[CERPEN] Penyamun Anyir

Cerpen: Safik Yahida
Dimuat di okezone.com 29 November 2012

Sepasang mata masih mengawasiku. Begitu nyalang. Tatapannya melirik tajam. Bersurukan laiknya seorang pengintai. Tak pernah terpejam. Tak lengah sepicing pun. Apalagi berpalis muka. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Bak denyar halilintar. Menyorot merah padam. Seperti mengungkapkan amarah. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan, sambil mengerakahi bibirnya sendiri tanda mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan.

Bukan hal aneh bagiku. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Ia bukan seorang mata-mata. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Anak kecil berumur sepuluh tahun, tanpa pernah mengenal bangku pendidikan, pengamen memang cocok untukku. Sedang ia, seorang preman menyambi penjudi. Tapi sialnya, ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. Selalu kalah. Bila uang taruhannya habis, yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. Memalak uang mereka. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Begitulah pekerjaannya.

Sepasang mata itu milik Bang Jali, seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. Perawakannya pendek. Memiliki tanda gores di wajah, mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. Terpapar renyuk. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. Luka rebak itu hasil sabetan parang, kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya, sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. Padahal ia bukan tentara, meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat, membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas.

Di depan warung nasi milik Bi Inah, ia duduk bertinggung menatapku. Sebenarnya, sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Katanya merusak suasana kota, atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas, sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. Di bawah warung itu mengalir air selokan, biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh.

“Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini, maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu.

“Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?”

“Bukan begitu, nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat, tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. Semacam tukar beli.”

Namun nyatanya, hingga sekarang, warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. Alasannya sederhana, bila warung itu dimusnahkan, maka para preman akan melakukan perlawanan. Hingga titik darah penghabisan. Memang, tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. Bukan hanya para preman saja, pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih, mereka selalu memesanan makan disitu.

Hari ini langit cerah. Terik matahari meyorot panas. Di jalan, mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. Menerpa pada mata setiap orang. Dan entah berapa lama ia menatapku. Mungkin sejam lebih. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang, ia datang menghampiriku. Menyunggingkan senyum kecut, “Heh Udin, Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. Ah, pertanyaan yang memuakkan. Pastinya uangku akan dirampas.

“Hari ini aku belum dapat uang Bang,” jawabku.

“Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot..

“Beneran Bang, hari ini sepi.”

Sudah seharian aku mengamen di jalan. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Bukan karena aku malas, melainkan hari ini bukan hari libur. Jalanan tampak sepi. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di stopan lampu merah perempatan jalan dago, tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen, dan aku hanya mengamen pada sebuah mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Bila mendapat banyak uang pun, hasil kerja payahku itu, selalu dirampas olehnya dengan dalih, “Ini daerah kekuasaanku, kalau ingin tetap mengamen disini, uang hasil mengamenmu kita bagi rata.” Padahal, ia tak pernah ikut mengamen, hanya duduk mengawasi kami—maksudku, aku dan pengamen lain. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya.

Ia tetap tidak percaya pada alasanku. Hingga menggeledahi kantong celanaku. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku.

“Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Kalau mau ngamenmu laku, jangan pakai kecrek, pakai alat musik lain seperti gitar, biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas.

Aku hanya diam tertunduk. Bila di pikir-pikir, tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. Ya, selain berjudi, pekerjaannya tak lain seorang pemalak. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. Berotot besar tapi nyali secuil, hanya berani pada anak kecil.

Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri, teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. Tiap hari rokoknya ludes, bukan oleh pembeli, melainkan dipinta paksa si penyamun anyir. Bukan hanya itu saja yang dipintanya, pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir, sekembalinya Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya.

“Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan.

Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju.

Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orang tuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku.

Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan jalan dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak.

Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku.

***

Siang masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah.

Penggusuran… pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang.

“Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya.

“Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur sepuluh tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya?

Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya.

Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu,  si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi.

Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.

Bandung, Desember 2011

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 22 January 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s