[CERPEN] Kisah Tentang Sepasang Mata

Cerpen: Safik Yahida
Cerita ini diilhami dari berbagai cerita yang lain

 

“Kekasihku, sebagai seorang penulis cerita yang baik, tentunya kau pasti bisa menceritakan kepadaku tentang kisah cinta yang paling menyedihkan di dunia ini.” ucap seorang perempuan pada kekasihnya yang sedang duduk beresebelahan di sebuah taman kota.

Kekasihnya itu kemudian terdiam beberapa jenak. Lalu matanya mulai liar memandang ke sekeliling penjuru taman. Tak lama setelah itu ia kemudian melihat sebuah bunga melati yang tumbuh tak jauh dari tempatnya duduk.

“Apakah kau tahu kenapa bunga melati selalu menjadi penanda sebuah perasaan cinta?” tanya kekasihnya sambil menunujuk bunga melati.

Perempuan itu menggelengkan kepalanya perlahan beberapa kali tanda tidak mengerti.

Kemudian kekasihnya berkata lagi, “Bunga melati tampak sangat indah tapi tangkainya berduri, bahkan warnanya ada yang merah mirip darah. Seandainya kau memegang tangkainya, mungkin tanganmu akan terluka oleh tusukan duri. Kau tinggal pilih, apakah akan membuang bunga melati itu lalu mencari bunga yang lain atau akan memotong setiap duri dari tangkainya? Bila kau mau bersabar untuk membuang satu persatu duri itu, pasti tanganmu tak akan pernah tertusuk oleh duri.” kekasihnya mencoba menjelaskan. “Cinta memang terlihat seperti mempunyai banyak permasalahan, tapi jika kau bisa meredam semua masalahnya, maka semuanya akan terlihat indah.” kembali kekasihnya berucap panjang lebar.

Perempuan itu mengangguk dan tersenyum. Lalu kekasihnya mulai menceritakan kisah cinta paling menyedihkan yang diinginkan si perempuan.

Alkisah, beberapa puluh tahun silam, hiduplah seorang perempuan buta. Usianya masih terbilang muda, kira-kira dua puluh tahunan. Dan dari semua perjalanan hidupnya itu, ia belum pernah sekalipun melihat keindahan dunia, sebab sejak kecil ia sudah terlahir dengan kondisi sepasang mata yang tak mampu untuk melihat.

Waktu itu hujan turun deras sekali, perempuan buta itu berjalan di bawah hujan tanpa membawa sebuah payung dan ia kebingungan untuk mencari arah menuju rumahnya. Tubuhnya basah kuyup. Seluruh badannya bergetar dan menggigil menahan hawa yang begitu dingin. Pikirannya tersesat pada sebuah ketakutan kalau-kalau ia akan jatuh pingsan. Tapi untungnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang seumuran dengannya datang menghampiri dan mencoba untuk menolongnya.

“Kenapa kau hujan-hujanan?” tanya lelaki itu.

“Suara siapa itu?” si perempuan buta pun bertanya. “Tolong aku, mataku buta tak bisa melihat dan sekarang aku tak tahu jalan menuju rumahku.” lanjutnya melontarkan sebuah kalimat dengan nada sangat memohon.

“Memangnya rumahmu dimana?”

“Di suatu bukit dekat kaki gunung desa ini.”

Kemudian lelaki itu pun mengantar si perempuan buta pulang. Namun di tengah-tengah perjalanan, perempuan buta itu pun jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.

“Loh kenapa ia bisa jatuh pingsan?” tanya si perempuan menyela cerita kekasihnya yang belum selesai.

“Mungkin karena si perempuan buta sudah terlalu lama kehujanan.” jawab kekasihnya.

Matahari semakin merangkak menuju ufuk barat, senja telah nampak berkobar di langit jingga. Di taman itu, mereka berdua masih tampak asyik mendengarkan dan menceritakan tentang kisah cinta paling menyedihkan yang pernah ada di dunia.

