[NOVEL] Rembulan Di Rahim Dinari (Part I)

girl-before-a-mirrorI
Pagi ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, Dinari menyaksikan sinar matahari yang biasa berwarna perak kekuningan, kini seolah berubah menjadi pekat. Tanpa silau cahaya. Gelap lamat-lamat mulai merambat. Perlahan seakan ingin masuk merasuk-rasuk menusuk mata. Tentu mata Dinari belumlah katarak untuk menebak warna-warna: hitam, putih, merah, kuning, hijau, biru. Warna-warna kesedihan: kelabu, ungu, jingga, merah jingga, awan berkarat, senja di ufuk barat, warna pucat wajah mayat, serta legam darah dan bening air mata. Hanya saja, setelah pengakuannya malam tadi, yang membuat orang tuanya sangat berat hati mengambil keputusan dengan mengatakan bahwa ia sudah tidak dianggap lagi menjadi anak kandung mereka, garis keturunan dari silsilah-slsilah keluarga terdahulunya, sejak itulah Dinari benar-benar percaya tak lama lagi jalan hidupnya akan menempuh perjalanan menuju gerbang kegelapan.

“Apa, kamu hamil!” kedua orang tuanya terkejut secara bersamaan.

“Siapa yang telah merenggut keperawananmu?” tanya ibunya tadi malam dengan nada menggertak. Ngilu suara geraham terdengar gemeretak.

Seisi rumah porak poranda. Meja, kursi, vas bunga, guci antik ukiran naga, pendar layar televisi menyala, figura poto keluarga, juga suara gelas dan piring-piring pecah, semuanya dibanting lalu jatuh mendarat di lantai.Terdengar begitu gaduh terkena buncahan rasa marah dan amukan lemparan ayunan tangan serampangan. Rumah Dinari terdengar bising oleh lolongan jerit yang menyalak dari para penghuni. Dan di luar, malam semakin larut berlayar membentangkan tirai kelam, bulan purnama melayang enam puluh derajat di atas langit. Menebas jarak cakrawala.

Ibunya begitu marah setelah mengetahui bila anak perempuannya tengah bunting. Waktu itu, apa saja benda yang berada di dekatnya, ia banting dengan kasar. Ia mungkin satu-satunya perempuan berumur setengah abad yang mendadak menjadi seorang pegulat pada malam itu. Semua kemarahannya ia lampiaskan pada benda-benda yang kini telah berantakan dan berhamburan bagaikan kapal pecah di dalam rumah. Bagaimana tidak marah, seorang anak yang sudah ia besarkan selama dua puluh tahun, merawatnya sebagaimana kasih sayang tulus seorang ibu, setelah menginjak usia dewasa, bukannya menghidangkan madu sebagai balasan atas jasanya dahulu kala, malah begitu mengecewakannya tanpa ampun sedikitpun. Ia merasa anaknya benar-benar menumpahkan air tuba tepat di depan muka. Menciptakan aib bagi keluarga. Tak pernah sekalipun ia mengajari dan berkeinginan anaknya untuk menjadi seorang perempuan murahan. Hina Dina.

Sedangkan Dinari hanya mampu diam membisu. Dari kakinya yang putih mulus tanpa bulu itu, mengucurkan darah segar terkena lempengan pecahan gelas kaca. Perasaannya hampir skak mat. Takut salah melangkah untuk mencoba menjawab pertanyaan ibunya. Tenggorokannya bergetar begitu hebat menahan tangis yang memaksa meledak dan siap keluar kapan saja. Bibirnya tercekat, masih tertutup rapat. Sedangkan hatinya mencoba mengumpulkan keberanian yang lebih untuk mengatakan sesuatu.

Bibirnya. Oh, bibir merah muda serupa mawar subuh, tampak basah oleh titik-titik embun dan segar udara pagi, berpadu dengan gigi-gigi bersih dan teratur. Teman-temannya selalu bilang, bila ia tergolong perempuan cantik pemilik gigi yang mirip segerombolan anak-anak kambing berbulu putih. Hidungnya pun kecil dan mancung. Seandainya ia terkena flu, pasti lelaki manapun akan jatuh iba padanya.

