[RESENSI] Kisah Perempuan Bernama Arjuna

Oleh: Safik Yahida
Dimuat Di Pikiran Rakyat, Kamis, 20 Februari 2014

perempuan-bernama-arjuna

Data Buku
Judul: Perempuan Bernama Arjuna: Filsafat dalam Fiksi
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Tebal: 276 hlm
Harga: 65.000,00
Cetakan I November 2013
ISBN: 978-602-8395-80-9

Perempuan Bernama Arjuna adalah salah satu buku terbaru sastrawan terkemuka Remy Sylado. Dengan terbitnya buku Perempuan Bernama Arjuna, setidaknya menggembirakan bagi para pembaca fiksi, sebab Remy Sylado adalah seorang penulis serius dan konsisten. Lihat saja, pada novel awal yang ia buat, judulnya Garida pada tahun 1974.

Sebagai pengarang termemuka, Remy Sylado mendapat anugrah Achmad Bakrie untuk bidang kesusastraan pada tahun 2013 dari Fredoom Institute. Tidak salah pula, dari tangannya lahir karya-karya fiksi, pokok-pokok bahasa dan filsafat yang dapat dinikmati siapa saja.

Buku Perempuan Bernama Arjuna karya Remy Sylado ini dicetak tahun 2013 oleh penerbit Nuansa Cendekia, selain buku-buku: 123 Ayat-ayat Tentang Seni (2012), Kamus Isme-Isme (2013), Drama Sejarah 1832 (2012) dan Gali Lobang-Gila Lobang (2013). Uniknya, dari beberapa buku yang terbit itu, Remy Sylado agaknya senang memakai nama yang berbeda; Yapi Tambayong. -READ MORE->

[REVIEW] Hasil Bacaan Atas Buku “The Realist Novel” Dennis Walder

Oleh: Safik Yahida

Ada kesan tersendiri ketika saya berhadapan dengan buku Dennis Walder yang berjudul The Realist Novel. Sesuai dengan judulnya, sang penulis memaparkan beberapa kumpulan tulisan ihwal genre novel-novel realis dunia. Jika ditelaah kembali nyatanya jenis buku ini memang semacam kumpulan kritik terhadap karya-karya besar dunia. Pada kata pengantarnya, Walder menekankan bahwa buku ini merupakan jenis buku kritik sastra yang tidak hanya berkutat dengan teori-teori canggih yang berkembang dari zaman ke zaman. Tapi lebih kepada tataran praktis kritik sastra itu sendiri yang langsung menohok pada keutuhan teks sebagai sebuah objek yang hendak dibedah oleh para apresiator atau para pembacanya.

Pendekatan yang digunakan dalam buku ini terdiri dari pendekatan yang klasik dan yang familiar pada zaman mutakhir ini. Pendekatan tersebut meliputi masalah-masalah elementer ihwal jenis-jenis karya sastra, atau dengan kata lain melingkupi pengklasifikasian genre-genre karya sastra. Genre bisa dilihat dari karakteristik formal dan konteks historis yang menjadi latar belakang terlahirnya suatu karya sastra. Menurut Walder, kritik sastra dalam buku ini lebih menekankan pada dimensi atau unsur historis suatu karya sastra. Pendekatan ini tentu saja merupakan pendekatan yang paling logis untuk dipakai dalam menelaah karya-karya atau novel yang bergenre realis. Pada awal abad ke-19, genre-genre novel realis menjadi begitu booming, terutama pada jenis sastra-sastra inggris. -READ MORE->

[PUISI] 3 Catatan Harian Kuku si Mati

Malam Penghabisan

Aku ingin berlabuh di tubuhmu untuk terakhir kali
Sambil menikmati waktu yang berkarib dengan maut
Malam di selimuti api
Kini terbakar di tubuhku

Malam itu, langit semakin gosong
Terpanggang oleh matangnya rembulan
Saat itulah aku merasakan kehangatan Izrail
Yang berhembus pada nafas terakhir

Seperti angin, kau kerap mengusik bisik mistik
Lalu melelang takdir pada jerit talkin
Yang begitu fasih mengeja maut
Saat malam penghabisan telah kita kekalkan
Dan aku abadi di nadimu

2011

Pembaringan Terakhir

Pada malam penghabisan itu
Aku masih melihatmu
Tertidur abadi dibalut selembar kafan
Maut yang begitu pekat di keningmu;
Seperti mengekalkan ajal pada pembaringan terakhir

Pada malam penghabisan itu pula
Kunang-kunang semakin liar mengudara
Bagai kuku matimu mencakar cahaya
O, langit menjadi semakin berkarat
Kini menjelma pada kerutan tubuhmu

Akan kutahlilkan: Aku di sini, di ruangan ini, masih melafadzkan
Tasbih yang dikirim bersama segumpal awan.

