[CERPEN] Deus Vult Crusade

templar_knight_crusaders_in_battle_33Cerpen: Safik Yahida

Dimuat di Radar Sumedang, Minggu, 26 Januari 2104

Siapa yang berani menginjakan kaki di puncak bukit Senlac? Konon, tempat itu telah lama menjadi sarang makhluk halus berwujud perempuan berambut panjang. Apabila kau berkunjung ke desa Urkania yang berada di kaki bukit itu, maka tepat tengah malam, pasti kau akan mendengar jeritan seorang perempuan dari arah puncak bukit yang bisa menggetarkan hati.

Sejak zaman dahulu perempuan itu selalu menjerit di desa kami, bahkan teriakannya bisa terdengar dengan tempo sangat lama dan begitu menggema. Seolah-olah ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum hendak berteriak. Sehingga siapa saja yang baru mendengarnya, niscaya mereka akan mengira pita suara perempuan itu bakalan putus.

Lalu seandainya kau memberanikan diri menghampiri ke arah sumber jeritan itu, tentu saja kau tak akan menemukan siapa-siapa di sana. Di puncak bukit itu, kau hanyaakan menemukan tempat paling menyeramkan yang pernah kau singgahi seumur hidupmu: hutan yang gelap, udara dingin yang bisa membuat bulu kuduk berdiri, rerumputan liar, pepohonan besar, serta suara gesekan daun yang tertiup angin terdengar bagaikan suara cekikikan seorang perempuan.

Akan tetapi, hanya pada malam bulan purnama saja, beberapa penduduk desa pernah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri siapakah orang yang menjerit itu. Tak lain ialah arwah seorang perempuan berambut panjang dengan wajah mengerikan. Wajahnya biru lebam dan dari kedua bola matanya mengucurkan darah segar. Ia menyeringai memerlihatkan giginya yang tajam sambil melayang di udara dengan tubuh hangus terbakar.

Tak lama kemudian, arwah penasaran itu melontarkan sebuah pertanyaan dengan suara parau. “Apa gerangan yang membuatmu datang kemari. Apa kau membawa kabar baik tentang kekasihku?”

Setelah mendengar pengalaman menyeramkan itu, kami pun selalu menceritakan kembali siapa sebenarnya arwah perempuan itu kepada setiap orang yang berkunjung ke desa Urkania.

***

Semuanya bermula ketika perang salib tengah berkecamuk pada akhir abad kesebelas.

Sejak dahulu kala, desa Urkania telah dikenal sebagai pemasok pedang paling tajam serta peralatan perang lainnya. Sorgente, seorang pandai besi paling berbakat pada saat itu, memutuskan berhenti melakoni pekerjaannya dan beralih profesi menjadi petani biasa.

Tentu ia mempunyai sebuah alasan, sebab ia tak ingin terus-menerus hidup menjadi pembuat persenjataan saling membunuh di medan perang. Dalam setengah kehidupannya, ia selalu dihantui mimpi buruk; tubuh kerempengnya dikoyak para korban perang yang mati akibat ketajaman pedang buatannya.

Namun sial, karena terlanjur memutuskan hidup menjadi seorang petani dan orang miskin itulah, ia pun diperintahkan oleh Paus Urbanus II untuk bergabung bersama pasukan khusus petani, melakukan penyerangan besar-besaran terhadap pasukan Turki Seljuk, di bawah pimpinan seorang Rahib bernama Peter The Hermit. Dan mau tidak mau perintah dari seorang Paus tak bisa ditolak.

Meskipun ia mantan seorang pembuat pedang paling handal, ia pergi menuju medan pertempuran tanpa menguasai teknik mengayunkan pedangnya ke arah lawan. Hanya satu yang ia ketahui, tentang bagaimana caranya supaya dirinya bisa bertahan hidup dan melindungi tubuhnya tak terkoyak lawan seperti dalam mimpinya setiap malam.

