[CERPEN] Aurora, Origami Mawar, dan Sebuah Cerita yang Lain

Cerpen: Safik Yahida
Malam. Malam yang gelap. Sehitam bola matamu.

Apa kabarnya kau gadis berkerudung merah muda? Sudah lama aku tak menyapamu. Entah kenapa malam ini aku malah kembali teringat pada bola matamu. Aku merasa matamu bagaikan malam ini. Begitu hening. Sepi. Tak ada lagi bahasa di dalam tatapanmu. Mungkin karena sudah lama kita tak pernah bersua, atau sekadar berjumpa lalu membicarakan apa saja tentang hobimu, aktifitas keseharianmu, bahkan hingga mendengarkan suaramu yang merdu di saat kau menyanyikan lagu kesukaanmu dulu. Harus kuakui, aku langsung jatuh hati pada keindahan suaramu itu, suara yang meluncur dari bibir tipis dengan sedikit olesan lipstik berwarna merah. Dan harus kuakui juga, selain karena suaramu, aku pun jatuh hati pada matamu yang dulu bercahaya bagaikan purnama. Bulat dan tampak bening. Aku melihat tatapanmu seolah memberikan cahaya dalam kegelapan. Namun kini kehidupanku tanpa kehadiranmu menjadi gelap. Cahaya dalam pancaran matamu kian pudar. Hidupku seakan berkarib dengan kegelapan.

Malam ini aku ingin menulis sebuah cerita pendek. Namun aku bingung. Pikiranku dirasuki kebingungan tak berujung. Aku tak tahu harus dengan kalimat seperti apa yang pantas untuk mengawali semua kisah tentangmu, tentang sebuah cerita yang akan aku tuliskan di sini, pada kertas putih kosong yang sengaja kau robek di lembar pertamanya.

Oh, ya… bagaimana bila kalimat pertama pada cerita ini kuawali saja dengan namamu.

Aku langsung menulis!

Aurora, di dalam hati aku selalu menyebutmu dengan nama itu. Aku selalu berharap bila dengan nama itu kau akan menjadi cahaya pertama yang akan menerangi setiap hariku. Tapi ternyata aku salah, sebab dengan nama sapaan itu hatimu malah membeku sedingin salju di kutub utara. Hembusan nafasmu yang selalu melahirkan sebuah suara terdengar begitu menggigil ketika kau pernah melontarkan suatu ucapan dengan intonasi yang bisa membuatku terpuruk pada kegelapan. Apa kau lupa, di suatu malam kau pernah mengatakan bila dirimu lebih memilih untuk tidak dulu dimiliki oleh lelaki manapun, siapapun.

“Kau pun tahu kan, untuk saat ini aku lebih memilih untuk fokus menatap masa depan, supaya aku bisa meraih cita-cita yang belum kesampaian.”

“Ya, aku tahu itu, tapi aku pun tak bisa membohongi diriku sendiri kalau sebenarnya aku ingin memilikimu.” kataku.

“Maap, untuk sekarang ini aku belum bisa menerimamu!” jawabmu dingin.

Setelah mendengar jawabanmu itu, aku merasakan bahwa malam itu adalah malam tergelap yang pernah kulihat, dan entah kenapa suaramu saat itu terdengar begitu bergemuruh tak seindah ketika kau sedang menyanyikan lagu kesukaanmu dulu. Kau tahu, setelah percakapan sederhana itu, aku langsung pulang dengan berjalan gontai di bawah hujan seperti seorang pemabuk berat, atau merasakan bagaimana sakitnya hati seorang pengangguran yang ditolak lamaran pekerjaannya di sebuah perusahaan.

Sesampainya di kotsan, aku langsung menutup pintu kamarku, menguncinya rapat-rapat. Aku malu bila teman sekostan mendapati diriku tengah terpuruk hanya karena seorang perempuan. Sejujurnya aku tidak ingin dipermalukan.

***

Sore hari. Senja begitu sempurna berkarat. Muram seperti mataku.

Aku kembali melanjutkan ceritaku semalam yang belum usai. Sore ini aku melihat burung-burung kuntul tengah terbang ke arah barat. Mereka seolah menembus langit tak berujung. Lalu, entah kenapa sekarang aku malah ingin menjelma menjadi seekor burung. Burung yang terbang dengan bulu-bulu halus di kedua sayapnya. Aku berharap setidaknya dengan semua itu aku bisa terbang menuju hatimu yang tak berbatas.

