[CERPEN] Ramalan

painting-portraitCerpen: Safik Yahida

Dimuat di RIMANEWS, 28 Oktober 2013

Entah banyolan apa yang aku alami pagi ini. Setelah selesai mandi, secara tak sengaja aku membaca sebuah ramalan bintang yang ditulis pada sebuah majalah. Ramalan itu menyebutkan, bahwa seorang lelaki berkumis tebal tak lama lagi akan mati mengenaskan dengan kepala bocor tertembak peluru. Timah panas itu akan menancap tamat merenggut nyawanya.

Tiba-tiba saja aku merasa tersindir. Sepertinya ramalan itu dikhususkan untuk seorang lelaki berkumis tebal. Aku pun seorang lelaki berkumis tebal. Bahkan ketebalannya hampir menutupi sebagian mulutku yang sedikit kehitaman.

Usiaku kini genap setengah abad. Lebih tua empat tahun dari istriku. Namun, ia kerap memercayai apa yang disebutkan peramal majalah mengenai masa depan. Bahkan seminggu yang lalu pun ia selalu menangis tersedu-sedu, sebab ramalan bintangnya menyebutkan, bahwa suaminya tak lama lagi akan melakukan bunuh diri. (Sungguh aneh. Apakah aku akan mati bunuh diri atau mati tertembak peluru?).

Karena keanehan itulah aku tidak terlalu memercayai ramalan. Di dunia ini ada ribuan, bahkan jutaan lelaki berkumis tebal. Sungguh mustahil ramalan bintang dari sebuah majalah bisa menjadi kenyataan. Apa mungkin lelaki berkumis tebal di dunia ini akan mati secara serempak tertembak peluru? Konyol. Dan kekonyolan itulah yang membuatku tertawa terbahak-bahak pagi ini.

Majalah itu milik istriku. Dari dulu istriku berlangganan sebuah majalah. Bila telah selesai membacanya, majalah itu selalu ditinggalkannya begitu saja di meja ruang tamu. Tergeletak mirip bangkai yang berlumuran darah. Sampulnya berwarna merah. Menampilkan seorang gadis cantik berambut panjang sedang dipoto dari arah samping sambil berpose membusungkan dada. Wajahnya tampak kaku. Sebab mungkin saja ia dipaksa terus tersenyum ketika pemotretan berlangsung. Namun, tetap saja ia terlihat begitu menggairahkan, dengan mengenakan celana jeans pendek yang ketat. Pahanya terlihat putih mulus dan padat.

Sepertinya itu majalah remaja. Pantas akhir-akhir ini istriku selalu berpenampilan menor. Ternyata ia menyukai bacaan-bacaan seperti itu. Tapi tak apa-apa. Setidaknya, ia kini tampak lebih muda, dan tentunya membuatku semakin bergairah

Tapi, setelah dipikir-pikir kembali, bagaimana bila ramalan itu menjadi kenyataan? Ah, mana mungkin. Kepalaku tak akan bocor gara-gara sebuah ramalan. Bukankah aku ini seorang pembunuh bayaran, yang selalu membunuh para korban dengan cara menembaknya tepat di bagian kepala? Dan semua korbanku itu langsung mati seketika di tempat. Bila mau, aku bisa saja membunuh si pembuat ramalan itu.

Aku mencoba berpikir kembali. Bagaimana bila ia kubunuh saja seperti korbanku terdahulu? Alangkah menyenangkan pastinya bila membunuh orang yang sok tahu tentang hal masa depan, sebab ia telah membuat pikiranku tak tenang.

Lalu sudah kuputuskan, korban berikutnya untuk hari ini adalah si pembuat ramalan itu. Maka, aku harus mencari tahu siapa dirinya dan sedang berada dimana sekarang.

Aku membaca kembali majalah itu. Dari alamat redaksinya dipampang dengan jelas, bahwa ternyata, kantor majalahnya beralamatkan di suatu kota yang tak jauh dari kotaku berada. Tanpa menunggu waktu lama, langsung kupacu mobilku seperti seorang pembalap menuju kota itu.

Istriku tadi tak bertanya perihal mau pergi kemana. Mungkin ia sudah hapal, bila aku meninggalkan rumah, maka kepergianku akan memakan waktu cukup lama. Bisa sampai berhari-hari, bahkan berminggu-minggu lamanya. Ia cuma mengingatkan, “Jauhi tambang atau benda apapun yang identik dengan alat untuk bunuh diri.”

