[CERPEN] Surat Menuju Surga

Cerpen: Safik Yahida
21 Desember.―Musim dingin.
Teruntuk Lukita

Lukita, di kota yang tak pernah mati ini, kematian bagaikan menjelma sebuah doa yang jarang diucapkan. Meskipun di kota ini pada setiap hari yang kudus Kidung Agung selalu mengalun di setiap katedral, akan tetapi, hatiku masih saja takut akan datangnya sebuah hari kebangkitan. Waktu adalah kematian bagi yang hidup dalam kegelapan.

Di sini kabar kematian memang lebih menggigil dari cuaca dingin sekalipun. Namun kiranya, usia merupakan sebuah misteri yang tak bisa diterjemahkan. Seandainya waktu adalah sebuah ngarai terjal, kuharap perpisahan kita dahulu kala tak sedalam lembah yang curam. Kini jarak pemisah memang belum sempat kita kelabui, tetapi selama kita masih beratapkan birunya bentangan lazuardi yang sama, kurasa tak ada yang perlu kita permasalahkan lagi mengenai soal kerinduan yang belum tertuntaskan. Dan kita pun pasti tahu, bahwa semak belukar berduri bisa menuntun kita pada sebuah jalan mulus yang mesti dipijak.

Di kota ini musim dingin selalu turun di akhir Oktober. Hingga sekarang, hatiku pun masih sedingin gurat cuaca di luar sana. Sepi dan mati tanpa kicauan burung-burung yang terbang di udara. Di dekat perapian yang menyala ini, aku membayangkan bila Long Jhon dan Winter Coat yang kukenakan ini berasal dari kehangatan dekap tubuhmu. Lalu entah kenapa tiba-tiba timbul suatu keinginan di dalam kedinginan hatiku untuk mencoba menuliskan sebuah surat untukmu, merangkai kata-kata, kata-kata yang menjelma kalimat, kalimat yang menjelma doa, doa khusus untuk lembaran kehidupan usiamu yang baru.

Aku sekarang sudah lupa berapa usiamu saat ini, sebab mungkin sudah dua puluh tahun lebih kita tak pernah bertemu kembali, tapi yang jelas, aku tak pernah lupa untuk mengirimkan ribuan doa untukmu.

21 Desember ini adalah hari dimana kau pernah dilahirkan, maka aku ingin sekali menuliskan sebuah kata ucapan selamat ulang tahun untukmu, Lukita…

Oh, ya, aku belum sempat menceritakan tentang kehidupanku sekarang. Kini aku telah hidup bahagia bersama seorang perempuan berkebangsaan Eropa. Semuanya berawal ketika pada saat dua puluh tahun lalu setelah aku selesai menamatkan kuliahku, aku langsung meneruskan studiku itu ke negeri ini, sebuah negeri yang di penuhi oleh putaran kincir angin. Angin di sini selalu datang dari arah timur, dan aku selalu merasa bahwa angin itu merupakan sebuah kiriman dari hembusan nafasmu. Nafasmu yang menjelma badai dalam kenangan memori otakku. Akan tetapi, setelah pertemuanku dengan seorang perempuan yang kini telah menjadi istirku enam tahun lalu, angin itu tak pernah kembali berhembus. Aku tak tahu apa sebenarnya maksud dari semua itu.

Oleh karena itulah barangkali saat ini aku ingin sekali mengetahui kabar tentang kehidupanmu di sana. Semoga di sana kau hidup dalam sebuah kebahagiaan. Dan aku berharap, kau pun berkenan untuk membalas surat dariku ini.

Amsterdam

Salam rindu dariku, Redda Askara

***

Hari ini ada sebuah kiriman surat datang ke rumahku. Menurutku, tulisan dalam surat merupakan sebuah kiriman kabar dari seseorang yang sudah lama tak pernah bertemu. Aneh, di zaman sekarang ini masih ada orang yang berniat bertukar kabar melalui secarik kertas. Padahal alangkah lebih mudah bila seandainya mengirimkannya melalui SMS atau E-mail. Tadi anakku satu-satunya yang masih berusia enam tahun berlari menghampiriku sambil membawa sepucuk surat itu.