Hatimu. Entah hatimu terbuat dari apa. Aku tak pernah menceritakan bahwa sebenarnya aku pernah terluka oleh dinginnya hatimu. Apa untungnya itu bagiku. Pastinya kau akan bersikap biasa-biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa. Mungkin hatimu telah tertutup rapat-rapat dan hanya kau saja yang mempunyai kuncinya; cara membuka pintu hatimu itu.

Sudah cukup lama aku memutuskan menyendiri di dalam kamar. Layar komputerku masih menyala dari kemarin malam, dan masih tak ada tanda-tanda akan adanya kehadiran kalimat-kalimat baru untuk lanjutan cerita yang sedang kutulis. Tiba-tiba, diselintas pikiranku, aku mendapatkan sebuah ide cerita yang menurutku menarik untuk kutuliskan.

Kulanjutkan menulils kembali!

Malam. Malam memang waktu terindah untuk memulai perjalanan menuju gerbang kematian. Malam adalah waktu yang cocok untuk meleburkan segala perasaan resah yang sudah dialami seharian. Setelah pengalaman atas percakapan denganmu yang tak bisa kulupakan itu, sekarang aku ingin kembali menjalani hidup dengan langkah baru. Lembaran cerita yang baru. Aku ingin bangkit dari lubang kematian, meski kutahu bahwa untuk bisa melupakanmu sama halnya dengan mengingat orang yang tak pernah kutemui sebelumnya.

Namun tiba-tiba pintu kotsanku ada yang mengetuk. “Siapa gerangan tengah malam begini ada yang berkunjung untuk bertamu?” tanyaku menggerutu dalam hati. Pintu kubuka. Kulihat seorang perempuan datang membawa sekuntum mawar yang terbuat dari kertas di genggamannya. Ia menggenggam origami wawar dengan tangan gemetar.

“Ini untukmu,” kata perempuan itu padaku.

Aku diam memandang perempuan itu. Kuperhatikan wajahnya yang memerah menunduk ke bawah melirik lantai keramik yang basah. Di luar hujan telah membuat sekitaran kotsanku menjadi basah, tanah-tanah digenangi air hujan, seperti membuat kesedihan yang kurasakan semakin berdarah. Aku melihat tanah basah saat itu berubah warna menjadi merah, menjadi sebuah tempat persemayaman terakhir menuju pintu neraka. Neraka, tempat pesakitan yang sedang kurasakan. Mengingatnya aku kembali teringat pada namamu: Aurora. Apa arti hidupku tanpamu. Neraka. Apa arti sebuah pertemuan tanpa kehadiranmu. Neraka. Aku tak tahu siapa lelaki yang akan beruntung menakik-nakik gugusan pohon anggur yang bersemayam dalam tubuh pualammu itu. Kelak kubayangkan, ranjang pengantinmu adalah kuburan bagi hidupku. Neraka bagi kehidupanku.

“Ini origami mawar yang sengaja kubuat untukmu.” perempuan itu menegaskan.

“Kenapa tidak bunga mawar sungguhan saja?”

“Mawar itu merah, merah itu darah, darah itu luka, aku tak ingin melukai perasaanmu.”

Lalu kuterima origami mawar pemberiannya dengan perasaan terluka. Ah, andaikan saja ini bunga mawar yang kuterima darimu, Aurora, mungkin harumnya akan semerbak tak sebusuk bunga bangkai atau amis darah!

***

Malam. Malam kembali temaram. Saat ini aku ingin melupakan tubuhmu yang pualam.

Malam ini aku memutuskan keluar kamar. Sore tadi aku kehabisan akal untuk menuntaskan tulisan ceritaku yang masih belum selesai. Cerita yang aku tulis baru setengahnya. Aku membawa cerita itu keluar kamar yang telah aku print sebelumnya. Baru dua lembar. Aku berniat akan mendiskusikan cerita ini bersama seorang temanku yang memang bisa untuk aku ajak berdiskusi.

