[CERPEN] Catatan Seorang Perempuan yang Menunggu Lelakinya Datang

Cerpen: Safik Yahida

Dear diary…

Hari ini aku senang sekali, seorang lelaki yang sedari dulu aku cintai secara diam-diam itu, ternyata akan mengajakku bertemu, atau lebih tepatnya semacam kencan pertama. Ia mengatakan, bahwa besok jam delapan malam akan mengajakku makan malam di sebuah café yang lokasinya tepat berada di jantung kota. Café berlantai dua tingkat dan bila seseorang duduk di sana akan tampak jelas terlihat lampu-lampu jalanan yang bisa membuat suasana menjadi lebih romantis. Mungkin besok kami akan makan malam dengan memesan hidangan yang sulit untuk aku lupakan. Stik kentang saus tomat dan orange juice sepertinya akan menjadi hidangan yang cocok untuk mengawali sebuah kencan pertama nanti. Ah, aku tak sabar menunggu besok malam tiba. Semoga menyenangkan.

***

/I/

Malam. Malam tanggal pertengahan bulan. Rembulan telah matang menggantung di langit berbintang. Gigil angin berkesiur menembus setiap inci serat kulitku. Aku masih duduk pada salah satu puluhan kursi yang tersedia di café ini. Aku sengaja memesan kursi pojok kanan di lantai dua bersebelahan dengan jendea terbuka, di sini ruangannya memang begitu pengap dan tampak tak berkelas. Ada banyak meja-meja kayu berwarna coklat kusam tersusun rapih dan telah terisi penuh oleh pasangan kekasih yang tengah bercakap entah membicarakan persoalan apa, aku tak berniat menguping. Di ruangan pengap inilah, sudah hampir setengah jam lebih aku menunggu seorang lelaki yang tak kunjung datang. Telah berkali-kali aku meneleponnya, namun tak pernah sekalipun diangkat. Berpuluh-puluh kali aku mengirimkan pesan singkat melalui ponsel, tapi tak satu pun kuterima sebuah balasan. Sedang dimanakah lelaki itu sekarang? Aku tak tahu!

Aku mulai dihinggapi perasaan gelisah. Olesan lipstik di bibirku mulai sedikit luntur akibat keseringan meminum air putih karena terlalu lama menunggu bercampur dengan buncahan rasa marah. Apakah malam ini ia telah membatalkan pertemuan secara sepihak dan tak memberikan kabar terlebih dahulu padaku? Sialan! Sia-sia sore tadi aku menguras waktu berjam-jam lamanya sekadar memilih gaun busana yang cocok untuk aku kenakan pada malam ini, atau menghabiskan waktu berdandan hanya untuk sebuah acara pertemuan menyebalkan seperti ini.

“Mau pesan apa Mbak?” tiba-tiba salah seorang pelayan perempuan menyodorkan sebuah daftar menu. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke mejaku menawarkan menu yang disediakan di café ini. Dan dari balik sorot tatapannya itu, sepertinya ia menanam perasaan kesal padaku.

“Nanti saja dulu jangan sekarang. Aku masih menunggu seseorang yang akan datang.” jawabku mengelak sedikit malu, “Kalau boleh, ambilkan saja untukku segelas air putih lagi,” lanjutku kembali dengan rona wajah yang lebih merah dari biasanya.

“Mohon tunggu sebentar.” jawabnya sedikit ketus.

Pesanan datang. Entah gelas keberapa air yang kuteguk ini. Rasanya hambar seperti suasana mejaku sekarang. Aku membayangkan, pasti perasaan aneh seperti ini akan terasa berbeda bila lelaki yang kutunggu itu datang dengan membawa sebuah senyuman di bibirnya. Orang-orang di sekitarku mulai menatapku seperti melecehkan. Aku seolah menjadi orang asing yang dilucuti dan dipermalukan. Aku merasa mereka telah menganggapku seorang perempuan tolol karena telah dikhianati oleh janji busuk seorang lelaki. Tak terasa, waktu di jam tanganku telah menunjukan pukul sembilan malam. Ternyata kini lelaki yang tengah kutunggu kedatangannya itu telah membuat hatiku berharap cemas selama satu jam tepat. Berarti ia telah melakukan suatu kesalahan besar dengan membiarkan aku teronggok sendirian seperti potongan bangkai yang dipatuk paruh runcing burung-burung nazar. Hatiku panas. Ingin sekali aku meludahi wajahnya yang berbentuk tirus itu, sebab kurasa bahwa menunggu adalah suatu hal paling menyebalkan di dunia ini.