“Ayah, ada kiriman surat datang….” teriak anakku itu antusias. Ia datang menghampiriku yang sedang membaca koran di pagi hari. Kubelai rambut lurus panjang anak perempuanku itu. “Surat dari siapa, sayang?” tanyaku sambil menutup koran yang tengah kubaca.

“Gak tahu, tadi tukang pos bilang katanya surat ini ditujukan untuk rumah kita, coba saja ayah baca, kira-kira surat ini untuk siapa?” kulihat mata anakku itu berkilat membentuk segaris cahaya menampilkan rasa penasarannya.

Aku langsung membuka sebuah amplop besar yang berwarna kuning kecoklatan, dan di dalamnya memang terdapat sepucuk surat―tampaknya ditulis menggunakan tulisan tangan. Kuperhatikan alamat pengirimannya: Amsterdam. Hah, ternyata surat ini dikirim dari luar negeri. Siapa gerangan kiranya orang asing yang sengaja mengirimkan tulisan tangan ini padaku? Seingatku, aku tak pernah mempunyai kerabat yang tinggal di Belanda, atau mempunyai seorang teman yang sedang berlibur di sana. Dengan sangat tergesa-gesa, aku langsung membaca surat itu dengan perasaan dihinggapi oleh rasa penuh penasaran. Kusimak tulisannya mulai dari huruf pertama, lalu pada setiap kalimat-kalimatnya, hingga pada kisah yang tertulis dalam surat itu. “Lukita, ternyata orang yang berhak membaca surat ini adalah Lukita, ternyata surat ini ditujukan untuk Lukita istriku.” aku berbicara dalam hati. Aku tak mau bila nantinya anak kecil yang berdiri di hadapanku akan mengetahui bila sebenarnya surat itu ditujukan untuk ibunya.

Lukita, aku tak begitu terlalu mengetahui mengenai masa lalumu, tetapi setelah membaca surat itu, sepertinya orang yang menulisnya adalah seorang lelaki yang dulu pernah benar-benar mencintaimu. Sekarang aku baru mengetahui bila dulu kau adalah seorang perempuan yang bisa membuat seorang lelaki sulit untuk melupakanmu. Dan kini aku sendiri pun alangkah sulitnya untuk bisa melupakanmu. Apakah di kehidupanmu sekarang kau bisa mengetahui isi hatiku bila sebenarnya setelah kepergianmu enam tahun lalu itu, kini aku tak mempunyai niatan untuk kembali menikahi perempuan lain?

“Surat dari siapa, Ayah?” tiba-tiba anakku kembali memburu dengan sebuah pertanyaan yang bisa menyudutkanku. Aku mulai dihinggapi rasa bingung. Bagaimana caranya aku harus menjawab pertanyaannya.

“Oh ini, ini surat untuk Ayah dari seorang rekan kerja,” aku mencoba membohongi anakku itu.

“Tapi kenapa mata Ayah memerah seperti mau menangis, apakah Ayah disuruh berhenti dari pekerjaan?” ia kembali bertanya, “Emang surat itu menuliskan tentang apa?” pertanyaannya kini mulai bertubi-tubi menusuk ulu hati.

“Nanti juga kau bakalan tahu, sayang. Makanya mulai sekarang kamu harus rajin belajar membaca, biar nanti kamu bisa membaca sendiri surat ini.”

“Oh… Kirain surat itu dari Ibu,” katanya.

‘Bukan sayang, sekarang ibumu sedang sibuk, mana sempat ia menulis surat.”

“Terus kapan Ibu bakalan pulang ke rumah?”

“Kan tadi Ayah sudah bilang, ibumu sedang sibuk bekerja di luar negeri, mungkin bulan depan ia akan pulang,” aku mencoba meyakinkan rasa penasaran anakku itu.

