[CERPEN] Gila

Cerpen: Safik Yahida
Cerita ini saya tulis ketika sedang berada di halte menunggu bus kota sumedang, dan disitulah saya mengobrol dengan seorang perempuan setengah tak waras yang setiap harinya setia menunggu tunangannya yang pergi meninggalkannya entah kemana

Tangan ini masih sedikit luka oleh bekas lilitan tali yang menjeratku juga mulutku pun terasa kaku karena di sumpal kain sekian lama sehingga tidak bisa berteriak tapi tidak pada suara hatiku yang masih bisa berdoa supaya apa yang mereka lakukan padaku akan dibalas dengan hukuman yang setimpal atas semua penderitaan yang telah mereka lakukan padaku dengan sebuah alasan atas nama kebaikan aib keluarga mereka menyekap dan membiarkan aku terkapar di sudut kamar yang gelap.

Apa aku ini di mata mereka? Apa aku bukan lagi bagian dari keluarga mereka karena kelakuanku kurang baik yang selalu menjambak rambut setiap wanita yang kutemui? Seperti apakah orang yang baik itu? Apakah orang yang pernah mengurung seseorang bisa disebut orang baik? Bukan.

Di kamar yang gelap itu aku selalu bertanya dalam hati kenapa mereka mengurungku? Apa yang salah pada diriku sehingga mereka merasa takut dan menjauhiku? Apa mereka menganggapku gila hanya karena selalu tersenyum sendiri dan setelah itu langsung menangis? Bukankah senyum itu amal paling murah yang oleh semua agama merasa diharuskan dan menangis itu hakikat manusia yang tidak bisa dilepaskan? Atau karena aku satu-satunya orang yang percaya bahwa gerimis itu bisa turun di saat musim kemarau? Nyatanya di musim yang panas ini gerimis selalu turun di mataku.

Mungkin karena hal itulah sampai sekarang aku masih belum mendapatkan jodoh atau mungkin juga karena memang semua wanita merasa takut padaku? Yang jelas aku bukanlah lelaki yang gampang jatuh hati pada seseorang sebab aku menginginkan wanita yang setia tidak seperti kekasihku dulu yang selalu mengatur hidup ini kemudian pergi meninggalkanku begitu saja dan akhirnya membuat hatiku hancur melebihi rasa sakit ketika terkurung di waktu lalu dan mungkin karena ulah kekasihku itulah awal dimana aku pun dijauhi pula oleh orang-orang karena tanpa henti aku selalu menangis.

Aku ingin bebas seperti sekarang bisa leluasa pergi dan duduk di bangku taman sambil dengan tenang menikmati hembusan angin malam yang membelai rambutku seperti dulu ketika aku pernah tertidur di pundak kekasihku sambil ia sesekali membelai helaian rambutku ditemani rembulan yang ikut menyaksikan kami berdua.

Indah sekali saat itu karena di pikiranku hanya ada bayangan kekasihku itu tidak ada siapapun atau mungkin semua orang telah kulupakan meski aku tak tahu hilang dimana ingatanku itu sehingga kini membuat aku merasa takut pada semua orang dan yang kurasakan sekarang aku selalu ingin menjambak rambut setiap wanita yang kutemui sambil berkata: apa kamu tidak merasa sakit ditinggalkan kekasih sendiri tanpa alasan yang jelas? Memang bukan kamu yang melakukan hal itu padaku tapi kurasa kamu pun akan melakukan hal yang sama. Teriakku.

Memang hidup ini singkat terlalu singkat bila hanya digunakan untuk mengingat masa lalu yang kelam dan sekarang aku merasa hidup kembali dengan jiwa yang baru setelah kabur dari kurungan yang menjeratku.

Akhirnya aku kembali ke taman ini sebuah tempat dimana aku dan kekasihku dulu selalu menghabiskan malam tanpa ada yang mengganggu mungkin saja aku bisa kembali bertemu dengannya disini dan meluapkan perasaan kesal yang selama ini berkecamuk di hatiku yang hancur teapi nyatanya dari balik pepohonan yang rindang aku mendengar seorang wanita yang lain sedang bernyanyi dengan lirik-lirik yang membuat merinding dan suaranya begitu merdu seperti salah seorang penyanyi yang lagi sibuk disorot berita infotainment karena bisa menjadi pacar seorang pencipta lagu cinta yang menyayat hati. Tidak. Bukan seperti suara penyanyi itu karena aku belum pernah mendengar suara aslinya sebab ketika ia menyanyi hanya menggunakan trik Lip Sync sambil berkomat-kamit mengikuti lirik dan irama lagu. Seperti orang gila saja.

“Aku kembali mengingatmu di sisa gerimis

Diantara punggung batu yang mengukir namamu

Disitulah, kenangan kita telah terpahat

 

Atau pada daun kering bagaikan selembar surat

Yang menuntaskan sebuah jejak ziarah

Aku telah menuliskannya sehabis gerimis

Lalu menjadi abadi di kedua mataku


Aku rindu bersamamu, menyulam ribuan malam dengan tatapan tajam,

Namun maut memutuskannya, menjelma sabit membuat matamu terpejam.


Untukmu, aku rela bersetubuh bersama angin

Dengan dingin yang kucicipi nikmatnya sepi

Dan bila kau tak kembali

Aku menjema doa untuk menemuimu”[1]

Karena mendengar suara yang seperti keluar dari lubuk hatinya itu aku memberanikan diri mendekati wanita itu dan duduk bersebelahan dengannya.

Keberanian dan kebaikan apa hingga aku tidak menjambak rambutnya malah bertanya dan ingin mengetahui siapa ia sebenarnya.

