[CERPEN] Semacam Dendam, Recana Serangan Balik Seperti Bumerang

shock-2345Cerpen: Safik Yahida

Entah ada hubungan apa antara Gablag dengan perempuan itu. Setiap kali aku menanyakan sampai sejauh mana hubungan mereka, mukanya berubah mengeras dan barulah aku menyadari bahwa Gablag bukan tipikal orang yang terbuka mengenai isi perasaan hatinya. Atau lebih tepatnya, berusaha menjauhi percakapan yang membahas persoalan asmara. Sesungguhnya, aku tidak terlalu peduli akan hal itu; namun terkadang dalam kondisi terdesak ia justru datang dengan sendirinya menceritakan semuanya kepadaku.

Belakangan ini kuketahui perempuan itu bernama Lukita―usianya dua lima, lebih tua dua tahun dari Gablag. Ia mengenal perempuan itu ketika diperkenalkan oleh salah seorang teman sekelas di akhir tahun perkuliahannya. Sejak saat itulah untuk pertama kali dalam kiprah percintaannya, ia mengaku telah dihinggapi perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aku tak tahu apakah pada saat itu mata Gablag mendadak katarak, atau pertemuannya dilangsungkan pada malam hari sehinga pandangannya sedikit kabur, atau bisa jadi ia terkena hipnotis karena sampai saat ini ia masih memikirkan perempuan semacam itu. Sebab menurut seleraku, wajah Lukita biasa saja, tak ada suatu hal yang menarik dengan bibir tebal seperti kue donat dan hidungnya melesak ke dalam sedikit bengkok, seolah wajahnya baru saja menabrak sesuatu. Serta memiliki bekas luka di kening berbentuk bulat dan berwarna coklat. Aku benar-benar yakin, ia pernah menabrak sesuatu atau pernah terjatuh dari ketinggian dengan wajah mendarat duluan di tanah. Tak sebanding dengan wajah Gablag yang cukup menawan, serta memiliki tinggi tubuh sempurna untuk ukuran seorang lelaki.

“Meski dia berperawakan pendek dan tampak mirip kucing koreng,” ucap Gablag beberapa waktu yang lalu, “itu lebih baik karena hanya sekadar mirip. Ia tetap lebih cantik dibandingkan wajah kucing anggora sekalipun.”

Ia kembali melanjutkan ucapannya, “Kautahu? Hal itu bukan masalah. Ia memiliki tubuh yang montok. Tinggal ditempeli poster wajah artis cantik tepat di bagian wajahnya, si kucing koreng itu akan berubah menjadi singa betina.”

Aku begitu tercengang bila ternyata perempuan semacam itulah yang telah membuat kesombongan Gablag berubah total. Ia kini menjadi seorang pemurung, menghabiskan separuh waktunya menyendiri membaca novel di manapun ia berada, sampai akhirnya ia terpaksa harus membiasakan diri memakai kacamata. Mungkin Gablag merasa terhanyut seolah-olah kehidupannya tak jauh beda dengan hasil cerita bacaannya. Namun ternyata dugaan itu keliru karena ia lantas membenci kepada setiap perempuan, sedangkan ia gemar membaca novel misteri pembunuhan.

Selama setengah tahun kedekatannya bersama ‘singa betina jadi-jadian’ itu, sebenarnya Gablag berniat akan meninggalkan perempuan itu untuk sementara waktu, atau mungkin sebenarnya ingin menunjukan kesombongannya kepada setiap perempuan bila ia bukan lelaki murahan yang gampang jatuh cinta.

“Terkadang kau harus meninggalkan seseorang yang kaucintai, untuk memastikan apakah ia akan meninggalkanmu juga ataukah akan berbalik mengejarmu,” kata Gablag suatu saat kepadaku. Namun setelah kukorek kembali beberapa fakta akurat, ternyata perempuan itu begitu mengekang dan suka mengeksploitasi. Apalagi ketika Gablag diminta untuk berhenti merokok. Sebagai pecandu nikotin berat, tentu saja ia menolak permintaan itu secara mentah-mentah.