Dengan begitu, gerimis tidak lagi mengalir di mataku
Dan daun-daun yang bergaris keriput
Bukan satu-satunya tempat embun menetes

Lalu burung-burung menjerit dengan kibasan sayapnya
Sepertinya malaikat sedang menunggumu dibalik pintu
Sedang aku yang terus mengingat bayangan hidupmu
Masih bertahlil hingga ritual sakral berakhir

Tubuhmu kini bersandar pada kesetiaan bumi
O, yang dibalut kafan
Ingin ku buka dan mengecup keningmu
Dan merajut kembali rambutmu dengan doa

2011

Sehabis Gerimis

Aku kembali mengingatmu di sisa gerimis
Diantara punggung batu yang mengukir namamu
Disitulah, kenangan kita telah terpahat

Atau pada daun kering bagaikan selembar surat
Yang menuntaskan sebuah jejak ziarah
Aku telah menuliskannya sehabis gerimis
Lalu menjadi abadi di kedua mataku

Aku rindu bersamamu, menyulam ribuan malam dengan tatapan tajam,
namun maut memutuskannya,menjelma sabit membuat matamu terpejam

Untukmu, aku rela bersetubuh bersama angin
Dengan dingin yang ku cicipi nikmatnya sepi
Dan bila kau tak kembali
Aku menjelma doa untuk menemuimu

2011

[PUISI] Setelah Hujan

Aku datang menemuimu menjelma hujan
Mengendap di belantara bulu matamu
O, pipimu yang merah menjadi basah
Lalu mengalir sungai
Dan bermuara ke hatimu

Tampaknya di luar cuaca memberi kabar
Layung terus mendayung mendung
Yang kemudian karam dan berlabuh
Di kedua larung matamu

“Hujan memang pembawa derita,
Buktinya air mataku telah menjadi telaga!” katamu

Kemudian setelah hujan reda
Aku merelakan tubuhku
Menjelma kembali
Di matamu menjadi pelangi

2012

[PUISI] Senggama Hujan

I
Kita tak pernah berharap
Bahwa di taman ini
Kita telah berciuman
Berpelukan
Di bawah hujan

Di kuntum bibirmu itu
Kupahat risalah mawar
Melebihi merahnya darah
Atau daun lidah yang basah

II
Gemuruh nafasmu serupa badai
Berembus dari arah selatan

Tubuhmu tubuh awan
Gigil musim dingin

III
Lihatlah!
Setelah hujan menyiram tubuh
Di bibirmu luka darah tumbuh
Menjalar sepekat subuh
Kemuning langit lalu menyepuh

Tiba-tiba seekor merpati hinggap pada reranting cahaya
Membawa petaka di sela-sela kukunya
Inilah saatnya musim kemarau telah tiba
Petaka di hari ke-23!

IV
Kita pun lalu bergegas
Mengekalkan nama pada gurat cuaca
Saat senggama hujan telah lama usai
Saat aku bertanya: risalah mawar itu kini milik siapa?

2013

[CERPEN] Cerita Tiga Pertanyaan

imagesCerpen: Safik Yahida

“Mama, sebenarnya aku ini anak siapa?” tanya Lukita sambil berteriak.

Kau tahu, pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan paling menyedihkan yang dilontarkan oleh seorang anak manapun. Tapi bagi dirinya, dari dulu pertanyaan itu adalah pertanyaan paling menakutkan yang tak ingin pernah didengarnya. Ia akhirnya mendengar juga pertanyaan yang ditakutinya itu setelah anaknya kini sudah berusia dua puluh tahun. Ia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Lalu air matanya tumpah, mengalir membasahi kedua lesung pipi. Tapi Lukita terus mendesaknya untuk mengucapkan sepatah kata jawaban.

“Kau tak perlu tahu, Nak.” ia berkata sambil terisak.