Istriku mengira, aku bekerja di luar kota, sebab aku pernah mengaku berprofesi sebagai buruh bangunan yang berproyek di luar kota selama berbulan-bulanan. Padahal, sebenarnya aku seorang pembunuh bayaran yang diperintah entah oleh siapa. Pekerjaanku hanya tinggal menerima sebuah telepon dari seseorang. Bila ia menyuruhku membunuh, maka aku pun harus menuruti kemauannya itu. Bila tidak, maka aku yang akan dibunuhnya. Ia tipikal orang yang selalu mengancam!

Sepertinya ia orang penting di negeri ini, sebab ia juga selalu menyuruhku untuk membunuh orang-orang penting: mulai dari seorang polisi, pejabat, pengusaha sukses, bahkan seorang hakim yang mengadili dan menghukum para koruptor. Setelah berhasil membunuh mereka, secara otomatis saldo rekeningku bertambah hingga tak terhitung jumlahnya. Tapi untuk misiku kali ini (aku selalu menyebut sebuah rencana pembunuhan adalah sebuah misi), aku tidak akan berperan sebagai pembunuh bayaran. Aku ikhlas membunuh si pembuat ramalan itu secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya.

Ia memang bukan seorang polisi, pejabat, pengusaha sukses, ataupun seorang hakim. Tapi ia telah menyusahkan pikiranku. Setidaknya, ia telah berhasil membuat perasaanku sedikit tak tenang.

Baru juga setengah perjalanan menuju kota tujuanku, tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Dari layar ponselku berderet beberapa angka yang sangat aku hapal. Itu nomor ponsel orang yang selalu menyuruhku membunuh. Ada apa gerangan ia meneleponku? Jangan-jangan ada seseorang yang harus aku bunuh lagi? Tanyaku dalam hati.

Dengan rasa penasaran, kuangkat langsung panggilannya. Dan ternyata benar, ia memang menyuruhku untuk membunuh seorang polisi yang berhasil mengungkap gembong teroris. Meski aku tak pernah bertanya tentang apa sebenarnya kesalahan semua calon korbanku, tapi untuk kali ini aku harus berani menolaknya. Menurutku, membunuh orang yang tak pernah kukenal sebelumnya adalah perbuatan paling konyol. Dan membunuh si pembuat ramalan ini jauh lebih penting.

“Maap Tuan, hari ini aku tidak bisa membunuh orang yang Tuan sebutkan itu. Hari ini aku sedang ada urusan penting.” kataku bernada sopan dan sangat berhati-hati.

“Hey, kau tidak bisa menolak permintaanku!” jawabnya bernada tinggi dan sedikit membentak.

“Sekali lagi maapkan aku Tuan. Hari ini aku sedang ada urusan penting. Sekarang aku sedang berada di luar kota.”

“Lebih penting mana semua itu dengan nyawamu sendiri?”

Aku diam beberapa detik. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku. Ternyata ia menggunakan ancamannya untuk menakutiku. Aku mulai menyadari, tak mungkin bila ia akan membunuhku, sementara aku tak pernah bertatap muka langsung atau mengenal wajah masing-masing. Ia juga tak bakalan tahu tentang keberadaanku sekarang. Bukankah aku sendiri pun tak tahu siapa orang yang menyuruhku ini?

“Sudah aku katakan, aku sedang ada urusan penting. Dan jangan lupa, aku ini seorang pembunuh. Bisa saja aku membunuh Tuan dengan senang hati!” aku langsung menutup pembicaraan yang terasa memuakan itu.

Entah kesurupan setan apa, aku seakan mempunyai keberanian untuk melawannya, lalu memuntahkan kata-kata yang sebenarnya ingin aku katakan dari dulu. Harus kuakui, sebenarnya aku tak ingin membunuh orang yang tak pernah kukenal. Dan, meskipun aku seorang pembunuh, tapi aku juga takut kalau suatu saat aku pun dibunuh, apalagi dibunuh oleh orang yang menyuruhku untuk membunuh.

Tapi aku tidak takut tertangkap bila telah membunuh si pembuat ramalan, karena aku yakin bahwa orang-orang tak akan ada yang tahu kalau aku pelakunya. Harus kuakui, aku selalu berhasil meloloskan diri dan langsung menghilangkan jejak bila telah selesai melaksanakan misiku.

Terkadang aku suka tertawa dalam hati saat melihat acara berita di televisi. Mereka selalu menyebutku dengan sebutan si penembak jitu, atau si pembunuh misterius itu sebentar lagi akan tertangkap secepat mungkin. Ah, jangankan untuk menangkapku, mencari bukti serta motif pembunuhan saja mereka tak sanggup.

