melukiskan peristiwa batin tokoh lain selain si “Aku” serta tak bisa menceritakan segala sesuatu selain apa yang dilihat, didengar dan dirasakan si “Aku”. Bila terjadi sebuah pelanggaran seperti itu, maka kelogisan sebuah cerita patut dipertanyakan. Seperti dalam dialog dalam cerpen ‘Sayap-sayap Nephilim’ seperti ini:

“Mengapa kita tak dari dulu saja mengambilnya?” tanya seseorang dengan ikat kepala yang basah kuyup.

“Bodoh, ibunya masih hidup waktu itu. Tidak mungkin kita merebutnya begitu saja dari tangannya, bisa-bisa kita yang nanti celaka.” Dengan setengah berbisik, dia meneruskan, “Kau tak tahu, ya, ibunya dilindungi oleh banyak malaikat penjaga. Dari fajar sampai sore, dan dari sore sampai fajar, tak henti- hentinya malaikat menjaganya. Berbeda dengan dia, anaknya yang seorang Nephilim itu. Tak ada malaikat yang bakal menjaganya, kau tahu.”

Dialog itu terjadi tatkala pengejaran Kian yang masuk kedalam hutan oleh para pemburu. Yang menjadi pertanyaannya, mengapa si “Aku” yang tak lain ialah Kian sekaligus tokoh utama dalam cerpen ini bisa mendengar percakapan para pemburu? Padahal, mereka bercakap dengan suara pelan sekali alias setengah berbisik. Saya sebutkan lagi: “Bodoh, ibunya masih hidup waktu itu. Tidak mungkin kita merebutnya begitu saja dari tangannya, bisa-bisa kita yang nanti celaka.” Dengan setengah berbisik, dia meneruskan… dst). Tapi mungkin bisa saja si pengarang beralasan bahwa si tokoh utama “Aku’ di sini bisa mendengarnya karena mereka dalam posisi berdekatan. Tapi dengan beberapa narasi seperti ini: “Aku mencoba merubuhkan beberapa pohon, supaya memperlambat orang-orang itu mendekatiku. Tapi pepohonan tak henti- hentinya menangis, setiap aku menebangnya.” Membuktikan bila mereka berjarak cukup jauh, dengan membaca kata “memperlambat orang-orang itu mendekatiku” yang berarti mereka masih jauh. Apalagi sungguh tidak mungkin ketika kondisi psikologis Kian yang dalam sangat ketakutan dikejar para pemburu masih mampu dan mempunyai waktu menguping pembicaraan orang lain. Pasti pikirannya kalut saat itu dan hanya terfokus pada satu titik: lari!.

Tahap Tengah menampilkan peningkatan sebuah konflik yang semakin menegangkan. Yaitu ketika Kian diburu oleh para manusia untuk di bunuh dan ia melarikan diri memasuki sebuah hutan. Namun sayang, si pengarang seakan lupa mendeskripsikan latar tempat yang ada di sini, meski diceritakan berlatar di sebuah kamar ibunya, lalu di hutan, namun tetap tidak begitu jelas letak tepatnya keberadaan kamar; rumah; serta hutan itu? Dugaan saya, apakah berada di daerah Mesopotamia—yang justru disebabkan oleh latar sosial yang ditunjukan secara eksplisit, dan bukan oleh nama tempat itu.

Lalu dari Tahap Akhir cerita ini, yang menjadi pertanyaan saya, kenapa kematian tokoh utama cerpen ini diakhiri dengan diangkatnya ia menuju surga? Mengingat seorang Nephilim tidak diperkenankan oleh Tuhan keberadaannya di muka bumi. Namun justru disinilah hal menarik yang saya dapatkan. Wellek dan Warren mengemukakan bahwa realitas dalam karya fiksi merupakan ilusi kenyataan dan kesan yang meyakinkan yang ditampilkan, namun tidak selalu merupakan kenyataan sehari-hari. Artinya, sebuah karya fiksi merupakan cerita rekaan berbentuk naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah sehingga ia tak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan si pengarang.

Bila mengacu pada konteks sejarah dan agama, sesungguhnya orang-orang yang tenggelam dan yang tidak terselamatkan oleh perahu Nabi Nuh tak lain ialah orang-orang kufur yang dijanjikan oleh Tuhan akan masuk neraka. Namun berbeda dengan cerita dalam cerpen ini. Si pengarang membuat sebuah cerita yang lain, bila Kian, si Nephilim itu ternyata mati tenggelam tak terselamatkan oleh perahu Nabi Nuh tapi dengan kematiannya itu ia malah dituntun menuju singgaana surga. Bahkan, orang suci, dalam hal ini adalah Nabi Nuh pun tersenyum kepadanya ketika Kian diangkat menuju surga. Seolah-olah orang suci itu pun merestui kejadian itu. Semua ini bisa dilihat pada bagian akhir cerita ini: (Aku terbang menujunya. Mengikutinya melayang ke atas, melewati bahtera yang tadi berlayar dengan gagahnya. Seorang suci melihatku sambil tersenyum, tapi aku terus saja melayang mengikuti cahaya itu menuntunku. Sampai aku tidak menyadari, tubuhku yang tergeletak tak bernyawa di dasar lautan, tubuhku yang tergeletak tak bernyawa di dasar kesendirian.)

Dalam karya fiksi, hal semacam itu wajar saja terjadi. Mengingat beberapa alasan-alasan manusiawi, bila si “Kian” bukanlah seorang penjahat yang menyukai peperangan dan pertumpahan darah, bahkan ia sangat menyayangi ibu kandungnya. Kita pun sebagai pembaca dapat saja menerima hal itu sebagai suatu kebenaran yang memang seharusnya terjadi demikian—ia pantas masuk surga. Seolah-olah mitos yang mengatakan surga untuk orang baik dan neraka untuk orang yang tidak baik didobraknya begitu saja. Mungkin disin pula-lah kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tema yang terkandung dalam cerita ini adalah, bahwa tiket untuk menuju surga bukan terletak pada ‘siapa atau dari mana atau seperti apa orang itu”, melainkan terletak pada keridhoan Tuhan. Seperti halnya cerita seorang perempuan penzinah yang dinyatakan memiliki dosa besar namun karena ia memberi air minum kepada seekor anjing dengan ikhlas, akhirnya perempuan itu pun masuk surga.

Begitulah hasil pembacaan saya atas cerpen ‘Sayap-sayap Nephilim’ karya Ridwan Firdaus ini. Meski menurut saya ada beberapa kesalahan, namun itu bukanlah sebuah kesalahan yang fatal. Dan, cerpen ini sesngguhnya cukup berhasil membuat sebuah plot yang padu seperti apa yang dikatakan Aristoteles. Wallahu Alam.

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 31 January 2014, in ANALISIS CERPEN. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. katany dulu jga manusia itu berbadan besar. Sekarang apa nephilim masih ada ya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s