[CERPEN] Biola

Cerpen: Safik Yahida
Dimuat di LPM Suaka edisi November 2011 dan Buletin OBRAS edisi Mei 2012

Berkesiur angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Senja yang menguning. Langit pun seperti terbelah. Tiang-tiang kayu berderet. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan.

Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu, menanti waktu besuk tiba, sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa mereka tampak murung disini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh, bertembok putih, dengan bangunan bertingkat dua. Disetiap kamarnya; menganga sebuah jendela terbuka, dan pintu hitam pekat. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Namun, setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras, membuat bunga-bunga menjadi layu.

Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu, tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. Kamar yang bernama ruangan melati. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati.

Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu, sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama.

Biola itu punyaku, namun aku datang bukan untuk membawanya. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan, tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. Namun pastinya, pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu.

Kau pernah bilang, jangan berguru pada masa lalu, biarlah semua menjadi kenangan, hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Tataplah masa depan. Kau pun bilang, janganlah mengukur diri melalui cermin. Seperti sama padahal tak sama. Semuanya serba terbalik. Kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan, baik menjadi buruk. Lihatlah dirimu melalui hatimu. Sesuatu yang kau yakini indah, itulah yang terbaik. Aku pun suka keindahan. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. Itulah dirimu. Biola jendela hatimu. Katamu.

Sungguh, aku tak mengerti. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. Semuanya buyar. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar, kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah, bukan. Tolol. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. Bukan juga seperti angin. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu, suaramu, dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku.

Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Tak terjawab. Gelap. Bagaikan duduk berjam-jam diantara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama.

Ah, aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Kau bilang, bahwa aku orang yang baik, tak mungkin orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu, lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik, dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. Keindahan yang keluar dari hatiku.

“Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur.

“Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit.” jawabku.

“Ya, tapi bila aku mendengarkan suara biolamu, tempat ini tarasa berubah menjadi indah. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. Namun angin itulah yang membawaku melayang.”

Aku hanya tersenyum. Lantas kau pun tersenyum. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. Menurutku, senyuman itulah yang paling indah. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu, tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. Menyimpanmu di hatiku, lalu kau mengukir namamu disitu, dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti.

Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram, setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Ketika reda di sore hari, hanya meninggalkan angin yang liar, menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung.

Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah, terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang, meski aku berharap kau pun merasakannya. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. Apakah perasaan ini tulus dari hati, atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit, sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu.

Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. Diagnosanya mengatakan, bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. Tentu dengan biaya tak sedikit. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal, meski tampak seperti barak pengungsian. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen, karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu.

Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. Bibirku bergetar, rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku, seperti ada yang mengganjal. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. Aku tidak bisa berkata, tak tahu harus bicara apa. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Namun, tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman.

Meski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja, kau bisa membuatku berpikir. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam, dan berhenti pada setasiun terakhir. Semua orang takkan bisa hidup kekal, tapi perasaanku padamu akan tetap abadi.

Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. Dan setiap hari itu pula, aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup.

“Hidup ini penuh misteri, hari ini tentunya berbeda dengan kemarin, besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!”

Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah, lebih baik berdiam di belakang peluru itu, namun tetap menelusuri kemana arahnya, supaya tak pernah menembus jantung. Hidup bukan ramalan.

“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan, mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu.

“Biarlah hidupku berakhir, aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. Mungkin disitu kau sedang menghayal, menggambar bunga layu menjadi mekar.

“Kau jangan berkata seperti itu, masih banyak yang harus kau kerjakan, apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. Lalu kau menjawab, “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini, aku ingin terus mendengarkan suara biolamu  yang indah, sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. Surga!”

Aku lalu menghardik perkataan itu, “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu.

“Aku hanya ingin bilang, lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu, tataplah masa depan,” sambil membalas tatapanku, lalu kau melanjutkan, “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!”

Diam. Aku bengong. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu, menemanimu setiap waktu, memberikan sesuatu yang terbaik padamu. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi, meski waktu itu kau sedang tertidur, sekadar pengantar mimpi indahmu. Ketika kau benar-benar terlelap, aku mengecup keningmu, kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat, sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu.

Sudah dua hari aku tidak menjengukmu, atau menanyakan kondisi kesehatanmu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu, setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah, aku tak tahu. Yang aku tahu sekarang, kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu, ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan supirnya mengantuk.

Tubuhku remuk, ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah, namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti, di tempat yang paling indah. Surga.

Bandung, Agustus 2011

Advertisements

About Safik Yahida

SESEORANG YANG TAK BANYAK BICARA. SEORANG LELAKI KIKUK YANG TAK PUNYA KEAHLIAN APA-APA

Posted on 22 January 2013, in CERPEN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s