Ketika ia hendak berangkat, tak ada kalimat perpisahan untuk istrinya seperti kisah-kisah perjuangan dalam cerita rakyat yang ia baca. Barangkali ia bertekad untuk kembali pulang, dan perpisahan biasanya suatu peristiwa menandakan bila seseorang tak mungkin bakalan berjumpa lagi.

Namun adakalanya impian dan tekad kuat tak seperti apa yang diharapkan.

Sejak saat kepergiannya, ia tak pernah kembali untuk melihat bayi perempuan yang lahir dari rahim istrinya empat bulan kemudian.

Bayi itu tumbuh hingga berumur 34 dan selama hidupnya, ia tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Ibunya tak sempat bercerita karena meninggal akibat wabah ganas dan kelaparan berkepanjangan ketika ia masih berumur lima tahun. Akhirnya, Minerva Muscaria, bayi yang kini sudah berumur 23 tahun itu, berhasil hidup menjadi seorang gadis cantik yang dibesarkan oleh keluarga lumayan kaya asal Normandia.

Kecantikannya sebanding dengan kecantikan perempuan separuh dunia. Matanya bening sungai Bistritz, rambutnya tergerai mirip air terjun Moldavia. Ia tak menyia-nyiakan apa yang ia miliki dan telah berhasil membuat Harold, seorang kesatria perang paling pemberani dari kerajaan Inggris, takluk dan jatuh cinta kepadanya ketika mereka bertemu di perbatasan Renfield.

“Apa kau benar-benar jatuh cinta? Perlu kauketahui, aku hanyalah seorang gadis keturunan petani biasa,” ucap Minerva. “Setidaknya, itu yang selalu dikatakan ibu angkatku ketika aku masih kecil.”

“Aku tak peduli soal itu, yang aku lihat sekarang adalah kecantikan wajah seorang putri kerajaan!” Harold mengelak.

Tak ada kata-kata yang bisa melukiskan perasaan Minerva kala itu, sebab diam-diam ia pun sangat mencintainya, bahkan perempuan manapun pasti mempunyai perasaan yang sama seperti Minerva karena lelaki itu seseorang yang mempunyai karismatik tinggi.

Ketika lelaki itu berbicara, orang-orang akan langsung terkesima dengan aksen bahasa yang lembut, atau gaya bertuturnya dalam mengungkapkan segala sesuatu bisa meyakinkan hati seluruh perempuan terhipnotis, membuat mereka secara tidak sadar ingin membekam mulut lelaki itu dengan mulut mereka sendiri. Seolah-olah napasnya menghembuskan aroma anggur Mediaseh, yang menimbulkan rasa menyengat bila berpagut lidah namun memberikan efek birahi yang cukup kuat.

Setelah bergulirnya waktu, tak lama kemudian mereka pun menjalin cinta dan dinobatkan sebagai sepasang kekasih paling serasi abad ke-12. Bayangkan, Minerva seorang perempuan cantik berkulit putih mirip salju yang turun di akhir Desemeber, sementara Harold seorang kesatria gagah berani yang dicintai banyak wanita karena telah membantai ratusan nyawa di tangannya.

Sepulang dari medan perang dengan membawa kemenangan, orang pertama yang ditemui Harold adalah Minerva Muscaria. Ia tak segan memeluk atau mencium atau meremas kekenyalan buah dada perempuan itu di hadapan banyak orang; dada besar yang tampak seperti pegunungan Carpathia yang ditumbuhi aneka bunga.

Dalam kepulangan perang ke tiganya, Harold mengulangi adegan itu lagi: memeluk, mencium dan meremas buah dada. Hingga perang ke empat, ke lima, sampai suatu saat selama enam tahun Minerva menanti kepulangan kekasihnya yang tak kunjung datang.

