[CERPEN] Ibu yang Menjadi Bayi

Fran_oise_Claude_and_Paloma01_by_Picasso_130cm_X_1_130813090838_ll.jpgCerpen: Safik Yahida

Jika suatu hari nanti aku memutuskan untuk pindah agama, maka aku akan memilih agama yang memercayai bila reinkarnasi itu memang benar adanya. Sudah kupikirkan matang-matang mengenai pilihan yang akan aku ambil ini. Meski ibuku tidak akan merestuinya, akan tetapi aku akan bersikeras melakukannya.

Aku tahu bila surga bersemayam di telapak kaki ibu. Harumnya meruap pada setiap kuncup-kuncup melati dan bening embun pagi. Memberikan kesegaran ke segala arah penjuru dunia. Menyebarkan rasa kenyamanan pada seorang anak yang berada di bawah kasih sayangnya. Dan aku pun tahu untuk bisa membuka pintu masuk surga, salah satu kuncinya berada pada keikhlasan hati ibu.

Sesungguhnya, aku telah lelah berdoa. Setiap malam mengirim ribuan doa yang tak pernah lupa kupanjatkan. Bahkan doa-doa itu tak pernah untukku sendiri, melainkan untuk kesehatan dan kebahagiaan ibuku. Namun ia masih tetap seperti itu; terbaring lumpuh di atas kasur dengan tubuh yang kaku. Seolah-olah doa itu tak pernah sampai kepadaNya. Oleh sebab itulah, aku ingin bereinkarnasi. Aku ingin mati dan kembali memulai kehidupan yang baru di dunia ini dari awal. Bila itu terjadi, aku ingin menikah dengan seorang lelaki yang segala sesuatunya mirip dengan Ayah. Hanya ia satu-satunya lelaki terbaik yang pernah kutemui.

Setelah itu, aku berharap kami akan dikaruniai seorang anak perempuan: ibuku. Aku ingin melahirkannya seperti ia pernah melahirkanku. Lalu aku akan menyayanginya seperti ia pernah menyayangiku sewaktu kecil dulu. Sekadar untuk bisa membalas kasih sayang yang pernah ia berikan.

Akan tetapi setelah kejadian menyedihkan sebulan yang lalu, ketika tubuh renta ibuku ambruk terserang penyakit stroke ganas, aku tidak ingin segera mengakhiri kehidupan ini. Di usia ibuku yang sudah mencapai 65 tahun, tubuh ibuku mengalami lumpuh total tak mampu bergerak dan hanya aku yang bersedia merawatnya. Sementara ke dua kakak kandungku, mereka terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya dan seakan-akan telah mengacuhkan Ibu.

“Rena, bagaimana kondisi Ibu sekarang?” tanya Ruli, kakak lelaki pertamaku kemarin malam. Suaranya terdengar berat. Waktu itu kami berbicara lewat telepon.

Ia kini berumur 37 tahun dan tinggal di Amerika. Menjalani rumah tangga dengan wanita penduduk asli sana dan telah mempunyai sepasang anak kembar.

“Memburuk,” kataku. “Akibat penyakit stroke-nya itu, kini Ibu lumpuh dan seharian hanya terbaring di kasur mirip mayat hidup.”

“Ren, tolong katakan maapku pada Ibu. Untuk sementara ini aku masih belum bisa pulang ke Indonesia.” katanya lagi.

Sebenarnya sudah dua kali pernyataan maap itu ia lontarkan, tapi tak pernah sekalipun kusampaikan kepada Ibu. Aku tak tega. Tak tahu harus dengan kata macam apa untuk memulainya. Di saat melihat mata Ibu yang berkaca-kaca, aku yakin bila Ibu sangat merindukan seluruh anak-anaknya untuk merawat atau paling tidak datang menjenguknya.

“Kemarin Ruli menelpon, katanya tak lama lagi ia akan pulang ke Indonesia.” kataku membohongi Ibu yang terbaring di kasur. Dan Ibu hanya merespon dengan kata-kata yang sulit kutuliskan bentuk kalimatnya, mengingat keadaan mulutnya yang kaku akibat penyakit stroke itu. Tapi aku sangat yakin, bila Ibu tengah mengucapkan rasa bahagianya setelah mendengar ucapanku barusan bila tak lama lagi Ruli akan pulang.