“Terus sekarang bagaimana dengan nasib mereka berdua?” si perempuan kembali bertanya dan mulai dihinggapi rasa penasaran.

Kekasihnya lalu diam beberapa jenak. Dari bibirnya terbit sebuah senyum simpul. Sambil melirik wajah cantik si perempuan, ia pun kemudian menceritakan kembali kisahnya.

Lama si lelaki menunggu perempuan buta terbangun dari pingsannya, sambil berteduh di bawah pohon rindang, si lelaki pun mencoba untuk membangunkan si perempuan buta dengan memijit kedua kakinya. Setelah si perempuan buta mulai sadarkan diri dari pingsannya, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berdua berjalan di bawah hujan deras dengan naungan sebuah payung yang dibawa oleh si lelaki. Tampaknya lelaki itu adalah seseorang yang baik. Buktinya ia rela menghabiskan waktunya demi mengantar seorang perempuan buta. Dalam perjalanan itu, secara berkali-kali si lelaki mulai sering memandang wajah si perempuan buta. Dalam hatinya terbersit sebuah perasaan, ternyata perempuan yang tengah ia antarkan pulang itu mempunyai wajah yang cantik, meski pun ia tahu bila mata perempuan itu tak mampu melihat.

Singkat cerita, setelah si lelaki berhasil mengantar perempuan buta tiba di rumahnya, si lelaki pun pamit angkat kaki dan mengatakan telah bersedia akan menjadi sepasang mata si perempuan buta bila dibutuhkan untuk bepergian, sekadar menjadi seseorang yang bisa mengantarnya kemana-mana.

Hampir setiap hari lelaki itu menemui si perempuan buta untuk mengajaknya berkeliling mengujungi sebuah tempat yang indah. Tak bisa terelakan lagi perasaan si lelaki bila ternyata ia telah jatuh cinta pada kecantikan wajah si perempuan buta.

“Hari ini kita mau kemana?” tanya si perempuan buta.

“Rencananya sekarang aku akan mengajakmu pergi ke suatu bukit yang lokasinya berada di desa sebelah. Di sana pemandangannya indah sekali.” jawab si lelaki.

Sesampainya di bukit, si lelaki mulai menceritakan bila bukit itu berbentuk sebuah pegunungan yang tidak terlalu tinggi, dan di sekitarnya dikelilingi berbagai pemandangan yang sangat indah: rimbun pohon cemara, hijau rerumputan, birunya langit dan putihnya awan yang terasa dekat untuk dijangkau, ucap si lelaki menceritakan keadaan bukit yang sedang mereka pijak.

“Aku tak tahu apa itu arti dari sebuah keindahan yang kau sebutkan barusan. Aku tak mempunyai bayangan di dalam pikiranku mengenai keindahan itu, sebab aku belum pernah sekalipun melihat sebuah keindahan dunia ini!” tangkas si perempuan buta.

Mendengar nada suara yang seperti keluar dari lubuk hati itu, si lelaki pun lalu terdiam. Memang ada benarnya juga tentang apa yang diucapkan si perempuan buta barusan. Memang percuma menceritakan keindahan pada seseorang bila seseorang itu belum pernah melihat sesuatu yang indah sebelumnya. Lalu si lelaki pun mulai memikirkan tentang bagaimana caranya mewujudkan keinginan si perempuan buta untuk bisa membuatnya melihat keindahan dunia.

“Loh kenapa diam?” tanya si perempuan buta. “Tak perlu bersedih, tak masalah bagiku jika aku ditakdirkan tidak akan pernah melihat keindahan dunia ini, mungkin Tuhan telah menakdirkanku untuk hanya bisa melihat sebuah keindahan di surga nanti.” lanjutnya.

“Lalu apa yang kau inginkan dalam kehidupanmu yang serba gelap itu?” tanya si lelaki berhati-hati. Ia tak mau jika perempuan itu akan tersinggung atas pertanyaannya.

