[CERPEN] Mimpi Nostradamus

Cerpen: Safik Yaahida
Pagi itu ia terbangun dari tidur pulasnya dengan nafas terengah-engah. Mimpi yang dialaminya barusan telah membuatnya terbangun lebih awal dari kokok ayam tetangga. Mata perempuan itu kemudian melirik pada sebuah jam yang menempel di dinding kamarnya yang berwarna kuning cerah: masih pukul empat dini hari―ternyata hari masih teramat belia untuk memulai rutinitas hidup. Jarum waktu berdetak mengeluarkan bunyi tik-tok berirama dan merangkak begitu lambat seolah memberi isyarat untuk meneruskan kembali perjalanannya menuju alam mimpi.

Sebenarnya, bukan kali pertama ini saja mimpi itu hadir dalam tidurnya, sudah hampir seminggu ini ia selalu memimpikan hal serupa―didatangi oleh lelaki tua berwajah pucat mirip orang yang telah meninggal, janggutnya pirang panjang, dan ujung janggut itu hampir mencapai pangkal tenggorokannya. Entah seperti apa potongan rambut lelaki tua itu, sebab selalu ditutupi oleh topi yang biasa dipakai seorang pelukis. Dari bibir busuknya tercium hembusan aroma wine dan lelaki tua itu selalu datang hanya sekejap saja untuk memberikan kabar tentang akan datangnya suatu kehamilan yang di luar nalar―meski di dalam mimpinya, ia selalu mendengarkan ucapan lelaki tua itu masuk melalui kuping kanan dan dikeluarkan lagi melalui kuping kirinya.

Lalu ia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk. Memejamkan mata sayunya untuk menuntaskan tidurnya yang sempat terganggu, dan lagi-lagi dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh lelaki tua itu.

“Ketahuilah, tanggal 21 Desember tahun ini kau akan melahirkan seorang anak manusia yang akan membawa perubahan pada dunia ini.” ucap lelaki tua itu.

“Jangan bercanda Pak Tua, sekarang ini bulan November dan aku masih perawan, aku pun belum menikah! Bagaimana mungkin aku akan melahirkan seorang bayi dalam kandungan selama sebulan!” bentak perempuan itu dalam mimpinya.

“Apa kau tak tahu siapa aku?” tanya lelaki tua itu, “Aku sudah lama meramalkan bahwa kejadian ini akan pasti terjadi jauh sebelum kau dilahirkan.” lelaki tua itu menegaskan.

“Apa peduliku siapa dirimu sebenarnya, yang aku tahu kau hanyalah seorang lelaki tua bau tanah pengganggu tidurku saja!”

Kemudian setelah itu, lelaki tua itu pun menghilang meninggalkan asap tebal membentuk tubuhnya yang telah lenyap, dan meninggalkan gema suara tawa terbahak-bahak yang terdengar begitu memekakan gendang telinga perempuan itu. Dan lagi-lagi ia kembali terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah.

***

Mimpi aneh itu lagi. Apa maksud dan makna dari mimpi itu? Perempuan itu lantas membayangkan, apa jadinya bila mimpi buruknya barusan bakalan menjadi kenyataan. Tak mungkin. Di dunia ini sungguh mustahil ada orang bisa melahirkan seorang bayi yang masih berumur satu bulan di dalam kandungan. Ia pun kembali membayangkan, apa mungkin suatu rahim perempuan tanpa setetes benih seorang lelaki akan melahirkan seorang bayi manusia? Itu pun sungguh tak mungkin. Bila ada pun, itu hanya Mariam saja yang melahirkan Isa si juru selamat bagi kaum Yahudi terdahulu.