Mungkin di situlah awal mula puncak kebenciannya kepada perempuan. Kehidupannya hampir sepenuhnya telah dikuasai orang lain. Sementara di waktu lain, ia malah merindukan perhatian berlebih itu dan menyesali sifat keras kepalanya yang berakibat ia menderita penyakit paru-paru. Dan seandainya dulu ia mau mendengarkan nasihat perempuan itu, bila menjaga kesehatan dan mencegah penyakit jauh lebih baik ketimbang mengobati, pasti ia tak akan jatuh sakit dan akan terus merokok sampai ia terbaring sakit. Ah, terkadang sifat egois selalu menutupi mata hati untuk kebaikan diri sendiri.

Tak lama kemudian, ia pun bertekad bulat akan mencintai perempuan itu untuk selama-lamanya. Sebagai balasannya, ia malah menerima sebuah kejutan paling menyedihkan bila ternyata sebelum ia beniat akan meninggalkan perempuan itu, perempuan itu justru terlebih dulu meninggalkannya dan pergi bersama lelaki lain.

“Kenalkan, ini kekasih baruku.” ucap Lukita memperkenalkan lelaki itu kepada Gablag. “Dia ini dulunya merintis karir sebagai seorang penggali kubur, tapi kini telah naik jabatan menjadi seorang pengusaha batu nisan.” lanjut perempuan itu.

Saat itu perasaan Gablag benar-benar terpukul dan merasa telah menjadi korban sebuah pengkhianatan. Perempuan itu pun merasa terpukul karena dulu permintaannya tidak dituruti. Bukan hal yang aneh, sebab pada dasarnya hampir seluruh perempuan memiliki jiwa penjajah untuk menaklukan seorang lelaki dengan cara mengekang. Mereka akan merasa senang bila lelaki akan tunduk pada semua perintahnya. Konon dengan berhasilnya menundukan hati lelaki, si perempuan akan menganggap dirinya sebagai wanita berparas paling cantik di dunia, biarpun semua orang mengatakan bila dirinya mirip kucing koreng.

Akan tetapi yang aneh dari semua itu, Lukita menampakan rasa iba atau turut bersedih ketika Gablag terbaring tak berdaya karena penyakit paru-parunya itu, atau jangan-jangan perempuan itu memang begitu peduli kepada kesehatan Gablag seperti ia memedulikan kesehatannya sendiri.

Sepertinya bukan karena persoalan Gablag menderita penyakit paru-paru lantas perempuan itu tega meninggalkannya. Sebab setelah berangsur pulih dari penyakitnya, Lukita masih menjalin hubungan dengan mantan penggali kubur itu. Ya, lelaki tua yang kutaksir telah berumur setengah abad. Itulah hal paling memalukan dalam sejarah kehidupan Gablag karena ia merasa telah dikalahkan oleh bandot tua.

Lalu, untuk mengobati perasaan patah hatinya, Gablag memutuskan akan melancarkan sebuah serangan balik. Tak lama kemudian proses balas dendam pun direncanakan. Ternyata benar perkataan orang-orang, bahwa cinta dan benci itu dua hal berbeda namun tak bisa terpisahkan. Jangan terlalu mencintai seseorang nanti kau akan berbalik membencinya, begitu yang mereka katakan. Tapi menurutku, hanya cinta yang akan menghapuskan semua perasaan benci di dunia.

Ia lantas memikirkan hal apa yang bisa membuat perempuan itu kembali memberikan perhatian kepadanya, seperti perhatian berlebih di waktu lalu yang ingin ia nikmati kembali. Kemudian aku memberinya sebuah ide. “Biasanya perempuan selalu merasa senang bila dibuatkan puisi.” kataku. Ia pun lantas membuat sebuah puisi cinta.

Puisi itu ia tuliskan pada selembar kertas berwarna merah muda. Setelah berhasil menulisnya, ia beri judul “Menyusuri Lorong Kesunyian”, karena memang pada dasarnya menjalani hidup tanpa kehadiran Lukita adalah kehampaan, kata Gablag bercerita. Mengetahui bila judul puisinya seperti itu, aku lantas membayangkan sebuah kisah percintaan teraneh antara Gablag seekor tikus got di lorong-lorong gelap yang mencintai Lukita seekor kucing koreng.

