[CERPEN] Kutukan Laut

tetCerpen: Safik Yahida

Pada mulanya, Gablag hanyalah seorang laki-laki yang selalu merasa bila dirinya tidak mempunyai potensi sama sekali. Dulu ia pernah menjadi seorang kuli bangunan, mendapatkan proyek tahunan di sekolah dasar yang hampir rubuh, namun ketika ia tertimpa sebuah kesalahan karena tak sanggup memanggul satu sak semen seberat setengah kuintal, sehingga membuat bahu dan tangan kanannya patah, mau tak mau ia harus dilarikan ke rumah sakit. Lalu, mengingat tebakannya yang selalu tepat dan akurat dalam hal menerawang nomor togel yang akan keluar keesokan hari, ia pun beralih profesi menjadi seorang peramal. Tapi, tatkala ia bercermin sebentar di kamar, secara tak sengaja ia malah meramal dirinya sendiri, melihat tubuhnya di dalam cermin itu mati tenggelam di tengah lautan kehabisan napas seperti Fir’aun, seorang raja yang terkenal sangat tamak. Maka ia bersumpah untuk berhenti melakoni pekerjaannya meramal orang-orang―bahkan meramal dirinya sendiri.

Akhirnya, Gablag pun dilanda kebingungan. Serta-merta ia langsung mengutuk Tuhan. Mengangkat telunjuknya setinggi mungkin ke arah langit dengan gerakan menantang, karena setiap apa-apa yang ia kerjakan pasti selalu salah dan berujung pada nasib sial. Alhasil, ia selalu menghabiskan waktunya dengan melamun seharian di kamarnya yang gelap. Tapi entah kenapa, setelah melakukan kebiasaannya menyendiri itu, ia kini malah mengaku telah bersahabat dengan Tuhan.

Dua bulan yang lalu ia pernah berujar kepadaku, bahwa Tuhan telah memberikannya sebuah ilham ke dalam salah satu mimpinya. Ilhamnya itu menerangkan, bila ia harus menyembelih anak laki-laki semata wayangnya untuk dikorbankan kepada Tuhan, agar Tuhan merasa senang, sehingga kutukan sialnya itu akan hilang. Dan tentu perintah Tuhan yang satu ini sukar untuk dilakukan.

Maka Gablag mulai memberanikan diri mencurahkan segala sesuatu yang telah membuatnya galau itu padaku.

“Kau ‘kan belum menikah, bagaimana mungkin bisa mempunyai anak laki-laki.” kataku.

“Sekarang ini statusku adalah seorang utusan Tuhan, sekiranya menculik bocah kecil dan berpura-pura akan aku jadikan anak angkat sepertinya tak bakalan menjadi dosa bagiku. Inget loh, ini perintah Tuhan, siapa yang berani menentang akan diadzab dan mendapat kutukan dunia serta akhirat.” timpalnya bernada serius.

Tak lama kemudian, setelah rencana penculikan itu siap ia laksanakan, ia pun kembali menyendiri dan melamun di dalam kamarnya untuk meminta persetujuan Tuhan. Tiba-tiba ia kembali mendapatkan sebuah ilham yang baru ―bila setelah berhasil menyembelih anak laki-lakinya, ia pun kembali dijanjikan akan mendapatkan imbalan semacam harta karun yang berlimpah di pulau seberang. Tapi syaratnya, ia harus menyembelih anaknya di pulau itu dan harus berjalan kaki tanpa pernah menaiki sebuah perahu menuju tempat itu― owalah, bagaimana caranya supaya ia bisa sampai kesana, sementara lokasinya berada di tengah-tengah lautan. Ternyata perintah dari Tuhan memang sangatlah sulit, selalu membuat dirinya harus berpikir matang-matang terlebih dahulu sebelum bertindak. Ia pun lansung bergegas menuju kamarnya, melakukan ritual yang dianggapnya suci dengan cara melamun kembali.

Entah kenapa Gablag selalu gampang merasa dirinya telah mendapatkan ilham, sebab ia yakin bila dirinya telah mendapatkan suatu pencerahan kembali dari Tuhan.

Berjalan di atas air. Ya, ia harus belajar membuat tubuhnya ringan bagiakan daun kering supaya bisa berjalan di atas permukaan laut. Tapi dengan syarat, ia harus meninggalkan semua masalah yang bersifat duniawi layaknya seorang sufi.

Kini ia mempunyai suatu kebiasaan baru, harus berlatih seharian menahan hawa nafsu dunia, lalu berdiri di dalam bejana berisi air sambil berkomat-kamit merapalkan mantra yang ia pelajari dari ilham tersebut supaya kaki dan tubuhnya bisa mengambang di atas air, seperti halnya seorang ninja yang berlari di atas air yang selalu ia saksikan pada acara film-film kartun.