Andaikan saja sekarang ia datang secara tak terduga, pastinya aku bakalan memaapkan kesalahannya itu dengan perasaan sangat rumit. Mungkin sebuah keterlambatan bisa meluluhkan suasana pertemuan yang menyebalkan, ketimbang tidak datang sama sekali tanpa kabar yang jelas. Ah, akan tetapi, mengharapkan suatu hal yang tak jelas pun sama menyebalkannya. Ia memang tak jelas apakah bakalan datang atau tidak. Dan mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk aku beranjak meninggalkan suasana café menyebalkan ini. Tapi, tiba-tiba seorang lelaki berkemaja biru motif kotak-kotak datang ke mejaku, dan duduk berhadapan saling menatap denganku.

“Apakah aku boleh duduk di sini?” tanya lelaki itu. “Perkenalkan, namaku Ardi.” lanjutnya sambil menyodorkan telapak tangan mengajak bersalaman ke arahku. Ah, rupanya ia memiliki nama yang sama dengan nama seorang lelaki yang sedang kutunggu. Wajahnya pun hampir mirip. Apa mungkin mereka berdua saudara kembar? Tak mungkin, ia tak pernah menceritakan bila ia pernah memiliki saudara kembar. Kebetulan yang sangat luar biasa. Tidak. Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, sebab dalam kehidupan semuanya telah diatur di dalam sebuah takdir, meski kita pun ditakdirkan untuk mengubah takdir kita masing-masing.“Maap, tapi sekarang sudah saatnya aku untuk pulang.”

“Loh, kenapa buru-buru? Aku dengar tadi katanya kamu sedang menunggu seorang lelaki. Bukankah ia belum datang?”

“Entahlah, mungkin ia tak bakalan datang menemuiku.”

“Bodoh sekali lelaki itu, membiarkan perempuan cantik sepertimu duduk di café ini sendirian.” katanya sambil mengulum senyum.

Entah itu sebuah kalimat pujian atau sebuah hinaan karena ia mungkin telah mengetahui kalau aku termakan janji busuk seorang lelaki, tapi yang jelas aku menyukai cara ungkapannya yang menurutku teramat jujur. Harus kuakui, ia memiliki wajah yang polos, dan aku pun memang berparas cantik. Menurut semua teman-temanku, aku adalah seorang perempuan berpenampilan anggun. Aku memiliki sepasang mata bulat dan bening, belahan bibir merah bagaikan capit kepiting, hidung mancung dan tampak kecil, lalu wajah kuning langsat sewarna buah pisang yang telah matang.

“Kalau aku boleh jujur, aku tak bakalan membiarkanmu duduk sendirian.” katanya lagi.

“Tapi maap, aku tidak terlalu menyukai lelaki yang jujur. Terlihat sangat murahan!” kataku sambil berlalu meninggalkannya.

***

Dear diary…

Malam ini perasaanku tidak seperti hari kemarin. Hari kemarin sangat menyenangkan karena bisa membuat hatiku berbunga-bunga. Tapi apa boleh buat, bunga hati ini kini telah layu, sebab sang kumbang pujaanku tak kunjung datang untuk menghisap sari madu yang tumbuh di dalam bunga yang berbentuk hati ini. Aku tak tahu, apakah ia sengaja membohongiku, atau memang benar-benar lupa soal janji pertemuannya denganku. Tapi yang jelas, ia telah membuat hatiku remuk redam. Aku tak ingin kejadian malam ini terulang kembali di hari berikutnya. Semoga saja.