“Katakanlah, Nak, Ibu mohon kejujuranmu, siapa lelaki yang telah mengambil keperawananmu itu?” pinta ibunya lagi sambil mencengkram bahu Dinari.

Dinari masih terdiam membisu. Beku. Membatu. Terpaku. Kepalanya tertunduk menatap lantai keramik putih bersih. Sehingga di situ ia bisa bercermin. Memandangi wajahnya meski tampak terlihat samar. Menyadari bila raut mukanya mulai menegang. Penuh kebingungan. Hampir sebagian matanya tertutup oleh poni rambutnya yang lurus―rambut yang tergerai seperti surai kuda. Sejujurnya, ia tak mampu menatap sorot tajam mata ibunya yang menghujam.

Ia bingung. Entah seperti apa jawaban yang cocok untuk meleburkan rasa penasaran ibunya itu. Sedangkan ia pun tak tahu siapa lelaki yang pantas untuk bertanggungjawab atas jabang bayi yang sedang dikandungnya sekarang. Fauji, Roni, ataukah Ardian yang tak sengaja kebablasan menanam benih pada rahimnya kala itu? Ia benar-benar tak tahu. Benar-benar lupa, khilaf, dan salah, sebab waktu itu ia tengah melayang tak sadarkan diri dikepung oleh sebuah rasa yang baru pertamakali dirasakan, dan dibombardir menerima puncak kenikmatan dari para lelaki. Waktu itu mereka―Fauji, Roni, dan Ardian mendapat giliran menjamah dan mengukir garis-garis indah pada lekuk tubuhnya. Hingga tak ada satu bagian pun yang tersisa.

“Dinari tak tahu, Bu.” ucap Dinari gemetar memecah kebisuan.

“Tak tahu bagaimana? Masa kamu melakukannya sambil matamu ditutup?” terdengar dari arah lain ayanhnya mulai angkat bicara.

“Apa kamu diperkosa?” ibunya menimpali.

Terkaan berbagai pertanyaan mulai bertubi-tubi menerobos masuk gendang telinga. Akan tetapi, Dinari malah kembali diam memainkan lentik jemarinya.Kebiasaan yang sering ia lakukan tatkala gugup melanda. Sekadar mengobati perasaan gugup di saat mengalami suasana tertekan.

“Jawablah, Nak, siapa orangnya? Nanti biar kita mendatangi keluarga mereka untuk meminta pertanggung jawaban.” bujuk ibunya.

Cahaya lampu neon menyala remang tepat di atas kepala. Menangkupkan mimpi pada malam terpanjang yang sedang ia alami. Dan di hadapannya, kedua orangtuanya memasang wajah mencekam sambil menggebrak sebuah meja. Dinari ingin sekali berontak. Pergi dan kabur dari kepungan interogasi sempat terlintas, namun cepat-cepat niatan bodoh itu ia urungkan. Ia sudah menunggu hari ini dari minggu lalu, hari dimana ia akan menerima dan mendapatkan lemparan kata-kata makian dari orang tuanya seperti ini. Dan ia telah berhasil mengumpulkan keberanian itu meski baru setengah jalan, sebab ia belum berani mengungkapkan siapa saja lelaki yang telah menanam benih di rahimnya.

“Dasar anak bodoh, ditanya malah diam!” terlihat ayahnya mulai naik pitam. Dan dengan gerakan secepat kilat, tangan kanannya telah mendarat tepat di pipi cembung Dinari. Menyambar seperti halilintar disertai kilauan cahaya berwarna merah, kemudian membekas di pipi Dinari.

Dinari tersungkur jatuh. Lalu mencoba bangkit kembali. Tapi ia tak lantas berdiri. Seperti halnya seekor unta melepas lelah di padang gersang, seperti seseorang tengah bersujud: lutut, jari-jari kaki, dan kedua tangannya menempel di lantai, merasakan dingin, lalu Dinari memohon ampun dengan posisi bersujud mengecup kehangatan kaki ibunya. Disitulah meruap harum surga.