Namun karena pikirannya selalu terisi oleh rasa penasaran tentang banyaknya jumlah harta karun itu; oleh harta yang bersifat duniawi dan telah membuat nafsunya tamak, maka Gablag pun tidak pernah berhasil menguasai ilmu mustahil itu.

Sebulan yang lalu pun ia pernah kembali bercerita kepadaku, bila dirinya sempat memberanikan diri berjalan di atas empang milik Kiai Ngadimin, berencana mencobai ilmunya itu apakah tubuhnya sudah bisa melayang di atas permukaan air ataukah belum. Namun sial, baru saja kaki kirinya menjejak permukaan empang, tubuhnya langsung tenggelam. Dan, hal lain yang membuatnya tambah sial, ia langsung dipukuli warga sekitar karena tertangkap basah dituduh akan mencuri ikan.

Tubuhnya babak belur, tapi ia masih merasa beruntung karena otaknya belum hancur. Kemudian ia kembali memikirkan bagaimana caranya untuk sampai ke pulau di tengah laut itu. Ia lantas berpikir dalam-dalam. Ah, ia teringat pada salah seorang utusan Tuhan terdahulu, orang hebat itu bisa membelah lautan hanya dengan memukulkan sebuah tongkat sehingga suatu keajaiban maha dahsyat pernah terjadi dalam sejarah: laut terbelah, sebuah jalan setapak terbentang, dan ia akan dengan gampang bisa berjalan ke pulau itu menyusuri belahan yang menjadi daratan tanpa harus berjalan di atas permukaan air.

Tapi, yang menjadi kegelisahannya, utusan Tuhan terdahulunya itu memukul lautan dengan tongkat yang memiliki kekuatan khusus. Pasti tongkatnya bukanlah tongkat sembarangan, bukan tongkat yang biasa digunakan seorang kakek-kakek bau tanah, atau tongkat penunjuk jalan bagi orang-orang buta, atau tongkat yang kebetulan ditemukan secara serampangan yang dengan mudah dijual di pasar-pasar loak. Ia pun harus memiliki tongkat seperti orang itu, setidaknya tongkat yang diceritakan bisa berubah menjadi ular besar, ular yang dahulu kala pernah memakan ular-ular kecil para penyihir, supaya ia bisa mendapatkan kekuatan cara membelah lautan.

Ilmu sihir. Ya, itulah jawaban atas segala kegelisahannya. Ia harus bisa menguasai ilmu sihir untuk mengubah togkatnya menjadi ular besar. Tak butuh waktu lama lagi, Gablag langsung bergegas menuju rumah Ki Suro untuk belajar ilmu sihir.

“Edan, membelah lautan hanya pernah dilakukan oleh seorang Nabi.”

“Tapi Ki, saya juga sedang menjalankan suatu utusan dari Tuhan.”

“Tuhan palamu peyang!”

“Tuhan kita semua, Ki.”

“Sampeyan mau jadi nabi palsu?”

“Bukan Ki. Tapi saya telah diutus menjadi nabi baru!”

“Pulanglah! Saya tidak mau membantu nabi baru.”

“Nanti Ki Suro diadzab Tuhan loh….”

Ki Suro langsung menatap lekat-lekat wajah Gablag, Gablag pun menatap lekat-lekat wajah Ki Suro. Kedua mata mereka saling bertemu. Dari mata lamur Ki Suro, ia merasa bahwa anak muda yang menatap kearahnya hanya sedang bercanda, mana mungkin ada seseorang yang secara terang-terangan mengaku seorang nabi baru, dahulu pun para nabi mengawali dakwahnya dengan cara sembunyi-sembunyi.

Karena melihat keseriusan dan kegigihan niatan anak muda itu, Ki Suro memutuskan dan bertekad bulat-bulat, bila dirinya akan membantu Gablag yang ingin sekali membelah lautan dengan sebuah tongkat.

Lalu Ki Suro masuk ke dalam kamarnya yang terbuat dari bilik bambu, dan di ruang tengah, Gablag hanya bisa mendelik-delikan matanya mencuri pandang ke dalam kamar Ki Suro yang gelap seperti kamar tempatnya melamun. Setelah menunggu cukup lama, Ki Suro kembali duduk di ruang tengah dan memberikan sebuah tongkat kepada Gablag, tongkat yang terbuat dari dahan pohon jambu batu, warnanya kuning kecoklatan, tampak sudah tua dan keropos. Dan katanya lagi, pada setiap malam jumat, bila tidak dimandikan dengan air kembang tujuh rupa, maka tongkat itu akan berubah bentuk menjadi ular dan akan memakan kedua mata Gablag hingga langsung mati seketika. Gablag malah mengangguk senang menerimanya.