Dalam kegelapan malam aku melangkahkan kaki menuju kotsan temanku.

Aku telah tiba di kotsannya. Kotsan yang gelap.

“Ini bukan cerita pendek, kau tidak sedang menulis tapi kau berak. Kau tahu berak, mengeluarkan kotoran. Sampah. Kau hanya mengeluarkan kotoran yang ada dalam pikiranmu.” ucap temanku berdiskusi.

“Sialan!” aku membentak.

“Kau mau marah? Marahlah pada dirimu sendiri, pada pikiranmu yang buntu.” bantahnya sambil merobek kertas berisi cerita yang kubuat.

“Apa yang salah pada ceritaku itu?” tanyaku menyalak.

“Cerita bertemakan roman picisan seperti ini sudah usang. Lihatlah sekitarmu, sebagai seorang penulis cerita kau harus bisa memandang sekitarmu dengan sudut pandang yang lain. Masih banyak hal yang perlu kau tulis. Bukan cerita busuk seperti ini.”

Aku pergi menutup diskusi sambil menggebrak pintu kotsannya dengan tenaga tiga kali lipat yang lebih dari biasanya dan serampangan.

Di jalan, sambil melangkah pulang, aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang salah pada tulisan ceritaku? Apa aku terlalu frontal dengan membuat cerita realis yang sedang kualami? Bila memang tema roman picisan telah usang, kenapa di dunia ini masih banyak orang-orang yang bernasib sama dengan cerita ini? Aku hanya ingin mewakili perasaan mereka yang pernah tersakiti.

Aku tiba di kotsan. Di dalam kotsan aku merenung memikirkan ceritaku. Namun pintu kotsanku kembali ada yang mengetuk. Aku membuka pintu. Kulihat seorang perempuan telah berdiri mematung di balik pintu.

“Izinkanlah aku menjadi orang yang selalu kau tuliskan pada ceritamu.” kata perempuan itu.

“Sekarang aku telah berhenti menulis.”

“Kenapa?”

“Cerita yang kubuat hanya berkisah tentang kesedihan.”

“Aku janji, aku akan membuat tulisanmu selalu menceritakan kebahagiaan.” perempuan itu berbicara sambil memberikan lagi sebuah kertas berbentuk mawar. Origami mawar.

“Tuliskanlah ceritamu pada origami mawar ini,” ucapnya lagi.

“Mawar itu merah, merah itu darah, darah itu luka, aku tak ingin menuliskan cerita tentang luka lagi.” jawabku meniru perkataanya beberapa waktu lalu.

“Kalau begitu, tuliskanlah ceritamu pada tubuhku.”

“Gila! Kau seorang perempuan gila! Pulanglah dan bawa saja tubuhmu yang terluka itu pada orang gila!” aku berteriak memaki-maki, lalu perempuan itu pun pergi dengan sengaja meninggalkan origami mawarnya di depan pintu kotsanku. Aku kemudian masuk kamar.

***

Malam. Malam telah semakin larut, namun aku masih memikirkan ceritaku, masih memandangi origami mawar pemberian perempuan itu. Jika memang sebuah cerita bisa terasa berbeda bila ditulis di atas kertas mawar merah itu, lalu pertanyaannya, selama ini aku telah membuat cerita macam apa? Cerita kesedihan? Menurutku, rasa bahagia tidak hanya ditentukan oleh gerakan bibir yang tertawa, dan perasaan sedih pun tidak ditentukan oleh tumpahan air mata. Semuanya itu tidak mewakili suatu perasaan. Terkadang, bisa saja air mata itulah kebahagiaan yang sejati, sebab aku selalu melihat orang-orang mengungkapkan rasa bahagianya sambil menumpahkan air mata.

Lalu aku kembali menuliskan ceritaku yang belum usai pada selembar kertas putih yang robek. Menulisnya dengan tinta kehidupan. Hitam. Kehidupanku yang hitam. Tapi, aku pun tak bisa menyangkal, mungkin di suatu hari nanti, aku akan mencoba menulis cerita pada kertas berbentuk mawar itu, atau menanti seorang perempuan lain datang membawa selembar kertas baru. Aku pun ingin kembali menulis sebuah cerita yang lain.

Bandung, November 2012

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 22 March 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s