Ah, tentu saja aku tahu bila tak bakalan secepat itu Ruli akan menampakan batang hidungnya di hadapan wajah Ibu. Mengingat pekerjaannya sebagai Reservoir Engineer di perusahaan minyak Chevron, California. Apalagi ia pernah bercerita bila akhir-akhir ini kondisinya tengah sibuk bersama para Geologist menentukan lokasi pengeboran sumur baru dan zona perforasi. Hal itu sama saja akan memperpanjang riwayat rasa kerinduan Ibu padanya. Bahkan menambah daftar catatan dosaku pada Ibu dengan terus melakukan kebohongan.

Satu lagi, Fina, kakak perempuanku yang ke dua, nasibnya pun hampir sama dengan Ruli. Ia selau sibuk mengurusi toko butiknya di Solo. Katanya, keadaan butik saat ini sedang laris manis dikunjungi banyak pelanggan, sungguh sangat disayangkan bila harus tutup hanya sekadar untuk pergi menjenguk Ibu.

Sebenarnya Fina pernah beberapa kali menyempatkan diri untuk menjenguk Ibu. Ia sengaja datang dari Solo ke Bandung beserta suami dan ketiga anak lelakinya yang masih kecil. Anak pertamanya baru berumur sembilan tahun, dan tiap di antara mereka bertiga umurnya berselisih dua tahun.

Sepuluh tahun yang lalu Fina menikah dengan Mas Parmiyin, seorang lelaki pengusaha kain batik asal Solo. Aku masih ingat saat pesta pernikahannya dulu―waktu itu Fina berusia 22 dan aku baru 15 tahun.  Pada saat acara bahagia itu, Ibu begitu banyak menitikan air mata, seolah ia tak rela harus melepas Fina yang berencana akan menjalani kehidupan rumah tangganya di Solo. Namun anehnya, malam harinya Ibu malah mengucap bangga karena telah berhasil menikahkan anak ke duanya itu. Sejak saat itulah, aku mulai menyadari, ternyata tumpahan air mata bukan hanya simbol dari sebuah kesedihan. Bisa saja itu merupakan tanda mengungkapkan kebahagiaan yang sejati.

Lalu berhubung aku satu-satunya anak Ibu yang belum berumah tangga, meski usiaku kini sudah menginjak 25 dan belum memiliki calon suami, di tambah lagi aku seorang perempuan yang tak akan canggung bila harus merawat Ibu, kedua kakakku itu telah mengambil keputusan untuk menitipkan Ibu kepadaku, dan harus memenuhi segala kebutuhannya: mulai dari merawat kehidupan Ibu, menyuapinya makan, menggantikannya baju baru, hingga urusan mengganti pampers lalu membersihkan apabila ia buang air besar. Kurasa, kini Ibu tampak lebih mirip bayi bertubuh rapuh yang tak bisa berbuat apa-apa.

Sungguh, keputusan mereka yang secara sepihak itu telah membuatku merasa dijadikan sebuah korban ketidakadilan. Bayangkan, dalam kehidupanku bukan hanya Ibu saja yang mesti aku urus. Aku pun mempunyai kehidupan sendiri yang patut kujalani. Tapi mereka tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Seolah-olah mereka lupa bahwa dulu Ibu pun pernah merawat mereka ketika masih balita.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Ternyata Ruli kembali menelponku. “Ren, bagaimana kondisi Ibu sekarang? Apakah ada kemajuan?”

“Kenapa tak kaulihat sendiri saja!” aku membentak. “Apa kau gila, Ibu sedang sakit dan kau malah terus-terusan sibuk mencari harta!”

“Aku tahu aku salah, Ren. Tapi kau pun harus mengerti keadaanku sekarang yang tak memungkinkan untuk pulang. Bila kausibuk, kaubisa bergantian merawat Ibu dengan Fina.” kata Ruli enteng. Seolah-olah ucapannya itu adalah jalan terbaik yang dimilikinya untuk menghadapi masalah ini.

“Fina? Tak jauh beda denganmu yang selalu sibuk! Kalian sepertinya lebih mementingkan mencari surga dunia ketimbang surga yang sesungguhnya!” lalu kumatikan percakapan memuakkan lewat telepon itu.