Bahkan ketika Lukita membaca puisi itu, ia mengaku tak ada bedanya dengan membaca lirik lagu band beraliran melayu. Tak ada bahasa metafor atau perumpamaan. Hanya kata-kata “aku sayang kamu, aku rindu kamu, aku cinta kamu oh sayangku” yang terus diulang-ulang. Gablag lalu menyadari, bila dirinya hanya lelaki sombong yang tak mempunyai potensi apapun dalam urusan memikat hati perempuan.

Mengingat selama ini bila dirinya tidak memiliki kemampuan seperti itu, ia berbalik menjadi orang paling rendah diri dan berusaha menyenangkan hati perempuan yang dicintainya supaya bisa tersenyum kepadanya. Apabila ia berhasil mendapatkan Lukita kembali, ia berencana akan meninggalkan Lukita seperti ia ditinggalkan perempuan itu dan pasti akan membuat perasaan perempuan itu patah hati. Bila rencananya berhasil, ia akan bahagia dan bisa melupakan rasa patah hatinya.

Ia ingat, selain puisi, hampir semua perempuan paling menyukai kepada lelaki yang bisa memberikan kenyamanan pada diri mereka. Gablag pun menjadi seseorang murah senyum untuk memberikan kenyamanan kepada Lukita. Tapi seandainya saja boleh kukatakan, ia kini tampak lebih mirip badut menyedihkan yang melawak tanpa ditertawai oleh penonton. Namun apabila ia mati, barulah mereka akan tertawa.

“Aku baru sadar,” ucap Lukita di hadapan banyak orang, “apabila baik hati dan murah senyum, kau tampak lebih feminim dan memiliki jiwa seorang perempuan.”

“Maksudmu?” tanya Gablag.

“Ya, kau hanya berbakat untuk menjadi banci kaleng.” katanya lagi sambil tertawa nyaris dibuat-buat menandakan bahan ledekannya tepat sasaran.

Kukira itu bukan lagi sebuah ledekan, namun menjurus kepada sebuah penghinaan. Entah kenapa hampir semua orang mempunyai argumentasi bahwa sifat baik dan murah senyum hanya pantas dilakukan dan dimiliki oleh perempuan, sedangkan lelaki selalu identik dengan suatu keburukan. Sayangnya, Gablag pun terpengaruh dan meyakini hal itu. Ia menilai apa-apa yang telah dilakukannya adalah hal sia-sia. Ia pun kembali menjadi orang yang angkuh untuk menunjukan kejantanannya.

***

Sesungguhnya, Gablag tidak pernah sekalipun membenci perempuan itu. Ia hanya terlalu mencintainya, sehingga ia tak rela bila perempuan itu dimiliki oleh lelaki lain. Apalagi bila harus dimiliki oleh bandot tua pengusaha batu nisan itu. Ia berjanji, apabila kedua makhluk itu sampai menikah, ia akan bunuh diri dan kuburannya akan dipasangi batu nisan yang dipesan dari si bandot tua.

Tapi itulah yang terjadi. Mereka benar-benar akan menikah. Ia terlanjur mengucap janji untuk bunuh diri dan sepertinya telah menjadi bumerang yang menyerang balik kepadanya.

Lalu ia mengirimkan sebuah pesan singkat melalui ponsel kepada Lukita. “Katakan pada calon suamimu, aku pesan satu batu nisan bertuliskan namaku untuk aku jadikan kado pernikahan kalian nanti.”

“Memangnya kamu mau mati kapan?” Lukita membalas pesan singkatnya.

“Tepat di saat pesta pernikahan kalian berlangsung.” lantas Gablag kembali mengirim pesan singkat lagi. Kali ini ia yakin apa yang dikirimnya adalah sebuah puisi. “Ranjang pengantinmu adalah kuburan bagi hidupku.”

Kemarin pun, ia berkata kepadaku, “Pada saat pesta pernikahan mereka nanti, aku akan memasang bom di tubuhku yang akan meledakan semuanya. Rencana ini seperti ending cerita yang pernah kubaca pada novel misteri pembunuhan.” Gablag pun tersenyum.

Bandung, Desember 2013

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 14 December 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. umi sa'diyah

    Ceritanya seraaam sekali..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s