“Dari dulu Ayah selalu bilang begitu, bulan depan dan bulan depan terus, tapi Ibu gak pernah datang.” ucapnya cemberut sambil berlalu meninggalkanku.

Kulihat tubuh kecil itu berlari menuju kamarnya. Sebagai seorang ayah, mungkin aku telah bersalah dengan melakukan hal yang sangat pengecut. Aku tak tahu bagaimana caranya untuk menceritakan tentang kejadian sebenarnya bila seorang ibu yang dirindukannya itu tak mungkin kembali lagi datang ke rumah ini. Dan, apakah lelaki yang menulis surat ini memang benar-benar tidak mengetahui bila orang yang di maksud dalam suratnya kini telah pergi?

Lama aku menatap surat itu, dan secara tak sadar aku telah meremas selembar kertas sialan yang tengah kupegang. Sepertinya kebencianku pada si penulis surat sudah tak bisa terbendungkan lagi, sebab ia telah membuat ingatanku kembali tersuat dalam kenangan yang sebenarnya ingin aku lupakan sedari dulu.

***

Sebulan telah berlalu. Tiba-tiba sebuah suara nyaring mengagetkanku ketika sedang membaca koran di pagi hari. “Ayah, ada sebuah kiriman surat lagi hari ini….” teriak anakku sambil menghampiriku.

“Oh ya, mana suratnya coba Ayah lihat dulu.”

Kembali sebuah amplop besar berwarna kuning kecoklatan kubuka, dan di dalamnya terdapat secarik surat yang berisi sebuah tulisan tangan. Tanpa perlu membacanya lagi, sepertinya aku sudah tahu siapa orang yang mengirim surat ini, pasti lelaki yang pernah mengirim surat sebulan yang lalu itu. Ternyata dugaanku tidak keliru, ini memang surat dari lelaki itu yang kini mencoba meminta surat balasan dari Lukita.

“Surat dari siapa, Ayah?’ tanya anakku. “Apa itu surat dari Ibu? Ayah ‘kan pernah bilang kalau Ibu bakalan pulang bulan ini.” katanya lagi dengan senyum bahagia dan penuh harapan.

Kupalingkan wajahku dari tatapan polos anakku, aku tak tega bila harus melihat sorot matanya yang begitu merindukan kehadiran ibunya.

“Ayah… Surat dari Ibu bukan?” anakku kembali bertanya.

“Oh iya sayang, ini surat dari ibumu,” ucapku berbohong.

“Apa isi surat itu, Ayah? Apa Ibu mau pulang sekarang?”

Astaga, pertanyaannya begitu membingungkan. Kata macam apa yang mesti kulontarkan sekadar beralasan bila sebenarnya ibunya yang ia rindukan itu tak bakal pernah kembali pulang ke rumah ini lagi.
“Tidak sayang, ibumu bilang dalam surat ini bila ia tidak bisa pulang sekarang. Ibumu masih sibuk. Tapi ia janji padamu, nanti bila sudah saatnya tiba ia bakalan pulang ke rumah ini.” aku mengelak dengan alasan yang dibuat-buat.

Lalu kualihkan kembali wajahku menatap wajah polosnya. Air mukanya berubah menjadi muram. Kuperhatikan dari pipi cembung anakku itu telah mengalir dua buah air mata bening. Bening matanya mulai mengeruh oleh tumpahan air mata yang sedari dulu ia tahan karena kerinduannya pada kehadiran seorang ibu. Sebenarnya, di kedalaman hatiku, ingin sekali aku menceritakan kejadian yang sesungguhnya, tapi aku tak mempunyai hati untuk mengungkapkan bila seseorang yang ia nantikan itu telah lama tiada akibat pendarahan hebat ketika berusaha melahirkannya. Serta aku pun tak pernah mempunyai niatan untuk membalas surat ini dan mencoba mengaku diri sebagai Lukita.[]

Bandung, November 2012

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 22 March 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. Comments Off on [CERPEN] Surat Menuju Surga.

Comments are closed.