Tapi sial, secara tak sadar, di dalam kamar ternyata Ibu mendengar percakapanku barusan dengan Ruli. Padahal aku melakukannya di beranda rumah. Mungkin karena terlalu meluapnya emosi yang selalu kusimpan rapat-rapat di dalam dada. Sebagaimana lahar panas yang bersemayam di dalam gunung merapi, sehingga tanpa kusadari lahar itu menyemburkan hentakan sebuah suara yang barusan terdengar begitu keras dan jelas.

Seketika itu kusaksikan Ibu langsung menangis. Tubuhnya kurus tak berdaya, serta rambut yang telah memutih, ia bagaikan sedang menanggung penderitaan hidup paling berat. Kurasa, kini ia telah mengetahui bila anak pertamanya itu belum bisa menjenguknya. Sungguh, aku tak menyangka bila masa tua Ibu akan dihabiskan melawan penyakit stroke yang membuatnya menderita. Padahal, belum genap enam bulan ia mengalami kesedihan paling mendalam tatkala ayahku meninggal dunia.

“Rrr…ren…nnna….” kudengar Ibu menyebut namaku secara terbata-bata. “Mmaapkkkan Ibbu, Nak.” ia lalu mencoba menggerakan tangan kanannya yang telah divonis mati total tak bisa kembali bergerak oleh dokter.

Tangannya kini terlihat keriput dipenuhi oleh urat nadi biru menyembul mirip aliran sungai panjang yang tercemar limbah beracun. Tampak jelas pada warna kulitnya yang putih. Tangan yang dahulu kuat dan pernah menggendong tubuhku sewaktu aku kecil dulu, dan justru sekaranglah bergantian aku yang harus merawatnya.

“Ibu jangan banyak pikiran, nanti tensi tekanan darah Ibu melonjak naik lagi,” kataku sambil terisak. Aku khawatir bila banyak memikirkan hal yang macam-macam, Ibu akan kembali mengalami stroke untuk yang kedua kalinya.

Namun sungguh ajaib, mungkin karena terlalu kuatnya keinginan Ibu untuk membelai rambut lurus panjangku, sedikit demi sedikit tangan kanan Ibu mulai bergerak perlahan-lahan mencoba menyentuh wajahku dan mengusap air mataku yang jatuh menderas.

Ibu kemudian tersenyum. Matanya yang keruh sewarna senja menatap pada langit-langit kamar. Seakan-akan di sana ada seseorang yang sedang mengajaknya bicara.

“Lih…hhhat, ayyahmu,” kata Ibu menunjuk ke arah atas pada kekosongan sambil terus tersenyum.

Melihat kelakuan aneh Ibu yang seperti itu, aku jadi teringat pada cerita orang-orang tentang kelakuan bayi yang belum lama dilahirkan. Kata mereka, bila bayi mungil tengah tersenyum, itu artinya bayi itu sedang melihat sosok malaikat melayang di langit-langit kamar. Apakah ibuku pun tengah melihat malaikat?

Seketika itu air mataku tumpah. Sungguh, aku tak ingin bila Ibu akan dijemput malaikat sekarang. Aku belum siap. Aku tak pernah siap. Aku belum memberikan kebahagiaan pada Ibu sepanjang kehidupanku. Kukibaskan kedua tanganku pada udara seperti seseorang yang sedang mengusir seekor nyamuk. Kemudian mengambil pisau yang biasa mengiris kulit buah apel di sisi meja kasur Ibu. Mengarahkannya ke setiap penjuru ruangan sambil mengancam. Berteriak sekuat tenaga untuk mengusir malaikat itu. Tapi Ibu masih saja terus tersenyum. Menyebut nama mendiang ayahku secara terbata-bata.

Ah, Ibu, tak perlu kau menunggu ke dua anakmu untuk berada di sini. Aku pun tak akan menunggu bereinkarnasi dan akan melahirkanmu kembali. Mulai detik ini sudah kuputuskan, aku akan terus menjaga dan merawatmu. Aku tak akan berumah tangga dulu seperti kedua kakakku, takut waktuku terbagi untuk bisa berada di sisimu. Tapi bila kau tak merestuinya, aku akan tetap bersikeras melakukannya.

Sumedang, Desember 2013

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 18 December 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s