Setelah menempuh perjalanan kurang-lebih selama empat jam, akhirnya aku tiba di kota tujuanku. Sebuah kota yang begitu ramai. Penuh sesak. Jalanan macet. Ada banyak gedung-gedung tinggi yang berdiri menantang. Entah kunjungan yang keberapa aku di kota ini. Terakhir kali datang kesini, ketika aku disuruh membunuh seorang hakim bijak yang menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada para koruptor. Dan memang, kebanyakan orang-orang penting negeri ini memilih tinggal di kota ini.

Perjalanan yang cukup panjang. Rasanya lelah sekali. Kuistirahatkan tubuhku sejenak di warung kopi pinggiran jalan. Setelah merasa cukup untuk beristirahat, aku mencoba mengingat kembali alamat majalah itu. Oh ya, disana, tak jauh dari tempatku berdiri sekarang.

Kupacu kembali mobilku. Mobil yang sengaja kubeli dari uang hasil membunuh seorang pejabat. Ini bukan mobil haram. Yang haram itu orang-orang yang menggunakan uangnya dari hasil korupsi!

Jalanan di sini memang macet. Mobilku terjebak kemacetan. Sial. Kuparkirkan saja mobil sialan ini di pinggir jalan. Bila nantinya akan membuat kemacetan semakin bertambah parah sekalipun, aku tak peduli, karena sekarang aku berjalan kaki setengah berlari menuju alamat majalah itu. Dan dugaanku tidak meleset, aku lebih cepat sampai dengan cara berlari ketimbang menggunakan mobil yang terjebak kemacetan.

Alamatnya ternyata berada di sebuah tempat yang sedikit terasing. Mereka hanya menggunakan gedung kecil dan tampak muram. Ah, masalah itu tak perlu kupikirkan. Hanya satu yang perlu kupikirkan untuk saat ini: mencari tahu siapa sebenarnya si pembuat ramalan yang telah membuat pikiranku tak tenang. Tanpa perlu pikir panjang, aku langsung memasuki gedung kecil itu. Kutanyakan di mana si pembuat ramalan itu pada setiap orang yang kutemui, dan mereka memberiku jawaban yang memuaskan. Di sana, ya, di ruangan paling ujung gedung ini.

Sebuah pistol telah siap di balik pinggang celanaku. Kini saatnya untuk memuntahkan kata-kata ramalannya. Hari ini ia yang akan mati dengan kepala bocor berlumuran darah.

Tiba-tiba dering poselku berbunyi kembali. Kulihat layar ponselku dipenuhi deretan nomor orang yang tadi sempat kutolak permintaannya untuk membunuh seseorang. Ah, kenapa di saat menyenangkan sekaligus menegangkan seperti ini ia malah menggangguku.

Kuangkat panggilannya dari ponselku.

“Berani sekali kau datang ke kotaku. Aku sudah tahu di mana lokasimu berada sekarang. Apa urusanmu mengujungi kantor sebuah majalah? Apa itu lebih penting dari nyawamu? Siap-siap saja, orang-orang suruhanku sebentar lagi akan datang untuk membunuhmu!”

Sial! Kenapa ia bisa tahu tentang keberadaanku. Apa jangan-jangan karena tadi ia melihatku berlari menuju tempat ini? Dan kenapa ia bisa mengenali wajahku? Sial! Aku lupa. Aku lupa bahwa ia orang penting di negeri ini. Bukan suatu hal yang sulit baginya untuk mengenali wajahku, bahkan hingga mengorek semua informasi tentangku.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bersikeras membunuh si pembuat ramalan itu? Membunuhnya sama saja dengan bunuh diri. Aku tak punya waktu untuk melarikan diri dari orang-orang yang akan membunuhku setelah membunuhnya.

Bunuh diri. Ya, bunuh diri. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Setidaknya dengan bunuh diri aku tak akan melakukan pekerjaan hina lagi dengan membunuh orang yang tak pernah aku kenal. Bunuh diri adalah membunuh diriku sendiri. Membunuh orang yang sangat aku kenal. Diriku sendiri.

Lalu, sebelum aku menemui si pembuat ramalan, sebuah suara tembakan tiba-tiba mengejutkan semua orang yang berada di gedung. Sebuah peluru telah menancap tamat di kepalaku.

Bandung, September 2013

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 2 October 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Kisahnya bagus dan memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
    Maju terus mas
    Dengan bangga saya mengundang sahabat untuk mengikuti Kontes Unggulan Proyek Monumental Tahun 2014
    Silahkan cek syarat dan ketentuannya di http://abdulcholik.com/2013/11/01/kontes-unggulanproyek-monumental-tahun-2014/

    Salam hangat dari Surabaya

    Like

  2. Makasih pakde. Siap laksanakan 🙂

    Like

  3. Komunitas Sastra Sumedang

    Mantap bung!

    Like

  4. Terima kasih sebelumnya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s