***

Apakah ia tak akan mendapatkan keturunan? Ya, semenjak dirinya menikah dengan Beni Pavlovich Gurov, seorang lelaki berhidung lancip keturunan Sumatera-Rusia, namun sampai di usia pernikahannya telah menginjak sepuluh tahun, mereka belum dikarunai seorang anak. Ia sudah melakukan berbagai macam cara apapun untuk bisa mendapatkan keturunan, meminum berbagai ramuan penyubur kehamilan, dan memeriksakan diri ke dokter secara medis dan teknis laboratorium, termasuk melalui proses in-vitro. Tapi tetap tidak berhasil. -READ MORE->

[CERPEN] Dering Telepon

60-Pablo-Picasso-1932-Le-Rêve-The-Dream-in-French-130-×-97-cmCerpen: Safik Yahida

Dengan setengah rasa malas, ia membuka pintu kamar, lalu menuruni puluhan anak tangga dan berdiri selama beberapa saat di hadapan telepon ruang utama rumahnya yang berdering. Cuaca sedang buruk. Hujan turun begitu deras dan petir menggelegar mirip hentakan suara di meja-meja billyard. Muka jendela berkabut. Dingin menancap ke seluruh tubuhnya. Akan tetapi, ia harus mengangkat panggilan telepon itu.

Namun hanya berjarak beberapa detik setelah ia mengangkat gagang telepon, panggilan dari telepon itu langsung terputus. Kejadian menyebalkan semacam itu sudah berlangsung puluhan kali semenjak ia bangun tidur. Ia biasa bangun jam delapan pagi, dan hari ini ia harus terbangun satu jam lebih awal dari biasanya karena terganggu oleh suara nyaring sebuah telepon.

Bunyi dering telepon barusan seperti dengung isi kepala. Cuaca buruk di luar sana telah berhasil membuatnya demam dan pening. Di tambah pikirannya memiliki rasa penasaran tentang siapa orang kurang kerjaan yang mempermainkan teleponnya itu. Andaikan saja dirinya masih seorang perempuan muda cantik berambut pirang panjang, berpadu dengan bola mata berwarna biru mirip permukaan danau yang terkena pantulan cahaya di langit, tentu bukan hal aneh bila di rumahnya akan ada banyak lelaki yang meneleponinya seperti dulu. Bahkan, hampir setiap hari mereka mengganggu teleponnya. Namun baru beberapa detik ia mengangkat gagang telepon itu, mereka langsung menutup panggilan tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu. -READ MORE->

[ANALISIS] Telaah Sederhana Atas Cerpen ‘Sayap-sayap Nephilim’ Karya Ridwan Firdaus

Oleh: Safik Yahida

Ketika pertama kali membaca cerpen ‘Sayap-sayap Nephilim’ karya Ridwan Firdaus, entah kenapa judul itu seolah-olah membawa pikiran saya melayang dan tertuju pada sebuah cerita berbau fantasi; atau pada sebuah nama-nama seperti Harry Potter karangan J.K. Rowling, atau pada hobit Bilbo Baggins, atau pada seorang nenek tukang tenung yang terbang menggunakan sapu, atau pada Tinker Bell seorang peri cantik baik hati, atau para manusia-manusia kerdil atau kurcaci dari negeri dongeng yang berbau khayalan hasil rekaan manusia. Namun dugaan saya itu keliru. Ternyata, Nephilim itu adalah makhluk raksasa yang hidup di zaman purbakala hasil percampuran/perkawinan antara manusia dengan malaikat (Fallan Angel), yang termaktub dalam kitab Henokh: judul kitab yang ditulis oleh Henokh/Nabi Idris, yang juga kakek buyut dari Nabi Nuh.

Di dalam kitab itu telah diceritakan mengenai awal mula terciptanya bangsa Nephilim. Yaitu ketika Tuhan telah menciptakan bangsa manusia, ternyata ada sekelompok malaikat yang bertugas mengawasi manusia yang tinggal di bumi—atau lebih dikenal dengan sebutan The Watcher: malaikat yang membangkang kepada Tuhan dan menurut kitab injil disebut-sebut sebagai setan—yang jatuh cinta kepada perempuan cantik dari golongan manusia. Dan mereka menjadikan perempuan-perempuan itu sebagai istri mereka sampai akhirnya beranak-pinak. Lalu setelah itu mereka menghasilkan sebuah keturunan yang bernama Nephilim. -READ MORE->