Perempuan itu bukanlah Mariam yang disayang Tuhan. Ia hanyalah seorang perempuan tak laku dinikahi oleh lelaki manapun. Apalagi wajahnya memang tak secantik perempuan kebanyakan. Bisa dibilang, wajahnya sedikit tak sedap dipandang karena memiliki tompel besar di pipi kirinya. Mata sebelah kanannya pun juling. Mana mau ada lelaki yang datang berkunjung ke hatinya. Bila ada pun, lelaki itu pasti sama buruknya seperti dirinya, atau setidaknya sama-sama bermata juling. Kini usianya telah menginjak empat puluh tahun, tapi hidupnya masih sebatang kara tanpa seorang suami dan tak ada tanda-tanda akan mendapatkan silsilah keturunan. Namun ia sekarang seperti tengah mengandung, kata lelaki tua dalam mimpinya pun sebulan lagi ia akan melahirkan. Kalau memang benar ucapan lelaki tua itu kalau ia akan melahirkan, lalu pertanyaannya siapa yang akan berkenan menjadi ayah untuk anaknya itu? Suatu kebenaran mutlak bahwa ia tak ingin melahirkan seorang bayi yang diagngap anak haram oleh orang-orang. Nasib itulah yang membuatnya berpikir bahwa Tuhan tidak pernah sayang padanya. Ia selalu merasa terkucilkan di dunia.

“Dimana letak keadilan Tuhan?” ia lantas bertanya dalam hati. Sambil melamun di atas kasur empuk setelah bangun tidur, ia pun berandai-andai: andaikan saja dirinya dianugrahkan oleh Tuhan memiliki nasib yang sama seperti Mariam yang mempunyai keturunan seorang pembawa perubahan dunia, alangkah senang tak kepalang hatinya karena dengan semua itu untuk pertama kalinya ia merasa mendapatkan kasih sayang dan keadilan dari Tuhan. Perempuan itu lalu berpikir dalam-dalam seperti halnya seorang filsuf, apa mungkin maksud dari ucapan lelaki tua dalam mimpinya itu ia akan melahirkan seorang bayi yang nantinya akan menjadi juru selamat bagi kaum sekarang ini? Tolol. Tak mungin akan ada lagi Nabi yang akan terlahir ke dunia ini, meski sekarang dunia sedang kacau-balau oleh kabar mengejutkan bahwa akan terjadinya sebuah kiamat di tahun 2012.

“Orang-orang tolol. Hanya orang tolol saja yang percaya bahwa hari kiamat bisa diramalkan.” bisik hati perempuan itu. “Aku pun tak ingin berandai-andai, hal itu sama saja dengan tak pernah mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.”

Tanpa ia sadari hari sudah beranjak berganti siang. Terik matahari menyorot menyelinap masuk melewati gorden kamarnya yang berwarna gelap. Ia pun lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Ia tak ingin hari ini terlambat lagi bekerja gara-gara berlama-lama memikirkan sebuah mimpi yang tak ada artinya.

Di kamar mandi, sambil membasuh tubuh telanjangnya yang berlumuaran busahan sabun, ia memandang perutnya yang kini telah berubah menjadi sedikit membuncit di hadapan cermin. Seketika itu ia terkaget bukan main. Ia merasakan bahwa di dalam perutnya ada sesuatu yang menendang-nendang dengan kaki yang kecil, seperti ada bayi kecil yang bersemayam dalam tubuhnya. “Astaga!” teriaknya sambil melotot dan buru-buru mengakhiri mandinya.

***

“Apa kau percaya tahun ini akan terjadi kiamat?” tanya rekan kerjanya ketika ia telah sampai di tempat kerjanya.

“Kenapa bisa terjadi kiamat?” ia balik bertanya.

“Apa kau tak tahu bila semua peramal di penjuru ini dunia telah meramalkan bahwa kiamat akan terjadi tanggal 21 Desember tahun 2012?”

“Kau saja yang bodoh termakan omongan seorang peramal. Kau tahu ‘kan peramal itu sebenarnya hanya berbicara mengenai apa yang ingin kita dengar saja. Aku selalu percaya kalau tahun ini tak akan terjadi hari kiamat, hanya berakhirnya kalender suku maya saja yang bertepatan dengan tanggal 21 Desember ini.” perempuan itu membantah.

“Tapi aku percaya, tak ada salahnya ‘kan bila mulai sekarang kita harus bertaubat supaya di akhirat nanti bisa masuk surga.”

“Tapi orang yang percaya pada orang-orang yang menentang rahasia Tuhan tak bakalan masuk surga.”

“Bedebah kau!”

21 Desember? Ah, lagi-lagi ia kembali teringat pada mimpinya semalam. Lelaki tua itu selalu berkata bahwa ia akan melahirkan seorang bayi pada tanggal 21 Desember. Lalu ia mengusap perutnya yang terasa sakit karena terkena tendangan oleh kaki-kaki kecil, ah sial, tanpa ia sadari ternyata perutnya telah membuncit lebih cepat dari yang ia duga sebelumnya. Ia kini seperti tengah mengandung empat bulan.