“Jika nyawamu melayang di medan perang nanti,” bisik Minerva sambil memeluk dan menggesekan puncak dadanya pada Harold mirip kucing menggesekan bulu-bulunya yang halus pada kaki majikan, “aku pun berjanji akan menghabisi nyawaku sendiri dengan senang hati.” lanjutnya bernada getir enam tahun lalu ketika hendak melepaskan kekasihnya berperang menaklukan kota Tyre di Tripoli, meski tak lama setelah itu ia baru menyadari bahwa perang itu akan menjadi pertempuran terakhir bagi kekasihnya.

“Ingatlah!” lanjut Minerva menegaskan. “Bahwa kau berperang atas nama surga.” lalu ia membuat tanda salib dengan khidmat, seperti gambar berwarna merah yang tersulam pada jubah Harold.

Lelaki itu tersenyum. Lantas ia berbicara lantang. “Aku tak ingin mati meski imbalannya adalah surga. Kau tahu, surgaku sudah ada dalam tubuhmu, dan aku akan kembali menikmati surga itu!”

Tiba-tiba saja ingatan Minerva tertuju pada kejadian sehari sebelumnya, di suatu malam bulan purnama ketika tubuhnya ditindih oleh tubuh kekar Harold dalam keadaan mabuk. Di puncak birahi, Harold meracau kalimat yang membuat perasaan Minerva mendadak semakin merindukan kepulangan kekasihnya. Ia mengatakan, bahwa kenikmatan surga tak akan seberapa di banding kenikmatan tubuhnya, dan mungkin ceracauan itulah yang di maksud Harold tentang surga yang ia ucapkan keesokan harinya.

Minerva masih menunggu kekasihnya sambil membesarkan seorang anak perempuan berumur lima tahun yang ia lahirkan sembilan bulan kemudian setelah malam bulan purnama itu. Namun ketika mendengar anaknya menangis kelaparan, hatinya merasakan getir teramat dalam. Ia seakan melihat dirinya sendiri ketika masih berumur lima tahun. Ia membayangkan, mungkin di kemudian hari anaknya itu akan hidup terpuruk seperti dirinya waktu lalu.

Mungkin isi perasaan hatinya tak jauh beda dengan perasaan menggiriskan dan beban hidup mendiang ibunya dahulu; membesarkan seorang anak tanpa kehadiran suami, dan kematian ibunya ia anggap sebagai keberuntungan di tengah kondisi keterpurukan dan kelaparan yang sama-sama sedang ia alami.

Lalu, untuk sekadar menuntaskan penderitaan hidupnya, di puncak bukit Senlac tempat kelahirannya dulu, ia pun memutuskan mengakhiri hidup dengan cara membakar tubuhnya sendiri dengan perasaan bangga, supaya keterpurukan serta kerinduan pada kekasihnya akan segera hilang. Ia merasa apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran, sebab ia telah bersumpah akan menghabisi nyawanya sendiri bila kekasihnya mati di medan perang. Ia menganggap semua itu sebagai tanda sebuah kesetiaan.

Sementara di tempat lain, jauh dari dugaan dan tanpa sepengetahuan Minerva, Harold memulai kehidupan baru bersama seorang perempuan cantik keturunan Yunani yang dihadiahkan oleh Godfrey Sant Omer, seorang veteran perang salib berkat kemenangannya menaklukan kota Tyre.

Sampai terdengar kabar di penghujung hayatnya tahun 1169, Harold tak pernah kembali menemui Minerva dan anak perempuannya yang dibesarkan oleh keluarga baik hati asal Normandia

Itulah kenyataan paling menyakitkan yang selalu diceritakan para penduduk desa Urkania. Kisah cinta dan kesetiaan Minerva kini telah diabadikan menjadi sebuah legenda selama berabad-abad lamanya. Sampai sekarang pun, setiap tengah malam, para penduduk desa Urkania masih mendengar teriakan Minerva Muscaria memanggil-manggil nama kekasihnya.

Bandung, September2013

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 2 October 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. Komunitas Sastra Sumedang

    Mantap bung!

    Like

  2. mantap brow, lanjutkan

    Like

  3. Siap mbak Fhathimha. He

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s