“Maapkan Dinari, Bu… Dinari benar-benar tak tahu….” jeritnya mengiba.

“Kenapa bisa tak tahu?”

“Yang melakukan dosa itu, selain Fauji, ada Roni dan Ardian juga,”

“Jadi maksudmu, tubuh kamu ini digilir?” kata ibunya semakin bertambahkaget.

Dinari semakin membenamkan kepalanya.

“Bangsat. Dasar anak tak tahu malu, mau-maunya tidur dengan tiga oranglelaki sekaligus!” ayahnya membentak.

“Dinari minta ampun… Dinari khilaf….”

Mendengar jeritan Dinari, lantas ayahnya menatap lekat-lekat wajah kelabu seorang perempuan yang berdiri di sampingya. Perempuan itu pun beranjak menuju sudut ruangan dengan suara tangis terisak-isak. Dinari benar-benar merasa bersalah telah membuat ibunya menangis terisak dengan lelehan air mata tanpa pernah berhenti mengalir. Baru pertama kali ia melihat ibunya terlihat sesedih itu. Dinari merasa telah menjadi anak paling durhaka di dunia.

Kemudian ayahnya diam sejenak. Mengambil napas dalam-dalam meski terasa berat. Tatapannya menerawang kosong. Tak pernah terbayangkan, bila anaknya akan melakukan perbuatan sekotor ini. Menciptakan aib keluarga dan mau tak mau harus dipikul secara bersama-sama. Padahal, keluarga mereka adalah keluarga terhormat,serta para tetangga pun selalu memandangnya dari keluarga baik-baik. Apa jadinya bila mereka tahu kejadian ini, kehormatan dan nama baik keluarga yang ia jaga akan berbalik arah menampar muka menanggung rasa malu.

Ia tak ingin hal itu terjadi.

Dengan sangat berat hati kemudian ia berujar:

“Mulai besok pagi, jangan pernah sekali-kali menampakan wajahmu lagi dirumah ini!” bentaknya dengan nada penuh emosi. “Kamu bukanlah anak kami lagi!”dilanjutkan dengan intonasi suara yang lebih meninggi.

Dinari hanya tertunduk dengan air mata mengalir di kedua matanya. Bening, serupa bola kristal yang tumpah pada nampan penyesalan. Bukan karena pengakuannya bahwa ia kini tengah mengandung tiga bulan oleh nafsu birahi para lelaki, tapi menyesal telah melakukan pergumulan tanpa pernah ia tahu bagaimana awal mulanya. Bukankah seorang perempuan tak akan mengandung jika tak pernahbergumul?

Satu yang ia inginkan malam tadi, ibunya yang tengah berdiri di sudut ruangan itu untuk sudi memberikannya pembelaan. Bayangkan, seorang perempuan berumur dua puluh tahun sudah luntang-lantung menjadi gelandangan, dengan keadaan perut bengkak membawa bayi dalam kandungan tanpa tahu kemana harus pulang. Tak ada tempat berlindung dan berkeluh-kesah menceritakan arti hidup pada orang tua. Dinari tak ingin nasib tragis itu menimpa dirinya. Ia belum siap bila dianggap menjadi anak yatim piatu. Tidak. Dinari tak akan pernahsiap. Tak pernah sanggup menjadi yatim piatu meski kedua orang tuanya masih hidup, namun enggan mengakui bila mereka adalah orang tuanya.

Dinari memandang dengan wajah penuh penderitaan pada ibunya. Akan tetapi, ibunya itu hanya menangis tersedu sedan seperti mengaminkan perkataan suaminya. Tak ada pembelaan. Tak ada larangan untuk ia meninggalkan rumah besok pagi. Ia pun lantas tersadar, bahwa puncak kekecewaan seorang Ibu adalah merelakan anaknya sesegera mungin angkat kaki dari hadapan tumpahan air mata. Angkat kaki dan tak pernah kembali untuk mengecup tanda kehangatan surga di kakinya.