Lalu ia duduk di meja kerjanya. Menyalakan komputer. Berselancar di dunia internet untuk mencari tentang seluk beluk dunia ramalan. Di dalam pikirannya saat ini ia seolah telah diajak untuk mau tidak mau harus mempercayai kebenaran ramalan lelaki tua dalam mimpinya itu sebab kenyataannya ia merasakan dirinya tengah mengandung.

Kemudian ia menemukan sebuah nama peramal termasyhur yang pernah ada di dunia: Nostradamus, seorang warga Prancis yang hidup pada abad ke-14. Semasa hidupnya, peramal itu telah meramalkan tentang kematian Jhon F. Kennedy, Lady Diana, serangan bom Hirosima dan Nagasaki tahun 1945, bahkan kejadian serangan 11 September yang mencengangkan pun ia telah meramalkannya di masa hidupnya: pada abad ke 14 itu. Dan hebatnya, semua ramalannya selalu tepat.

“Siapa Nostradamus itu?” tanyanya penasaran pada diri sendiri.

Kemudian ia pun kembali mencari lagi info tentang orang itu, lalu mencari gambar wajah orang itu di internet. Ia mulai penasaran dengan keakuratan ramalan peramal itu. Setelah ia melihat wajahnya, ternyata wajah peramal itu pias, berjanggut pirang panjang, serta memakai topi yang biasa dipakai seorang pelukis. Ia lalu mengingat-ngingat wajah itu. Sepertinya wajah yang ia lihat di layar komputernya sudah tak asing lagi baginya. Ia seperti mengenal wajah itu. Dan akhirnya ia hampir jatuh pingsan melawan kaget yang tak tertahankan. Ternyata wajah itu adalah wajah seorang lelaki tua yang selalu hadir dalam mimpinya beberapa malam kebelakang.

Tuntaslah sudah pertanyaannya selama ini tentang mimpi dikunjungi lelaki tua itu. Ternyata ia seorang peramal hebat yang tak pernah keliru mengenai ramalannya―memprediksi hal di masa depan. Dengan perasaan yang sangat gusar, ia pun kembali melihat perutnya yang semakin lama semakin berkembang membuncit. Di dalam hatinya timbul rasa keinginan untuk menusukan sebuah pisau ke arah perutnya itu.

“Aku ingin bunuh diri….” teriak perempuan itu, suaranya menggema mengagetkan semua teman-temannya yang sedang bekerja. Mereka hanya tertawa.

Sudah ia putuskan, setelah ia beres bekerja, ia akan merobek perutnya sendiri dengan sebuah pisau tajam. Tapi kenapa musti menunggu lama-lama segala, kenapa musti menunggu dulu selesai bekerja, bila memang ia akan bunuh diri, berarti ia akan mati, dan orang yang telah mati sudah tak butuh lagi sebuah pekerjaan. Maka ia langsung menggebrak meja kerjanya dan berlari dari tempat kerjanya itu. Semua teman-temannya hanya tertawa sambil memandang dirinya yang berlari.

***

Ia memandang perutnya sambil mengeluarkan air mata. Keyakinannya tentang hari kiamat tidak akan terjadi di tahun 2012 ini kini mulai luntur. Ia sekarang telah meyakini bahwa kiamat memang akan terjadi di tahun ini. Ia harus bunuh diri. Bunuh diri sama saja dengan mati. Tidak bunuh diri pun ia akan mati karena kiamat bakalan terjadi sebentar lagi.

“21 Desember ini kau akan melahirkan seorang anak yang akan membawa perbuahan pada dunia.” selalu ucapan lelaki tua itu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Apa maksud dari ucapan peramal tua itu? Apa dirinya akan melahirkan Isa seperti halnya Mariam untuk melawan dajal bermata satu? Ia tak tahu. Ia lalu merenungi nasibnya yang teramat buruk yang telah diberikan oleh Tuhan. Setelah selesai merenung, ia merasa telah mendapatkan suatu pencerahan. Bila memang ia akan melahirkan Isa untuk melawan dajal, berarti kiamat akan terjadi tahun ini. Tapi bila ia mencegah Isa terlahir kembali ke dunia ini, berarti kiamat telah ia tunda dulu untuk sementara waktu karena ia gagal melahirkan orang yang akan membawa kedamaian di hari kiamat.