“Sedang apa dan menunggu siapa kamu disini?” tanyaku sambil melihat tatapan matanya yang kosong seperti pikiranku yang juga kosong karena aku bisa berani mendekati seorang wanita.

Dia hanya diam.

“Apa kamu sedang menunggu kekasihmu?” tanyaku lagi meminta jawaban.

“Kamu pun sedang apa disini?” ia pun melontarkan pertanyaan.

Apa yang ia pikirkan sehingga pertanyaanku tidak dijawabnya malah balik bertanya.

“Aku sedang mendengarkan suaramu,” jawabku singkat.

“Apa kamu gila datang kesini hanya untuk mendengarkan suaraku.” jawabnya.

Tanpa pikir panjang lagi aku pun langsung mengutuknya supaya ia pun menjadi gila karena mengatakan aku gila padahal aku sama dengannya sedang menunggu kekasih yang entah sedang berada dimana sekarang.

“Aku juga sama denganmu sedang menunggu seseorang disini,” timpalku dengan nada mengejek bila aku gila pun aku tidak peduli yang penting ada yang mau sama nasibnya denganku.

“Aku tidak sama denganmu aku hanya seorang wanita yang dijauhi orang-orang bahkan dicemooh oleh mereka dan hanya kamu saja yang mau mendekatiku sekarang apa memang kamu benar-benar sama denganku?”

Jujur aku tidak mengerti apa yang diucapkannya apakah nasibnya sama seperti yang pernah aku alami beberapa waktu terakhir dijauhi dan dibenci semua orang dan apakah hatinya pun sama hancurnya dengan hatiku karena ditinggalkan kekasih begitu saja? Tapi nyatanya ia sedang menunggu kekasihnya disini.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan bukankah kamu sedang menunggu kekasihmu disini? Kekasihmu pasti ingin menemuimu lalu kamu anggap apa kekasihmu itu bila orang-orang tidak ingin menemuimu?” mungkin karena melihat wajahnya yang sedih aku pun lalu bisa mengatakan hal yang seperti itu.

“Bagaimana bila kekasihku tidak sama seperti orang-orang? Apakah kekasihku bisa disebut beda dengan mereka?” pertanyaan itu muncul dari bibir mungilnya dengan menghembuskan aroma nafas yang begitu khas di hidungku.

Aku tidak menjawab pertanyaan wanita itu aku malah kembali teringat kekasihku dimana ia pun pernah mengatakan hal yang serupa seperti ini.

Aku tahu ia menerima cintaku karena dulu aku selalu menghiburnya sewaktu sedang dilanda kesedihan karena kekasihnya telah tiada―mati akibat kecelakaan lalu lintas dan mungkin dengan dia menerimaku rasa terimakasihnya sudah bisa terbalas dengan kebohongan yang telah lama kita jalani.

Seperti paranoid atau dejavu hal itu kembali terulang sekarang apa kekasih wanita ini sudah tiada dan ia tetap setia menunggunya walau tidak akan datang? Sungguh setia wanita ini tidak seperti kekasihku setelah puas mempermainkanku lantas ia pergi begitu saja dan hanya meninggalkan luka yang membuatku terjatuh.

“Pergi saja kamu dari sini kekasihku sudah datang.” ia kembali bicara tanpa terlebih dahulu menunggu jawabanku.

Otakku memang sudah bingung tapi dengan keadaan seperti ini aku malah tambah bingung bila aku tidak menjawab pertanyaannya bukan berarti aku tidak peduli padanya malah sekarang ia yang tidak peduli dan berani mengusirku dengan alasan kekasihnya sudah datang padahal tak ada.

Tak ada namun ada. Ada namun tak ada. Ada atau tidak ada tetap ada. Begitu katanya. Berarti maksud dari ucapannya barusan benar bahwa kekasihnya sudah tak ada dan inikah yang di maksud dengan kekasihnya beda dengan orang-orang? Ternyata kekasihnya sudah bukan lagi orang melainkan sesuatu yang telah tak ada―mati.

Aku tidak menjauhinya karena aku ingin menemani dan menggantikan kekasihnya yang tak ada itu.

Ah sungguh setia sekali ia seperti wanita yang aku harapkan walaupun ia berbicara dengan angin seolah-olah sedang berbicara dengan kekasihnya dan tidak menganggapku ada tapi aku tak peduli aku hanya terus mengamati gerak-gerik wanita itu dan ia terus saja berbicara sambil diiringi selingan tawa seperti seorang yang baru melepaskan kerinduan yang telah lama belum tertuntaskan dan aku pun ikut tertawa tanpa tahu kenapa aku harus tertawa.

Namun rasa kesalku pun belum tertuntaskan pada kekasihku dulu sehingga kulampiaskan saja kekesalan itu kepada seorang penjaga taman dengan menjambak rambutnya karena lelaki tua itu bilang padaku untuk menjauhi wanita itu karena ia sudah gila dan sudah lama selalu berbicara sendiri di taman ini.

Akhirnya si penjaga taman itu pun mengatakan dan menganggap bahwa aku juga gila.

Sekarang aku tidak peduli lagi dengan omongan orang-orang mau mengatakan apa yang jelas aku tidak ingin jauh dari wanita yang baru kukenal ini karena kesetiaan cinta pada kekasihnya yang ada namun tak ada itu sehingga telah membuatnya menjadi seperti itu.

Cinta memang gila dan aku pun mulai jatuh cinta dan tergia-gila padanya. Dan kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang gila? Apa memang aku benar-benar gila? Entahlah.

Bandung, Juni 2011


[1] Diambil dari puisi T.H. Ihsan yang berjudul “Sehabis Gerimis” dan puisi itu dibukukan dalam antologi bersama dengan judul buku Nyanyian Anak Negeri: Pustaka Adab, 2011.

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 22 March 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s