Oh, rasakanlah apa yang terjadi sekarang: pagi, matahari pagi, semilir angin dingin, embun yang menggantung di pucuk-pucuk daun, bahkan awan kelabu pun berarak seperti rombongan pengantar jenazah, jejak-jejak sejarah para peziarah,cericit burung-burung bagai bernyanyi lagu-lagu kematian.

Dinari berdiri di halaman. Memandang matahari terbit. Lalu memandang belakang, menatap nanar pada rumah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Bayangannya berdiri di depan rumah. Bayangan yang ia ciptakan bersama matahari. Oh, kenapa mesti bayangan yang ada di sana? Sedangkan ia harus pergi. Matahari seakan telah berkhianat. Ia kini benar-benar telah mengawali perjalanannya menempuh gerbang kegelapan.

Rumah. Rumahnya berdiri menghadap matahari terbit, menghadap pada ujungtimur yang jauh, pada kegelapan hatinya. Rumah adalah surga bagi mereka yang tinggal di sana, sedangkan Dinari meminta rumahnya tak perlu menghadapkan muka pada belantara neraka. Ia tak ingin ada satu pun yang akan mengantarnya ke sana.

Di tempat itulah dulu, tak jauh dari tempatnya berdiri mematung, sewaktu kecil Dinari pernah terjatuh dari ketinggian pohon jambu monyet di pekarangan. Kepalanya sempat membentur sebuah batu yang tak jauh dari akar pohon jambu. Dinari kemudian pingsan dengan batok kepala berlumuran darah. Tapi anehnya, ia tidak menangis ketika sadarkan diri, ia malah merasa bahagia karena melihat ibunya menangis mengkhawatirkan kondisinya saat itu.

Itulah awal mula dimana Dinari takut ketinggian. Takut kembali terjatuh. Lalu ibunya mulai melarang Dinari bermain di pohon jambu monyet. Ayunan berbahan kayu yang duluu pernah terpasang di sana pun, kemudian di bongkar dan dialihkanke tempat lain.

“Kamu masih kecil, Nak. Anak yang masih kecil itu dilarang memakan buah pohon itu. Kamu tahu, biji jambu monyet itu terlihat mirip wajah seorang perempuan yang bersedih, Ibu takut kamu bakal menjadi seperti perempuan yang dikutuk,” ucap ibunya dulu.

“Dikutuk, Bu, memangnya perempuan yang dikutuk itu siapa?” tanya Dinari.

“Dulu ada seorang perempuan cantik, namun karena ia pernah menyakiti hati ibunya karena gak mau menerima perjodohan dari ibunya itu, maka ia dikutuk menjadi buah jambu monyet.”

“Ia perempuan durhaka ya, Bu?”

“Begitulah,”

“Tapi kenapa harus dikutuk jadi jambu monyet?”

“Memangnya salah?”

“Kata guru Dinari di sekolah, kalau durhaka pada orang tua bakalan jadi batu,”

“Kalo jadi batu itu untuk laki-laki,”

“Memangnya ada yang pernah dikutuk jadi batu?”

“Ada,”

“Siapa, Bu?”

“Memangnya gurumu di sekolah gak ngasih tahu?”

“Dinari lupa lagi namanya,”

“Orang jauh. Pokoknya ada seorang laki-laki yang dikutuk jadi batu, dan kamu harus percaya, cukup itu saja.”

“Bila Dinari menyakiti hati Ibu, berarti nanti Dinari bakalan dikutuk juga jadi buah jambu monyet? Nanti Dinari gak cantik lagi mirip Ibu dong,”

“Makanya kamu nanti jangan pernah menyakiti hati Ibu. Tuhan juga bilang, kalau surga ada pada keridoan hati Ibu.” ibunya tersenyum mengembang.