Setelah mendapatkan tongkat itu, Gablag pun tidak pernah kembali meceritakan kisahnya untuk merencanakan menculik seorang anak laki-laki kepadaku. Yang aku tahu sekarang, kini hidupnya serba tertutup. Jangankan untuk bertemu denganku, sempat suatu waktu aku berkunjung datang ke rumahnya, bukan sambutan hangat yang kudapatkan, ia malah mengusirku. Alasannya, untuk sementara waktu ia tidak mau bertemu dengan siapapun dulu.

Cerita yang kuketahui tentang Gablag seorang utusan Tuhan pun terhenti hanya sampai disitu. Masih menggantung memang. Tapi baiklah, sekadar memenuhi rasa penasaran pembaca, sekarang aku akan menceritakan tentang kehidupan anak laki-laki semata wayang yang kumiliki. Kiplik namanya.

Ia masih berusia enam tahun, baru menginjak tahun pertama di sekolahnya. Harus kuakui, ia bukanlah seorang anak yang cerdas. Kalau boleh aku katakan, otaknya sangatlah dungu dan tolol. Setiap ada ajakan pergi dari seseorang, anakku selalu menurut dan karena rasa polos itulah yang menyebabkan ia pernah diculik dua minggu lalu. Aku sempat menduga bahwa penculiknya ialah sahabatku sendiri, yaitu Gablag yang pernah bercerita akan menculik seorang anak kecil. Ah, mana mungkin, pikirku waktu itu. Meski sahabatku itu terkenal agak sinting, tapi ia masih waras mempunyai hati dan tidak benar-benar akan melakukkan niatnya untuk menculik seorang anak kecil, apalagi menculik anakku sendiri yang sudah ia anggap anaknya sendiri juga.

Tapi jika memang Gablag penculiknya, aku tak bisa membayangkan, sebab ia akan menyembelih hasil culikannya itu untuk tujuan menyenangkan Tuhan. Sialan. Maka aku mendatangi rumahnya, dan seperti yang telah aku ceritakan barusan, bahwa ia tidak mau menemuiku.

Waktu itu aku kebingungan. Bingung apakah aku harus melakukan cara kekerasan dengan menggerebek rumahnya, atau menelepon polisi dengan dalih tindakan kriminal penculikan. Tapi pikiran negatif itu lantas kubuang jauh-jauh. Bagaimana pun juga, aku masih memercayai bahwa Gablag bukanlah pelakunya. Namun karena rasa penasaranku sudah tak bisa terbendung, akhirnya aku menggerebek rumah Gablag. Kemudian, seperti yang aku duga sebelumnya, tak ada siapa-siapa dan tak kutemukan anakku di sana.

Baru setelah dua hari semenjak kejadian itu, aku mendengar kabar bahwa anakku telah ditemukan tewas terdampar di pesisir pantai terombang-ambing tenggelam di lautan selama beberapa hari. Untunglah, bisikku, untung aku tak pernah menuduh sahabatku sendiri penculiknya, sebab di sana tidak ditemukan jasad Gablag. Seandainya Gablag yang menculiknya, pasti ia pun ikut mati tenggelam. Mungkin anakku itu mati akibat ketololannya sendiri. Hingga sekarang pun, aku tak pernah menemui dan melihat kembali Gablag yang hilang entah kemana.

Bandung, 2013

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 14 May 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. terima kasih banyak kepada ki genderuwo atas nomor togelnya yang AKI berikan alhamdulillah ternyata itu 4d 8009 benar2 tembus KI dan berkat bantuan ki generuwo saya bisa melunasi semua hutan2 orang tua saya yang ada di BANK BRI dan saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2. yang ingin merubah nasib seperti saya hubungi ki genderuwo di nmr 085292226927
    id

    Like

  2. Kami sekeluarga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada MBAH RIJI atas bantuannya saya menang togel yang pertama kalinya,pekerjaan saya sehari-harinya cuma seorang supir angkot yang pendapatannya tidak seberapa,buat biaya anak sekolah aja tidak cukup apalagi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-harinya….suatu hari saya tidak sengaja mendengar pembicaraan teman saya mengenai prediksa MBAH RIJI yang katanya bisa mengeluarkan angka sgp/hk yang di jamin tembus,akhirnya saya bertanya dan teman saya memberikan nomor MBAH RIJI dan saya pun menghubunginya..?? Berkat bantuan MBAH yang telah memberikan anka “GHOIB” nya 3D yaitu 275 dan alhamdulillah itu ternyata terbukti….sekaran anak saya bisa lanjut sekolah lagi itu semua atas bantuan MBAH RIJI ,bagi anda yang penggemar togel ingin meruban nasib melalui angka2 goip yang di jamin 100% kemenangan hbg MBAH RIJI di nmr;_082344440428,ini bukti nyata bukan rekayasa,mana ada kemenangan tanpa keberanian dan kejujuran,saanya kita perlu bukti bukan sekedar janji2,hanya MBAH RIJI yang bisa menjamin 100% kesuksesan,anda perlu bukti hbg sekaran MBAH RIJI nya,terima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s