Akan tetapi bukankah sudah tertulis di kitab suci bahwa Isa akan turun dari langit, bukan dari rahim seorang perempuan seperti dirinya? Ia pun sebenarnya mengetahui hal itu. Tapi ia tak mau ambil pusing. Tak mau ambil resiko takut kalau dunia akan kiamat di tahun 2012. Maka keputusannya untuk bunuh diri sudah bulat. Ia akan menggagalkan bayi dalam kandungannya terlahir.

Ia lalu merencanakan upaya bunuh diri yang tak terlalu menyakitkan. Meloncat dari ketinggian sepertinya kematian termudah untuk dilakukan. Ia kemudian pergi ke gedung tertinggi yang ada di kotanya. Sesampainya di sana, ia kembali berpikir: seandainya ia jatuh dari ketinggian gedung berlantai lima, tapi ia belum mati juga, pastinya ia akan repot karena kakinya bakalan pincang atau bahkan bisa saja diamputasi. Itu berarti nasib hidupnya bakalan lebih buruk dari kehidupannya sekarang. Rencananya bunuh diri di tempat itu pun urung.

Lalu keningnya kembali mengkerut, memikirkan kembali cara bunuh diri yang paling praktis. “Oh ya, bagaimana bila gantung diri saja di pohon belakang rumah,” katanya. Ia lalu balik lagi ke rumahnya. Di waktu perjalanan tadi ia sengaja membeli tali tambang untuk dililitkan pada lehernya. Setelah ia siap menggantung dirinya sendiri, ternyata dahan pohon itu patah tak sanggup menahan berat badannya.

“Sialan!’ ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

“Ingin bunuh diri saja susahnya minta ampun!” katanya mengutuk ke arah langit. “Apa aku harus kembali ke rencana awal, merobek perutku sendiri. Tapi sepertinya akan terasa sangat sakit. Aku benci bila melihat darah tumpah!”

Ia kembali membuka layar komputer di rumahnya. Kembali berselancar di dunia internet: mencari info tentang cara bunuh diri yang cepat. Namun sayang, yang ia dapatkan hanyalah sebuah kata nihil.

Hari itu pun berganti menjadi malam. Malamnya, di dalam kegelapan kamar, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk setelah seharian gagal mencoba melakukan upaya bunuh diri. Ia sekarang merasa ketakutan bila harus kembali tertidur, atau bila harus dikatakan, yang sebenarnya ditakutinya adalah trauma untuk mempimpikan lagi peramal tua itu. “Andai saja aku tadi berhasil bunuh diri, mungkin sekarang aku telah tertidur selamanya tanpa harus memimpikan lelaki tua itu lagi.” katanya.

Maka untuk menghilangkan rasa kantuknya, perempuan itu pun kembali menyalakan komputer. Kembali mencari informasi tentang Nostradamus. Ia membaca ramalan-ramalan Nostradamus dengan sangat teliti, dan di ujung tulisan yang ia baca, ternyata peramal itu mengatakan bahwa ia hanya bisa meramal masa depan sampai tahun 3979 saja. Itu artinya, peramal itu telah mengetahui masa depan di tahun 2012, 2013, 2014, hingga tahun 3000 atau tahun 3900, berarti kiamat tak akan terjadi di tahun 2012 sebab di tahun selanjutnya masih ada kehidupan yang telah diramal oleh Nostradamus.

Perempuan itu pun akhirnya tersenyum. Tak perlu repot-repot bunuh diri untuk mencegah terjadinya hari kiamat. Sambil tersenyum ia lalu mengusap perutnya yang kian membuncit. Di dalam hatinya kini timbul suatu pertanyaan. “Siapakah bayi yang sedang ia kandung sekarang?” bisiknya dalam hati. Kemudia ia pun merenung: Mungkin saja itu suatu anugerah dari Tuhan karena ia menginginkan bernasib sama seperti Mariam. Ia pun lalu tertidur dengan damai.

Bandung, November-Desember 2012

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 26 February 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s