“Jika boleh berharap, yang aku inginkan sekarang adalah agar aku tetap selalu bersamamu, supaya aku bisa selalu datang ke tempat yang menurutmu indah ini.”

“Tapi percuma bila kau tak pernah bisa melihatnya!”

Kemudian mereka terdiam. Tiba-tiba dari mata buta si perempuan menetes butiran air mata. Perempuan buta itu menangis dalam pandangan yang gelap.

Waktu terus bergulir, dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari berganti hari. Hingga pada suatu hari, datanglah sebuah kabar bahagia bahwa akan ada seseorang yang bersedia mendonorkan sepasang matanya pada si perempuan buta. Alangkah bahagianya perasaan si perempuan buta itu. Buru-buru kabar itu ia sampaikan pada si lelaki yang setiap hari selalu mengajaknya mengunjungi tempat yang indah.

“Sepertinya tak lama lagi aku akan bisa melihat dunia ini, dan aku ingin sesuatu yang pertama kulihat di dunia ini adalah dirimu.” kata si perempuan buta pada si lelaki.

“Wah selamat ya, aku ikut senang mendengarnya.”

“Hmm… aku tak sabar menanti waktunya tiba, aku ingin cepat-cepat melihat seperti apa paras rupamu.”

Lelaki itu hanya tersenyum dan tak menjawab perkataan si perempuan buta. Dan hari itu adalah hari dimana si lelaki untuk yang terakhir kalinya bisa melihat si perempuan buta yang sangat ia cintai itu.

“Loh memangnya kenapa dengan lelaki itu? Apa besoknya ia mati sebelum si perempuan buta sudah bisa melihat dunia?” si perempuan kembali menyela cerita kekasihnya yang belum selesai.

“Bukan. Lelaki itu masih hidup ketika si perempuan buta sudah bisa melihat dunia. Akan tetapi seminggu kemudian lelaki itu mati bunuh diri dengan cara yang sangat mengenaskan dan menyedihkan.” jawab kekasihnya.

“Kenapa lelaki itu bunuh diri? Seharusnya ia berbahagia karena perempuan yang dicintainya kini telah bisa melihat?”

“Mungkin lelaki itu patah hati, meski orang pertama yang dilihat si perempuan buta di dunia ini adalah lelaki itu, namun si peremuan buta alangkah terkejut ketika mendapati bila ternyata si lelaki pun mempunyai sepasang mata yang sama-sama buta seperti dirinya ketika waktu dulu.”

“Aku tak mengerti maksudmu, bukankah si lelaki sebelumnya bisa melihat keindahan dunia dan bisa menceritakannya pada si perempuan buta?” kata si perempuan sedikit bingung.

“Kau tahu, setelah si perempuan buta yang kini telah bisa melihat bila ternyata si lelaki pun mempunyai sepasang mata yang buta, lalu ia pun enggan menemui lelaki itu. Ia tak ingin berjodoh dengan seseorang yang mempunyai sepasang mata buta. Tapi apakah kau tahu kenapa lelaki itu kini menjadi buta? Sebab tanpa sepengetahuan perempuan itu, sebenarnya orang yang mendonorkan sepasang matanya adalah lelaki yang kini telah menjadi buta demi mewujudkan keinginan perempuan yang dicintainya bisa melihat keindahan dunia.”

“Astaga, kejam sekali perempuan buta itu. Bodoh sekali lelaki itu bunuh diri hanya karena seorang perempuan kejam!” kata si perempuan.

“Itulah maksudku tadi, lelaki itu tak mampu bersabar menahan sakitnya tusukan duri dari bunga melati.”

Sepasang kekasih itu kemudian terdiam beberapa saat. Tampaknya malam akan datang membawa kegelapan. Sepertinya sudah tak ada lagi yang perlu diceritakan dalam kisahnya. Dan di dalam hati mereka, ingin rasanya mereka bersama-sama memetik bunga melati yang tumbuh di taman itu.

Bandung, November 2012

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 22 March 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. umi sa'diyah

    Ceritanya mirip film Violet..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s