***

/II/

Jam sebelas malam. Café tempat yang kujanjikan untuk menemui seorang perempuan telah tutup. Jalanan terlihat sepi. Hanya sesekali pengendara jalan yang lewat. Aku tahu, kalau perempuan itu telah pulang meninggalkan café ini sambil menahan perasaan kecewa. Ia mungkin saja mengutukku dengan sebutan seorang lelaki pembohong. Ah, andaikan saja ia mengetahui bahwa tadi aku sempat ditimpa sebuah kecelakaan, mungkin ia akan memaklumi kesalahanku.

Sebelumnya, pada saat jam tujuh malam tadi, sebenarnya aku sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju café ini. Tidak seperti pada malam-malam biasanya, malam ini aku sengaja mengenakan kemeja berwarna biru motif kotak-kotak dan celana jeans hitam panjang. Setidaknya dengan berpenampilan elegan seperti itu, mungkin aku bisa meraih hatinya dan ia akan terperangah memandangku. Aku selalu ingin tampil sempurna di hadapannya.

Penampilanku sudah sempurna. Tapi waktu telah menunjukan kalau aku bakalan terlambat. Aku tak ingin suasana kencan pertamaku dengannya tampak tak sempurna hanya gara-gara sebuah keterlambatan. Tak butuh menunggu waktu lama lagi, langsung kupacu motorku secepat mungkin. Jalanan lengang. Kurasakan ada sebuah getaran dari dalam kantong celanaku. Sepertinya dering ponselku berbunyi. Ternyata dari tadi aku telah mendapatkan berpuluh-puluh kiriman pesan singkat. Ah, itu pesan dari seorang perempuan yang tengah gelisah menanti kedatanganku.

Sedang dimana kau sekarang? Sudah hampir setengah jam lebih aku menunggumu. Kalau memang kau tak bakalan datang, mungkin sebaiknya aku pulang saat ini juga. Begitu isi salah satu pesan singkatnya yang sempat kubaca.

Tanpa memikirkan apa pun, sambil memacu motorku, aku mencoba membalas pesannya itu. Aku tak ingin ia merasa kesal karena terlalu lama menungguku, hanya karena sebuah keterlambatan.

Belum sempat aku mengirimkan balasan atas puluhan pesannya itu, tiba-tiba saja, tanpa sepenglihatanku, dari arah berlawanan, sebuah truk besar sudah berada di dalam jalur jalan yang kugunakan. Aku tak sempat menghindar dan membelokan motorku untuk menghindari tabrakan dengan truk yang salah mengambil jalur. Tapi dari semua yang aku ingat, setelah kecelakaan yang tak bisa terhindarkan itu, aku merasakan ruhku melayang dengan dua buah sayap di belakang punggungku menuju tempat ini. Café yang kini telah tutup ini.

***

Dear diary…

Hari pertama di bulan baru. Hari ini aku baru mendapatkan sebuah kabar buruk tentang kematian Ardi, lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya dua minggu lalu. Aku baru mengetahuinya setelah salah seorang temanku menceritakan semua kejadian naas itu. Dan, aku pun baru tahu jika Ardi bukanlah seorang lelaki pembohong, karena ia mengalami kecelakaan maut ketika sedang menuju café tempatku menunggu. Meski kini aku telah berbeda dunia dengannya, kuharap ia akan setia menunggu kedatanganku kelak.

***

/III/

Aku kembali mendatangi café itu. Di tempat inilah dua minggu lalu aku pernah berkenalan dengan seorang lelaki yang mengaku bernama Ardi, nama yang sama dengan seorang lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya. Wajah keduanya pun hampir mirip. Saat ini, aku ingin kembali menemuinya, bertatap muka langsung dengannya. Lama aku menunggu kedatangan lelaki itu, namun harapanku tampaknya tak akan terkabul. Dan kini aku yakin, bahwa ia adalah jiwa seorang lelaki yang sedang kutunggu waktu itu.

Bandung, November 2012

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 26 February 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s