Tak terasa, waktu terus merangkak begitu cepat, sudah dua belas tahun kejadian itu berlalu, namun kenangan itu masih terngiang di lubuk hati Dinari. Teringat akan janji bila ia tak akan menyakiti perasaan ibunya yang selalu ia sayangi. Tapi kenyataannya sekarang, janjinya itu telah ia langgar sendiri. Begitupun masa lalu, teramat berharga, tak bisa dibeli dengan harga berapapun untuk sekadar menebus sebuah kesalahan. Hanya menyisakan penyesalan yang melambung setinggi gunung. Ia memang benar-benar takut ketinggian.

Pohon itu hingga sekarang masih tumbuh di pekarangan. Ranum buahnya, lebat dan menggantung dengan posisi biji mengarah ke bawah. Simbol kutukan bagi perempuan keras kepala. Lantas Dinari membayangkan, bila wajahnya akan berubah menjadi buah pohon itu. Kutuk kekal bagi perempuan seperti dirinya.

Sekarang, tibalah bagi Dinari untuk meninggalkan segalanya: keluarga, orangtua, para tetangga, rumah, kampung halamannya, serta seluruh kenangan yang tertinggal di sana.

“Dinari pamit, Bu,” bisiknya lirih hampir tak terdengar.

Ibunya hanya menatap dari balik pintu.

Tanpa ada ucapan selamat tinggal, selamat jalan, atau kalimat perpisahan seperti di film-film perjuangan. Setelah itu, ketika pulang hanya meninggalkan nama pada pusara.

Andaikan nanti ia bisa pulang kembali, ia lebih memilih mati di sini ketimbang hidup di sana dalam bayangan kebencian orang tua. Menjalani hidup pun akan terasa mati.

Ayahnya tetap berada di dalam rumah. Membaca koran pagi, ditemani secangkir kopi. Seolah dipikirannya tanpa ada beban dan masalah. Mungkin ia sudah tak sudi melihat wajah anaknya, meskipun untuk kesempatan yang terakhir.

Dinari melangkahkan kaki dengan sangat perlahan. Kakinya menjejak penuh, merasai dinginnya lantai, rerumputan basah, lalu mendengarkan sunyi suara airdan kecipak ekor ikan yang berenang di dalam kolam pekarangan rumah. Kolam: rumah ikan, rumah bening tanpa warna tanpa rupa, atas sama datar tanpa kehormatan tanpa aib keluarga, juga rumah bermain waktu kecilnya dulu melihati ikan-ikan yang mengembul keluar masuk mengambil udara, mengambil napas kehidupan. Dinari merasakan napasnya begitu berat untuk berhembus. Seperti seseorang sedang sekarat. Seseorang yang didatangi ajal. Kehidupannya sekarang memang sedang sekarat. Hampir mati.

Kematian memang akan datang dalam kehidupan. Bukan lagi mengenai persoalan waktu, melainkan masalah cara kematian itu mewajah di hadapan muka. Semua tak pernah tahu masalah bagaimana kematian itu akan menampakan dirinyadengan cara seperti apa.

Ternyata nasibnya kini tak jauh beda dengan ikan-ikan itu. Ikan yangselalu tinggal di dalam kolam, di dalam rumah, tapi mereka tak pernah tahuseperti apa bentuk rupa kediamannnya, tak pernah tahu seperti apa suasana diluar rumah. Apakah mencekam? Ataukah tentram? Dan itulah saatnya bagi Dinariuntuk mencari tahu sendiri jawabannya di sana, di luar yang entah seperti apasuasananya. Ia pun tak tahu harus pergi kemana.

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 10 November 2013, in NOVEL. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. Bagus. Coba ikuti lomba ini, kawan: http://anekalomba.com/2013/kompetisi-menulis-novel-cerpen-puisi.html

    Sukses selalu!!!

    Like

  2. Terima kasih infonya 🙂

    Like

  3. Menanti kelanjutan ceritanya. 🙂

    Like

  4. Siap lanjutkaaaaaaaaaaaaaaan………

    Like

  5. Rusdy Luis Al Fiaro

    Hade nay uy…

    Like

  6. umi sa'diyah

    Bagus dan menegangkan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s