[ANALISIS] Jawara Amor (PATI/TAI) Sebuah Apresiasi terhadap Kunang-Kunang Kematian

kunang2Oleh: Pedi Ahmad

Sumber tulisan: http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/23/jawara-amor-patitai-sebuah-apresiasi-terhadap-kunang-kunang-kematian-444304.html

Kunang-kunang adalah sejenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat saat malam hari, cahaya yang mereka hasilkan adalah cahaya tanpa panas yang dinamakan Luminescence. Luminescence pada tubuh kunangkunang dihasilkan oleh suatu zat bernama Luciferin. Ya itu adalah kunangkunang, namun apa hubungannya dengan cerita yang dibahas pada cerpen Kunang-Kunang Kematian? Secara umum mungkin tidak, namun cerita ini berhasil mengangkat piguran—Pa RT—yang menjadi luar biasa cerdas karena tahu zat dalam perut kunangkunang, juga pernah bertemu dengan makhluk abadi penghuni neraka, Lusifer.Seperti pada beberapa hewan lainnya, kunang-kunang juga memiliki arti penting dalam beberapa legenda dan kebudayaan. Dalam mitologi bangsa Maya, kunangkunang sering dikaitkan dengan bintang. Kunangkunang juga dianggap mewakili utusan dalam kuil-kuil Dewa Maya. Kunangkunang memang mempunyai mitosnya sendiri dalam sebuah tradisi, lalu bagaimana hubungannya dengan Kunang-Kunang Kematian?

Dari sains dan mitologi di muka tersebut, Kunang-Kunang Kematian selintas membaca memang tidak terlalu terkait, mungkin juga tidak ada kaitannya. Kunang-Kunang Kematian memang bercerita tentang kunangkunang, namun dalam suasana Aku—Yadi Jopang—yang sedang mengidap ketakutan, tentu ketakutan yang berujung pada kematian.

Roker juga manusia, Yadi Jopang juga manusia—“jawara” pula—memang punya rasa punya hati, sekali-kali kebal terhadap belati sekali-kali mempan dibacok belati. Jawara adalah salahsatu modus manusia mengada, namun sejauh mana manusia tersebut mampu menghayati kemengadaannya? Ini menjadi pertanyaan yang mesti dirumusulangkan setiap detik. Dengan itu manusia bisa mengikis hal-hal yang bukan bagian dari dirinya. Semakin ia mengikis halhal yang tidak penting dalam hidupnya, maka ia semakin bukan siapasiapa.

Jika Yadi Jopang dalam sekali waktu merasa takut pada kunang-kunang, sekali waktu merasa takut akan Tuhan, mungkin pada waktu tertentu juga akan seperti Sule yang takut pada istrinya—SUSIS. Ya ketakutan juga kehawatiran adalah hal yang lumrah pada setiap manusia, dengan rasa takut seseorang akan berusaha mempertahankan dirinya, seperti itu ucap Sigmund Freud. Belajar kanuragan dengan mantra yang dihapal pun tetap tidak bisa menghindar dari rasa takut, karena semakin belajar seperti itu semakin besar tingkat ketakutannya. Adakah hidup yang tanpa rasa takut? Ada, jawab Jiddu Krishnamurti.

Amorfati, tegas Nietzsche, bentuk keberanian mencintai hidup. Modus menjadi jawara adalah salah satu modus untuk bertahan hidup. Namun apakah bertahan hidup itu harus membiarkan seseorang meninggal? Pentingkah menjadi jawara dengan belajar ilmu kanuragan, sementara teman meninggal dikroyok oleh warga sekampung? Di mana bentuk kejawaraannya? Ahhh, akhirnya harus berani jujur, jangan-jangan jawara hanyalah sebuah sikap kekecewaan akan hidup.

Jika seseorang mencintai hidup semestinya kematian tidak mesti dipikirkan karena itu hadir dalam ruangwaktu, jadi mencintai hidup andalah mencandrai kematian. Amorfati merupakan ekstase akan hidup yang luarbiasa bergairah, tidak loyo, tidak bersembunyi dalam semaksemak saat temannya dihajar masa. Mencintai hidup berarti kita tidak simpuh dengan apapun, dengan mitos kunangkunang, atau sisksa Tuhan—itupun jika ada. Dengan itu seseorang tidak akan ada dalam keterjebakan kemengadaan, karena dia tidak mandek dalam satu pikiran atau satu situasi.

Dalam cerpen Kunang-Kunang Kematian kita akan menemukan seorang jawara yang sangat menghawatirkan hidupnya, karena baru kali ini ada orang yang mengaku jawara terjebak dalam pikirannya, esensialis. Apalagi jika kita melihat latar dalam Kunang-Kunang Kematian yang merupakan berlatar Jawa, tentunya ini sangat memalukan bagi seorang jawara. Jawara yang kecenderungannya amorfati, akhirnya dalam cerita ini harus menjadi jawara yang amortai.

Akhirnya mungkin ini bukan cerita kunangkunang yang menakutkan, atau kunangkunang lucu yang pernah banyak orang tangkap saat mereka kecil. Ini cerita tentang Yadi Jopang, yang mengalami keterjebakan eksistensial.  Sungguh kasihan!

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 20 September 2013, in ANALISIS CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s